Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
Pelaku Kecelakaan



Chika turun dari mobil mewahnya ketika mobilnya telah terparkir rapi di area parkiran sebuah Tempat pemakaman umum. Berpakaian serba hitam dengan mengenakan masker dan kacamata hitamnya. Dirinya melangkahkan kakinya menuju sebuah toko bunga yang berada di dekat TPU itu.


Setelah membeli sebuket bunga mawar putih, Chika masuk ke TPU itu. Sampai langkahnya terhenti di sebuah gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan 'Clara Dita Andhara'.


Chika melepaskan kacamata hitamnya lalu berjongkok dan tangannya bergerak untuk mengusap batu nisan Bundanya.


"Bunda aku datang. Aku rindu Bunda, apa Bunda rindu padaku?. Gimana kabar Bunda disana? Semoga Bunda tenang di sana. Bunda tidak usah kawatir dengan keadaan ku di sini. Aku disini baik-baik saja. Aku juga bahagia karena masih ada orang yang menyayangiku dan selalu ada buat aku dalam susah maupun senang."


"Aku juga minta maaf karena tidak bisa menja Kak Claudia. Gara-gara aku Kak Claudia hilang entah kemana. Seandainya waktu itu Kakak tidak ikut denganku, mungkin kejadian itu tidak terjadi. Tapi aku senang dan bersyukur karena Kakak perempuan satu-satunya mempercayaiku. Aku janji akan terus mencari Kak Claudia sampai ketemu. Aku yakin bahwa Kak Claudia masih hidup." Chika bercerita dengan mata berkaca-kaca.


"Bunda juga do'ain aku ya. Semoga aku cepat menemukannya. Dan juga aku akan membalas mereka yang sudah menghancurkan keluarga kita. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang."


Dari kejauhan terlihat seorang pemuda sedang mengamati setiap apa yang dilakukan oleh Chika. Dan Chika menyadari itu, tapi ia membiarkan nya.


Chika meletakkan sebuket bunga mawar putih di atas makan bundanya. "Aku pamit Bunda. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Tapi aku akan sering-sering ke sini.


Chika berdiri dari jongkok nya lalu melangkah keluar menuju parkiran dimana mobilnya berjejer rapi di sana. Setelah sampai di depan mobilnya Chika masuk ke dalam lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan TPU itu.


****


"Queen?" Terdengar suara panggilan dari earphone yang menempel di telinga Chika.


Chika mendengarnya. "Hemm?"


"Saya sudah menemukannya, Queen."


"Good, kau bergerak dengan cepat, Ares." Pujinya. "Where?"


"Is at headquarters, Queen. Disini juga ada Nona Kinan dan lainnya."


Chika langsung melajukan mobilnya ke arah markas begitu mendengar jawaban dari tangan kanannya.


Setelah beberapa menit akhirnya Chika sampai di markasnya. Begitu Chika sampai di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi, gerbang itu terbuka dengan otomatis tanpa ada yang mendorong atau membukanya.


Chika keluar dari mobilnya lalu masuk melewati pintu utama. Begitu sampai dalam semua para mafioso menunduk hormat.


Chika menempelkan jarinya ke pintu ruangannya. Pintu itu hanya bisa dibuka oleh dirinya dan ketiga sahabatnya menggunakan sidik jari. Dan seketika pintu terbuka dengan sendirinya.


Di dalam terlihat ketiga sahabatnya yang sedang duduk di sofa dengan Kinan yang memangku sebuah laptop.


"Chika?"


"Hemm?" Chika juga langsung duduk di sofa itu.


"Ada yang aneh dengan kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu." Ucap Kinan ketika Chika sudah duduk di sebelahnya.


"Apanya?"


"Kecelakaan ini terlihat di sengaja. Ini seperti tabrak lari." Jelas Kinan sambil memutar kembali video CCTV yang memperlihatkan kejadian kecelakaan antara Chika dan kakaknya.


"Lo lihat ini!" Kinan memberikan laptopnya ke Chika.


Dan benar saja, apa yang dikatakan oleh Kinan. Dimana mobil itu melaju kencang tanpa direm ke arah Tammy, setelah menabrak mobil itu berhenti sejenak namun beberapa detik kemudian mobil itu kembali melaju dengan kencang..


"Dan kemungkinan juga, kakak kandung lo terpental jatuh ke sungai itu. Secara kan jalan itu dekat dengan sungai."


Chika mulai berfikir, jari-jari lentiknya dengan lihai menekan tombol keyboard, wajahnya terlihat datar sambil menatap layar laptop. Namun beberapa menit kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai.


"Lo nemuin sesuatu?" Tanya Kinan.


"Ini bukan seperti, tapi kenyataan!" Ucapnya datar.


"Maksud lo kecelakaan itu beneran di sengaja gitu?" Tanya Inggit kaget.


"Siapa pelakunya?" Tanya Melda.


"Tiara dan Shela." Jawab Chika dingin.


"APA!!" Ketiga sabarnya kaget bukan main.


Chika memberikan tatapan tajam kepada para sahabatnya, dan seketika mereka langsung tersadar..


"Eh terus tentang kakak lo?"


"Kemungkinan Kak Claudia jatuh ke sungai dan terbawa arus. Sungai itu mengarah ke hutan. Tapi tidak mungkin kakak gue sampainya ke hutan, karena semakin kesana arus Sungai semakin lambat dan kecil, sungainya bercabang." Chika menjelaskan sesuai apa yang ia selidiki tentang sungai itu barusan.


"Berarti ada kemungkinan dia masih hidup." Tebak Inggit.


"Hemm, semoga." Ucap Chika penuh harap.


"Terus?"


"Simpan CCTV ini. Suatu saat ini akan dibutuhkan."


*****


Sampai di restaurant seafood Chika dkk segera turun dari mobil mmasing-masing. Mereka segera menuju pintu masuk, namun saat akan masuk tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Satria dkk. Dan akhirnya mereka semua masuk bersama.


Setelah menemukan tempat duduk, akhirnya mereka memesan makanannya. Beberapa menit kemudian pesanan datang, dan akhirnya mereka memakannya.


Seperti sudah tidak canggung lagi, mereka makan sambil mengobrol ringan. Saling melempar candaan yang membuat mereka tertawa bersama. Sesekali Chika hanya menurut, menjawab pertanyaan yang para sahabatnya lontarkan dengan singkat.


Jika dulu Chika paling cerewet di antara ketiga sahabatnya, maka sekarang Chika paling pendiam di antara mereka.


Tanpa terasa sudah tiga jam mereka mengobrol sambil makan, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Setibanya di mansion, Chika dkk segera menuju kamar masing-masing untuk istirahat.


Kamar Chika


Chika segera memberikan tubuhnya lalu mengganti pakaiannya dengan piyama.


Sebelum tidur Chika terlebih dulu mengecek email yang dikirim oleh Sekretaris nya.


Drt... Drt... Drt...


Suara getaran ponselnya membuat Chika harus menghentikan pekerjaannya. Ia menutup laptopnya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja nakas. 'Mama Tania', itulah nama yang tertulis di layar ponselnya. Bibir Chika tersenyum tipis, ia segera mengangkatnya.


Tersambung...


"Hallo Mama." Sapa Chika sambil duduk di pinggir ranjangnya.


"Hallo." Jawabnya.


"Cucuku!" Terdengar dari sana Nenek Sita menyaut.


"Nenek Sita? Malam Nek." Chika tiba-tiba rindu neneknya mengomel. "Nenek, aku rindu. Aku rindu kalian semua."


"Kalau rindu ngapain pergi." Terdengar dari nada sang Nenek terlihat ketus.


Chika terkekeh geli mendengarnya. "Ada Kak Erik sama Kevin nggak disitu? Kabar kalian baik-baik aja kan?"


"Mereka udah tidur, kita disini baik. Kamu kenapa belum tidur? Kabar kamu baik juga kan?" Tanya sang Mama


"Bentar lagi Mam. Kabar aku juga baik."


"Jangan tidur terlalu malam, jangan paksa jika tidak kuat. Kamu juga harus jaga kesehatan." Sang Papa menasehati.


"Iya Pa." Jawabnya. "Ohh ya ada apa malam-malam gini kalian menelpon ku? Sepertinya penting."


"Halo Ma?" Chika bingung karena nggak ada jawaban dari jauh sana..


"Ehh iya sayang?"


"Kalian kenapa? Ayo kasih tau aku."


"Ini tentang Bund--"


"Enggak apa-apa. Kita hanya mau nanya kabar putriku yang cantik ini." Terdengar Agam memotong pembicaraan sang Istri.


Kening Chika mengernyit namun juga senang, keluarganya sangat perhatian dengannya. "Hanya itu?"


"Iya. Yasudah sekarang kamu istirahat ya. Night,"


"Iya Pa. Night too."


Chika langsung memutuskan sambungan telponnya.


Aneh! Tadi Mama mau bicara tapi kenapa Papa memotongnya.


Karena sudah lelah akhirnya Chika tertidur.


*****


Mansion Samudra, Osaka, Jepang


"Kamu kenapa tadi memotong ucapanku Pah?" Tania kesal dengan suaminya karena memotong pembicaraan nya dengan Chika tadi.


"Ini bukan waktu yang tepat buat Chika tau. Biarkan dia menyelesaikan urusannya dulu. Jangan menambah pikirannya." Jelas Agam pada istrinya.


"Benar, ini bukan waktu yang tepat. Kita akan memberitahunya lain waktu saja. Satu per satu dulu. Sementara kita cari detailnya dulu. Berita yang kita ketahui kan tidak jelas." Kakek Fahri menyaut menjelaskan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Bersambung....