
"Mungkin peraturannya beda, di sana harus sesuai umur. Kalau di sini tergantung, apabila kita memiliki IQ tinggi atau di atas rata-rata maka kita akan sekolah cepat selesai dengan mudah. Bahkan mungkin diusianya yang baru tuju belas tahun bisa menyelesaikan S2." Ujar Kakek Fahri.
Chika tetap mengangguk meski dirinya ragu. Bahkan Ayah kandungnya mengatakan bahwa dirinya baru boleh sekolah saat menginjak usia ke 17 tahun, sedangkan laki-laki yang sekarang disebutnya Kakek mengatakan bahwa usia 17 tahun sudah bisa lulus S2, pasti orang yang seperti itu sangat jenius.
Chika memiliki satu keinginan, dirinya berharap bisa berkuliah di salah satu Universitas terbesar di dunia yaitu, Harvard University. Dulu Harapan untuk berkuliah di sana sangat tinggi, meskipun sama orang tuanya dilarang untuk hanya sekedar keluar dari rumah seorang diri. Bunda Clara juga pernah cerita ingin kuliah di sana, namun semua itu belum terwujud entah apa alasannya. Maka dari itu, Chika ingin meneruskan keinginan Bundanya yang belum tercapai hingga menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi sekarang, masih boleh kah ia berharap? Semoga saja keinginan Chika bisa terwujud. Masuk di Universitas itu tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi banyak orang.
"Maaf Tuan, kita sudah sampai ke tujuan," Kata sang supir.
Mereka telah sampai di sebuah sekolah elite yang ada di kota itu, yang tak lain adalah sekolah itu milik keluarga Samudra. Erik pun sekolah di situ.
Kakek Fahri mengangguk lalu membawa Chika keluar dari mobil lalu menggandeng tangannya menuju gedung sekolah dan mendaftarkan Chika..
🌹🌹🌹
"Kakek kita mau kemana?" Chika bertanya ketika dirinya dan kakeknya bukan ke arah pulang ke rumahnya melainkan mobil tersebut terus melaju melewati jalanan yang sepi , seperti jalan yang tak pernah dilalui oleh orang-orang.
"Doko ka ni."
Chika hanya diam saja selama di perjalanan, supir yang sekarang juga bukan supir yang tadi mengantarnya menuju sekolahnya, terlihat sangat berbeda..
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ke tujuan, mereka telah sampai ke sebuah rumah yang sangat besar. Mereka masuk ke pintu gerbang rumah besar itu secara otomatis gerbang itu terbuka lebar dengan sendirinya tanpa dorongan dari seseorang.
"Kakek ini rumah siapa kek?" Tanya Chika.
"Masuk aja dulu."
Chika terdiam, mengikuti langkah kaki Kakeknya yang membawanya masuk ke rumah itu. Sesampainya di dalam rumah besar itu Chika dikejutkan dengan banyaknya orang disana. Padahal di depan rumah tadi hanya ada beberapa orang penjaga..
"Kakek kenapa di sini banyak orang." Chika bertanya kembali.
"Ikut saja Kakek." Bukannya menjawab Kakek Fahri palah menyuruh Chika mengikutinya, Jelas-jelas dari tadi dia sudah mengikuti kakeknya.
Chika mengerucutkan bibirnya.
Saat ingin membuka pintu salah satu ruangan di rumah itu tiba-tiba ada yang memanggil kakek Fahri.
"Kakek," Terlihat tiga orang anak yang seumuran dengan Chika memanggil kakek Fahri
Kakek Fahri berhenti, ia menoleh ke arah ketiga anak yang memanggilnya tadi.
Ketiga anak itu mendekat ke arah Kakek Fahri.
"Kakek, buki no tsukaikata o oshiete kurereba, mi o mamoru koto ga dekimasu. Watashitachi wa tsuneni budō no benkyō ni unzari shite ite, buki ni tsuite manabitai to omotte imasu. Sonotoki, Kakek wa watashitachi ni yakusoku shite ita." Ucap salah satu dari mereka yang bernama, Kinan.
"Iya kek, plissss Watashitachi ni oshieru, ajarin kita." Ujar yang satunya lagi, Melda.
"Iya pasti akan kakek ajarin. Shikashi imade wanai, tapi tidak sekarang." Balas Kakek Fahri
Huhh..
Ketiga anak itu hanya bisa bersabar kembali, menunggu hingga waktu itu datang. Mereka mengalahkan pandangannya ke arah Chika.
Inggit bertanya, "Kakek, Kanojo wa daredesu ka?(Dia siapa?)" Tanyanya sambil menunjuk Chika.
"Cucu Kakek." Balasnya.
"Chika, perkenalkan dirimu!" Seru kakek Fahri.
Ketiga anak tersebut bingung pasalnya yang mereka ketahui Kakek Fahri hanya memiliki dua cucu laki-laki. Tapi mereka pun hanya mengangguk paham.
Chika menggenggam erat tangan Kakeknya, "Kek mereka bisa bicara bahasa Indonesia?" Bisik Chika dengan polosnya.
"Kita bisa kok Bahasa Indonesia." Sahut gadis kecil itu yang bernama Kinan. "Kenalin, Namaku Kinan." Kinan.
Chika mengangguk. "Hayy, aku Chika." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Namaku Melda." Ucap melda
"Kalau Aku Inggit."
Kakek Fahri tersenyum. "Kalian bisa jadi sahabat bukan?"
"Oke Kek." Ucap mereka kompak.
"Sekarang kalian ajak Chika keliling ya!"
"Iya kek."
"Ayuk ikut kami." Ajak Melda.
Chika mengangguk kemudian mereka berjalan terus mengelilingi rumah besar itu. Sampailah mereka di lapangan belakang yang sangat luas. Dimana disana ada beberapa orang yang sedang berlatih ilmu bela diri. Kemudian mereka mendudukkan dirinya di kursi panjang pojok lapangan..
Chika terkagum-kagum dengan gerakan lincah mereka. "Mereka hebat ya." Puji Chika lirih.
"Ya, memang mereka hebat." Ucap Inggit yang mendengar pujian Chika.
"Maksudnya?" Tanya Chika bingung.
"Ya. Kakek Fahri lebih hebat, dia hebat dalam segala hal. Kita pengen seperti dia. Jago bela diri dan menggunakan senjata." Ujar Inggit..
"Benar kata Inggit. Aku sangat ingin belajar seperti Kakek. Menjadi orang yang hebat."
"Kamu ingin tidak seperti kakek Fahri?" Tanya Melda.
Chika mengangguk. "Yaa. Aku ingin." Ucapnya.
"Tapi aku tidak bisa. Yang aku bisa hanyalah membaca dan menulis." Sambung Chika jujur.
"Tidak sekolah?" Tanya Kinan.
"Aku tadi baru daftar." Jawabnya.
"Kalian sendiri? Sejak kapan ada disini? Kalian sekolah?" Tanya Chika.
"Ya. Kita juga sekolah. Tapi setiap hari libur sekolah, Ayah kami menitipkan kita disini, supaya bisa belajar bela diri." Kinan menjelaskan.
Chika hanya mengangguk tanda paham.
Kakek Fahri sedari tadi mengamati Chika dkk yang sedang mengobrol dari lantai dua.
Ia bergumam. "Jika dia putri dari keluarga Pratama, maka dia salah satu putri dari Clara yang artinya dia adalah keturunan dari Jee Young."
Flashback
Cerita Clara dan Ayahnya, Jee Young
Jee Young dan Joo Young, mereka adalah sepasang anak kkembar. Terlahir dari keluarga bangsawan dari Ratu Hee Young dan Raja Man Young.
Kerajaan Young adalah salah satu Kerajaan yang berjaya di negara Korea, Kerajaan hebat dan tak terkalahkan. Jee Young dan Joo Young telah ditetapkan sebagai putra mahkota dari Kerajaan Young. Namun suatu kejadian menewaskan Ratu Hee dan Raja Man, kala itu Joo dan Jee sedang berusia sepuluh tahun. Sedangkan untuk menjadi seorang raja, kurang lebih mereka harus berusia tujuh belas tahun.
Alhasil Kerajaan Young diambil alih oleh adik angkat dari Ratu Hee Young. Kerajaan Young tak bertahan lama kala dibawah kepemimpinan adik angkat dari Ratu Hee Young. Banyak pemberontakan akibat pemimpinnya yang tidak adil.
Ketika kerajaan Young telah hancur, Jee Young dan Joo Young memutuskan untuk pergi dari negaranya, kala itu umur mereka tuju belas tahun, beruntung mereka masih memiliki harta peninggalan yang cukup banyak. Jee yang memilih untuk ke negara Indonesia, sedangkan Joo memilih untuk ke negara New York terpaksa mereka harus berpisah memenuhi keinginan masing-masing.
Di Indonesia, Jee Young bertemu dengan Fahri Samudra. Fahri juga berasal dari keluarga konglomerat, namun karena keluarganya menjadi korban pembantaian membuat Fahri harus kehilangan keluarganya. Kemudian dia bertemu dengan Jee Young dan mengangkatnya sebagai saudara.
Jee Young kemudian membentuk Kerajaan bisnis di dunia atas maupun bawah bersama dengan Fahri. Mengingat Jee Young adalah bukan dari keluarga biasa, tidak sulit baginya untuk mencapai itu semua.
Kemudian di usia Jee yang ke 20 sementara Fahri yang 19 tahun, mereka memutuskan untuk pindah ke London. Diusia Jee yang ke 21 tahun, Jee menikah dengan seorang aktris cantik yang bernama Dita Levite. Sementara Fahri menikahi sahabat Dita yang kebetulan seorang aktris juga bernama Sita Hisham.
Dari pasangan Jee dan Dita mereka memiliki satu keturunan perempuan yang diberi nama Clara Levite Young. Sementara Fahri dan Sita memiliki satu keturunan laki-laki yang diberi nama Agam Samudra. Hanya selisih beberapa bulan antara Clara dan Agam.
Hingga diusia Clara yang ke 15 tahun Dita Levite meninggal dunia entah apa sebabnya. Kala itu Clara sangat terpukul sekali dengan meninggalnya sang Mommy. Disaat usia Clara yang ke 19 tahun terjadi kesalahpahaman antara Clara dan Daddynya. Kesalahpahaman nya itu sangat menghancurkan hatinya.
Kesalahpahaman itu membuat Clara membenci Daddynya, Jee Young. Kemudian Clara pergi dari London tanpa sepengetahuan Daddynya. Jee Young sudah mencari putrinya itu untuk membenarkan kesalahpahaman yang Clara tuduhkan namun ia sama sekali tak menemukan jejak Clara.
Sampai ia mendapat kabar bahwa putrinya telah menikah dengan seorang pengusaha sukses se-Asia yang bernama Surya Ahmad Pratama. Dari situ Jee Young mengetahui bahwa selama ini putrinya ternyata tinggal di Korea, dan lebihnya lagi Clara menghapus nama besar Young dan mengganti namanya menjadi Clara Dita Andhara.
Setelah Clara dan Surya resmi menjadi suami istri, Clara ikut suaminya Surya kembali ke Indonesia. Jee Young diam-diam juga kembali lagi ke Indonesia tanpa sepengetahuan Clara. Hingga akhirnya Clara mengandung anak ke dua pun Jee tidak ingin menemui putrinya, bagi Jee melihat putrinya bahagia itu sudah membuatnya juga merasa bahagia. Biarlah, Jee rela dibenci oleh anaknya asalkan putrinya itu bahagia, ia tak ingin merusak suasana.
Kembali lagi saat Clara mengandung anak ketiganya kondisi kesehatan Jee semakin parah akhirnya Fahri membawa Jee ke rumah sakit dan ternyata Jee mengalami penyakit tumor otak stadium akhir. Belum juga Clara melahirkan anak ketiganya Jee sudah tidak bisa menahan lagi, akhirnya dia meninggalkan dunia untuk selamanya..
Sebelum meninggal, Jee berpesan untuk mewariskan semua hartanya kepada Clara. Setelah kelahiran anak ketiga Clara yang diberi nama Tammy Andhara Pratama, Fahri Samudra memutuskan untuk mendatangi Mansion keluarga Pratama untuk bertemu dengan Clara dan menyampaikan pesan dari Jee
Clara waktu itu sempat kaget melihat kedatangan pamannya. Kemudian Fahri menjelaskan maksud kedatangannya serta menceritakan semua kesalahpahaman antara Clara dan Jee.
Clara kaget setelah mendengar penjelasan dari pamannya. Ia menyesal telah mempercayai orang lain daripada ayahnya sendiri, namun mau bagaimana lagi semua sudah terlambat. Jee sudah meninggalkan dunia untuk selamanya. Karena rasa penyesalannya yang cukup mendalam, Clara tidak mau menerima semua harta warisan dari ayahnya. Clara merasa bahwa dirinya tak pantas mendapatkan itu semua. Kemudian Clara memberikan semua harta warisannya kepada pamannya, Fahri. Dan akhirnya Fahri mau tidak mau harus menerima itu semua..
Kemudian Fahri dan istrinya mengikuti putranya Agam dan menantunya yang bernama Tania Yoshida tinggal di negara Jepang dan memutuskan menetap di sana.
Flashback End
...Bersambung...
🌺🌺🌺
Jangan lupa buat:
🌹 Like
🌹 Vote
🌹 Tambah favorit
🌹 Komen
JANGAN LUPA JUGA BUAT IKUTIN AKUN INI YA.
Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏