
"Lo nggak mau ikut Chik?" Tanya Inggit ketika melihat Chika hanya diam dan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun..
Chika masih terdiam tak bergeming, dirinya masih fokus dengan apa yang ia lihat di depannya.
"Udah nanti Chika nnyusul, kita duluan aja." Ucap Kinan.
Inggit mengangguk. "Oke."
Chika melihat setiap gerakan demi gerakan dengan wajah datarnya. Dirinya masih enggan untuk keluar dari mobilnya, dia lagi malas untuk berurusan dengan orang yang menyerang empat cowok itu.
Chika bergumam. "Kak Satria?"
Yaa,, yang diserang adalah Satria Ahmad Pratama dan sahabatnya. Masih ingat Satria? Dia kakak kandungnya Chika.
Sementara Kinan, Melda, dan Inggit sudah berada di dekat orang-orang yang bertarung tersebut.
"Woyyy jadi orang jangan pengecut. Sangat tidak lucu jika empat lawan dua puluh." Teriak Kinan lantang.
Yang mana membuat orang yang sedang menyerang menoleh. "Siapa kalian?" Tanya salah satu dari mereka dengan nada membentak.
"Lo nggak lihat. Jelas-jelas kita orang gini. Lo pikir kita setan apa." Geram Melda ngegas.
"Lo nggak perlu siapa kita. Itu nggak penting." Sinis Kinan.
"Iya. Dasar pengecut." Cibir Inggit
"Kurang ajar kalian." Geramnya
"Seraangg!!!" Orang-orang berbadan kekar tersebut langsung menyerang tiga gadis itu.
Bugh!!
Bugh!!
Krekk!!
Srett!
Srett!!
Bugh!!
Srett!!
Krekk!!
Bugh!!
Krekk!!
Dorr!!
Sementara keempat cowok tadi hanya meringis menahan sakit dan kagum dengan gerakan ketiga gadis yang menolongnya..
Tak lama Kinan, Inggit, dan Melda berhasil membunuh orang-orang yang tadi menyerangnya. Namun beberapa saat kemudian ada segerombolan orang kembali berdatangan dengan jumlah yang semakin banyak.
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Kinan dan kedua sahabatnya kewalahan. Setiap satu orang terbunuh, maka akan muncul satu orang lagi. Chika dkk pernah mendapat musuh yang strateginya seperti sekarang ini. Dulu juga hampir kalah karena strategi sialan ini, tapi karena Chika melawannya dengan otak, maka musuhnya yang kalah. Tidak salah lagi itu adalah Mafionso dari mafia Drak Death, itulah yang ada di pikiran ketiga sahabat Chika.
"Lo nggak kenapa-napa?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Satria kepada Kinan.
"Hoass.. Hoass... Gue.... gue kayak nggak di kasih kesempatan bernafas. Gue udah nggak sanggup. Itu orang dari tadi nggak habis-habis nya . Muncul terus.... Hufft." Ucap Kinan dengan nafas yang tidak teratur tanpa melihat siapa yang bertanya tadi.
"Iya itu memang dari tadi gitu terus tadi hanya lima orang." Jelas Satria.
Kinan melihat dengan siapa dia berbicara. "Astaga, ini kan kakaknya Chika. Kenapa gue nggak sadar." Batinnya
Kinan segera memalingkan pandangan ke arah lain.
"Hahaha,, mangkanya jangan sok mau nolongin orang. Cuman bocah ingusan yang baru lahir kemarin sore aja sok-sokan." Tawa orang tersebut..
"Dasar licik." Geram Inggit
"Huft..... gue capek banget. Chika lo dimana sih. Bantu kita napa." Ucap Melda berharap Chika membantunya.
"Lo baik-baik aja kan?" Tanya sahabat Satria yang bernama Yudha.
"Lo nggak lihat?" Ucap Melda ngegas..
"Iya gue lihat." Balasnya.
"Akhhh gue udah nggak kuat lagi, ni orang nggak habis-habis sih. Berapa orang nih yang udah gue bunuh." Gerutu Inggit dengan nafas yang tak teratur.
Tiba-tiba ada yang mengarahkan pistol ke arah Kinan dan Satria. Yang mana itu membuat Kinan dan Satria tersentak kaget
"Kinan." Teriak Melda dan Inggit.
"Satria." Ketiga sahabat Satria juga ikut berteriak kaget..
"Menyerah. Atau mereka akan mati." Ancam orang yang menodongkan pistolnya ke arah Kinan dan Satria.
Tiba-tiba...
Dorr!!
Tepat sekali. Pistol tepat ke sasaran yaitu mengenai kepala orang yang ingin menembak Kinan dan juga Satria, dan orang itu langsung tergeletak tak bernyawa dengan darah segar yang keluar dari kepalanya.
Yang mana itu membuat Kinan, Inggit, dan Melda serta Satria dkk kaget. Mereka langsung menoleh ke belakang, Satria dkk melongo atas apa yang mereka lihat. Seorang gadis bertopeng duduk dengan santainya di depan mobil dengan pistol yang berada di tangan kanannya..
"Chika?" Batin Melda.
"Huft... untung lo cepat bergerak. Kalau nggak bisa mati gue." Batin Kinan bernafas lega.
"Tepat waktu." Gumam Inggit.
"Di--dia siapa?" Batin Satria dkk kaget
Chika turun dari mobilnya dengan santai dan berjalan ke arah orang-orang tadi dengan gaya angkuhnya dan melewati sahabatnya.
Chika menyeringai ketika melihat orang yang kena tembakannya. "Upss.... Sorry kepleset. Tangan gue gatal." Ucapnya santai.
"Kurang ajar kalian." Geram lelaki itu. Kini dirinya sudah sendirian, yang lainnya entah kemana.
Chika tak mengubrisnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah Satria dkk. "Tutup mulut kalian. Buang ekspresi bodoh kalian itu. Gue bisa melakukan hal yang lebih buruk daripada ini."
Suara dingin keluar dari mulut Chika membuat Satria dkk tersadar dan menutup mulut rapat-rapat dan membuatnya menelan ludah.
Tiba-tiba....
Dorr!!!
Suara peluru meleset dari arah belakang ke arah Chika.
"AWASSS!!!" Teriak sahabat Chika dan Satria dkk.
Dengan santainya Chika melihat peluru yang akan mengenainya. Mereka yang ada di situ langsung menutup matanya. Begitu peluru itu hampir mengenai dirinya, Chika langsung menangkap peluru dengan mudanya menggunakan tangan kirinya.
Satria dkk membuka matanya menelan ludahnya dengan kasar. Lagi dan lagi, apa yang Chika lakukan membuat mereka melongo tak percaya. Bagaimana bisa gadis yang didepan mereka itu bisa menangkap peluru? Sungguh hebat. Begitulah isi fikiran Satria dkk.
Chika menghempaskan peluru yang ditangkapnya dengan kasar. Sedangkan sang penembak langsung kabur begitu saja.
"Woyy pengecut!!" Inggit ingin berlari mengejar orang yang tadi akan menembak Chika. Tapi Chika mencegahnya.
Chika segera melangkahkan kakinya hendak menuju ke mobilnya, tapi langkahnya terhenti ketika seseorang memegang lengan tangannya.
"Thanks ya. Lo udah nolongin kita." Ucapnya masih menggenggam lengan Chika.
Chika melihat siapa yang memegang tangannya.
Deg!
Jantung Chika tiba-tiba berdetak lebih cepat, bukan karena sedang jatuh cinta tetapi tangan kiri kakaknya melingkar di lengannya. Tangan yang pernah menampar pipi mulusnya beberapa tahun lalu. Manik mata keduanya bertemu terlihat sorot mata kekecewaan dari mata Chika. Kembali terngiang dikepalanya tentang kejadian beberapa tahun lalu yang masih melukai hatinya sampai detik ini..
Chika berdehem sebagai jawaban. Tak ingin emosinya meledak Chika segera menghempaskan tangan Satria pelan dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Diikuti dengan para sahabatnya.
Karena mobil Satria sudah hancur mereka bingung harus manaiki apa karena tidak mungkin ada kendaraan yang lewat di jalan sepi ini. Dan karena Inggit merasa kasihan pada Satria dkk, akhirnya ia meminta izin pada sang pemilik mobil agar mengizinkan Satria dkk ikut dengannya, namun sang pemilik hanya diam saja. Inggit menganggap itu termasuk sudah mendapat izin.
Inggit segera menyuruh Satria dkk untuk ikut dengannya, mereka sempat menolak namun karena hari sudah semakin sore, akhirnya Satria dkk mau tidak mau harus ikut ke mobil Chika. Entahlah, Inggit sudah sadar atau belum tentang siapa salah satu diantara mereka..
*****
Suasana hening melanda di dalam mobil sport itu. Semua fokus ke Fikiran masing-masing.
Sesekali Kinan melirik ke arah laki-laki yang duduk disampingnya yang tak lain adalah Kakak kandung dari Sahabatnya. "Tampan sih tampan ya, tapi otaknya tidak bekerja dengan baik. Bisa-bisanya dia percaya begitu saja sama orang asing daripada adiknya. Bikin kesel gue aja ni orang." Batin Kinan mengingat cerita sahabatnya tentang kakaknya.
Sementara Satria entah apa yang dia pikiran, saat dirinya bertatapan dengan Chika dia seperti tidak asing degannya. Tiba-tiba melintas di pikirannya tentang adeknya yang sangat ia rindukan. Tapi ia menepis pikiran itu, tidak mungkin kan kalau dia adalah adiknya. Itulah yang difikirkan Satria.
Chika sekarang bagaikan seorang sopir taksi online yang siap mengantarkan penumpangnya sesuai aplikasi yang dituju. Chika mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalan yang dilewati sedikit banyak pengendara.
Suasana kembali hening, Diam-diam pemuda tampan dengan wajah datarnya yang entah siapa namanya melirik ke arah Chika. Dan Chika mengetahui hal itu, matanya terlalu awas untuk mengetahui hal kecil seperti itu.
"Kenapa?" Chika bertanya dengan dingin tanpa memalingkan pandangnya ke arah depan.
Yang mana itu membuat mereka yang ada di mobil Chika bingung. Dengan siapa ia bertanya? Sementara orang yang duduk di sebelah kursi kemudi itu secepat mungkin mengalihkan pandangan ke arah luar.
...Bersambung...
🌺🌺🌺
Jangan lupa buat:
🌹 Like
🌹 Vote
🌹 Tambah favorit
🌹 Komen
JANGAN LUPA JUGA BUAT IKUTIN AKUN INI YA.
Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏