Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
Firasat Buruk



Mereka masih saling berpelukan, beberapa menit kemudian mereka melepaskan pelukannya..


Tiba-tiba Surya teringat sesuatu. "Ooh Ayah hampir melupakan sesuatu,"


"Ayah mau bikin kejutan lagi? Ooh Ayah sudahlah kita segini aja udah seneng, ya kan kak, Bunda? Ucap Tammy


" Iya Yah bener." Satria.


Degg!!


Tiba-tiba perasaan Clara tidak enak,, "Astaga, perasaan ku kembali tidak enak seperti yang tadi, ada apa ya ini sebenarnya, semoga saja bukan pertanda buruk." Batinnya..


"Bukan hadiah tapi seseorang.... " Ucapan Surya terpotong oleh Tammy.


Tammy memotong "Hah Ayah bawa orang? Siapa yah? Oma kan? Atau Opa?"


"Dek bisa diem tidak, Ayah kan belum selesai bicara main potong aja." Ucap Satria jengah karena dari tadi adeknya itu bicara tak diam-diam. Tammy yang mendengar ucapan kakaknya hanya cengengesan.


"Ayah mau kenalin seseorang ke kalian, Ayah ketemu dia waktu di jalan pulang karena tadi di hadang sama preman, terus Ayah tolongin dan Ayah bawa kesini katanya sih bisa bantu bantu di rumah ini." Ucap Surya menjelaskan, dan hanya dibalas anggukan oleh kedua anaknya sementara Claudia hanya diam karena ia sudah tau..


Lalu Surya memanggilnya, "Tasya, Shela, kalian masuklah."


Ketika Surya memanggil namanya jantung Clara semakin berdebar kencang, perasaan tidak enak semakin menjadi-jadi, apalagi terdengar jelas suara kaki mendekat ke arah pintu masuk.


Ketika sampai di tepat pintu masuk terlihat jelas seorang wanita yang berusia seumuran dengannya sedang menggandeng tangan seorang gadis kecil seumuran dengan Tammy, putrinya.. Wanita dan seorang gadis kecil itu berjalan semakin mendekat ke arah ruang tamu..


Hening


Surya membuka suara, "Nah ini orangnya yang Ayah maksud, oh ya Tasya ini kenalin istri saya Clara, dan itu anak saya Satria sama Tammy." Surya menunjuk istri dan anaknya satu-satu..


Tasya mengulurkan tangan ke arah Clara, "Saya Tasya, Nyonya."


Clara menatap suaminya, Surya yang ditatap mengangguk dan Clara pun mengerti, dan membalas uluran tangan Tasya, "Iya, saya Clara."


"Oh ya ini kenalin, Shela anak saya," Ucap Tasya memperkenalkan anaknya..


Clara menganggukkan kepala paham, "Kalau ini anakku, Claudia, Tammy, dan Satria," Ucapnya sambil menunjuk ketiga putra dan putrinya..


Tammy mengulurkan tangannya pelan ke arah Shela, "Hayy Tammy."


Shela membalas seraya tersenyum, "Hayy, aku Shela."


Bergantian dengan Satria, Satria mengulurkan tangannya "Satria."


Shela membalas, "Shela kak,"


Surya yang melihat interaksi mereka pun tersenyum, "Nah kalian bisa menjadi teman."


Dibalas anggukkan oleh ketiganya.


Surya melihat Tasya, "Oh ya Tasya, kamu bisa bekerja dan tinggal di sini sebagai pembantu, setiap bulan kamu saya gaji, gimana mau tidak? Tanya Surya..


" What? Pembantu? tapi tak palah jalani aja dulu, sebentar lagi juga aku aakan merebut dan mengganti posisimu Clara nunggu waktu yang tepat aja, harus sabarr." Batinnya menatap Clara sinis..


Surya melihat Tasya melamun pun bertanya sekali lagi, "gimana Tasya apa kau nau? "


Tasya menganggukkan kepala dan menjawab, "Baiklah Tuan saya mau."


Clara yang sedari tadi diam merasakan kembali perasaan tidak enak di hatinya hanya bisa berdo'a membatin, "Ya Tuhan sebenarnya apa yang akan terjadi, kenapa perasaan ku seperti ini, apapun itu tolong lindungilah keluarga hamba ya Tuhan."


🌹🌹🌹


Clara dari tadi ia tak bisa tidur, entah apa yang ia fikirkan kali ini hingga membuatnya tak bisa tertidur padahal ini udah jam tengah malam. Ia turun dari lantai dua, kemudian memutuskan untuk pergi ke taman belakang..


Clara duduk di kursi panjang yang ada di situ, ia memejamkan matanya merasakan hembusan angin malam berharap angin itu seolah bisa menenangkan fikiran nya. Saat sedang memejamkan matanya ada sebuah tangan menepuk pundaknya..


Clara mengerjapkan matanya lalu menoleh siapa yang menepuk pundaknya itu, "Eehh Sayang, kenapa ada di sini. Kamu belum tidur?" Tanya Clara kepada putrinya.


Ya itu adalah putrinya, Claudia. Kemudian ia menyuruh Claudia untuk duduk di sampingnya, lalu Claudia pun duduk di samping Clara..


"Seharusnya Claudia yang tanya Bund, kenapa Bunda ada di sini ini udah malem, nanti bunda sakit, angin malam nggak baik buat Bunda," Ucap Claudia..


Clara terdiam, "Bunda lagi banyak fikiran ya, ada apa? Cerita sama Claudia,"


"Akhir-akhir ini perasaan Bunda tak enak, apalagi saat kedatangan Tasya dan anaknya kemarin, itu membuat Bunda gelisah," Ucapnya lirih.


"Bunda jangan mikir yang macam-macam," Ucap Tammy.


"Tidak, Bunda juga tidak mau memikirkan itu, tapi pikiran itu muncul dan mengganggu Bunda kapan saja."


"Yaaa, Claudia juga merasakan apa yang Bunda rasakan. Dan Claudia merasakannya sejak tadi pagi saat Claudia dan ayah nolongin Aunty Tasya dan Shela, Claudia juga ragu untuk membawa mereka ke rumah ini. Tapi Ayah selalu meyakinkan Claudia." Ucap Claudia..


"Hemmm semoga perasaan itu tidak menjadi kenyataan sayang," Ucapnya pada putrinya.


"Iya Bunda, semoga saja."


"Putriku yang harus kau ingat, kau harus percaya kepada saudara-saudaramu, jangan menghianati kepercayaan mereka. Bunda tau bagaimana rasanya kepercayaan, kesetiaan, kasih sayang yang tulus yang kita berikan kepada orang yang kita sayang dihianati. Rasanya sakit."


Claudia terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Bundanya itu. Clara merangkul pundak Claudia, "Dalam sebuah keluarga, kepercayaan, kesetiaan, saling menyayangi itu akan membuat kita tetap bersatu, walaupun banyak masalah yang mengguncang."


"Claudia, kamu yang paling berfikiran dewasa di antara kedua adikmu. Jaga mereka baik-baik, terutama Tammy, dia belum paham dengan dunia luar. Dia belum mengerti apa-apa. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah kasih sayang."


Claudia mengangguk paham, "Iya Claudia mengerti. Claudia sangat menyayangi mereka."


"Bagus, Bunda bangga padamu," Ucap Clara sambil memeluk putrinya, dan Claudia membalasnya..


Memang kalau soal saling berbagi cerita, Clara lebih suka bercerita dengan Claudia. Tapi kalau soal kedekatan, maka Clara lebih dekat dengan Tammy dan. Walaupun begitu Clara tetap sangat menyayangi putra dan putrinya dan tidak pernah membeda-bedakan ketiga anaknya..


Claudia yang bercita-cita ingin berkarir di dunia entertainment, selalu sibuk dengan acaranya, tapi walau begitu ia bisa membagi waktu, kapan untuk keluarga dan kapan untuk karirnya dan urusan pribadinya. Sementara Satria ia lebih dekat dengan ayahnya. Dan hanya Tammy lah yang selalu tidak sibuk dan hanya duduk diam di rumah bersama Clara, Tammy sekolah hanya homeschooling, ia tak dibolehkan untuk sekolah di luar ataupun main di luar. Entah apa alasannya Tammy pun tak tau..


"Udah ya Bunda sekarang kekamar dan tidur aja, ini udah tengah malam, Claudia kekamar Tammy dulu, udah terlalu lama Claudia ninggalin Tammy yang terlelap takut Tammy kebangun," Ucapnya lalu berdiri, sebelum Claudia pergi ia mengecup pipi Bunda nya terlebih dahulu..


Clara mengangguk. Ia menatap kepergian putrinya yang mulai masuk pintu rumah. Dan ia pun segera masuk..


...Bersambung...


🌺🌺🌺


Jangan lupa buat:


🌹 Like


🌹 Vote


🌹 Tambah favorit


🌹 Komen


Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏