
Aku mulai mengidap candu dalam menyusun kisah tak berujung ini. Tak bisa berhenti menulis walau hanya sehari saja. Seolah kegiatan menulis sudah menjadi rutinitas yang tak mungkin bisa kutinggalkan setiap harinya. Setiap kali ada teman yang mencoba membaca tulisanku, mereka pasti akan mengkritik, mengejek, dan menjelek-jelekkan. "Padahal mereka sendiri saja belum tentu bisa" pikirku. Tapi, aku tak pernah patah semangat. Kujadikan semua kritikan mereka, entah itu tentang gaya tulis, alur, ataupun sekadar nama-nama tokoh yang agak aneh, sebagai pendorong untuk menjadi lebih baik lagi. Yang awalnya kukira tulisanku akan terhenti ketika mencapai empat puluh sekian halaman karena tak tahan, tidak terasa kini aku telah berhasil menulis satu buku berjumlah empat ratus empat puluh empat halaman. Memang tak terbayangkan awalnya, tapi itu benar-benar terjadi.
Tahun lalu, tepatnya ketika aku kelas tiga MTW, aku telah meraih beberapa pencapaian yang merupakan hasil dari kerja kerasku selama ini. Salah satunya adalah yang telah kusebutkan barusan. Dalam satu semester, aku berhasil menulis satu judul novel hingga rampung. Walaupun, tulisan pertamaku itu masih terhitung sangat jelek. Tapi aku bangga. Karena dengan mengalami proses tersebut, aku yang saat ini bisa menulis buku yang sedang kalian baca sekarang juga. Selain itu, aku juga berhasil mengkhatamkan hafalanku tiga puluh juz secara sempurna. Lagi-lagi walaupun kualitas hafalan itu juga tak sebagus santri-santri penghafal dari syuqqoh tahfidz. Aku hanya berusaha menghafalkannya sendiri tanpa menyetorkannya. Sehingga, tentu masih akan dijumpai banyak sekali kesalahan dalam bacaanku. Dan juga, aku begitu lemah pada sisi kemutqinan hafalan. Karena di waktu itu, aku hanya fokus menghafal tanpa mementingkan yang namanya muroja'ah. Dan yang terakhir, aku sudah mulai ahli dalam ilmu bela diri yang kupelajari sejak kelas satu MTW dahulu. Kini aku mulai masuk tahapan-tahapan baru yang kiranya lebih menantang. Semua itu membuatku lupa terhadap reputasi yang dulu sangat kuperjuangkan sekali.
Inilah kehidupan. Seperti roda, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Aku mulai memahami beberapa hal nestapa seperti kenyataan pahit dalam hidup ini. Tapi, yang ingin kutekankan di sini adalah satu hal. Ya, sebuah keinginan untuk berubah. Aku tidak akan berubah sejauh ini jika aku tidak memiliki keinginan untuk berubah. Dan keinginan itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Orang-orang yang memandang dunia ini sebagai hal yang tidak tetap. Karena segalanya pasti akan tumbuh dan berubah. Demikianlah pembahasan tentang growth mindset dan fixed mindset.
Akhir kata sebagai penutup bab, aku ingin menuturkan suatu perkataan. Seseorang pernah mengatakan hal ini padaku. "Dimana ada kemauan, di situ ada kemampuan."