Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 4



Hingga tiba suatu masa dimana beliau sampai pada suatu titik. Satu ide cemerlang terbesit di pikiran beliau untuk melanjutkan perjuangannya demi membangkitkan generasi literasi tersebut. Sebuah program yang kiranya bisa membuat kami mulai jatuh cinta pada kegiatan membaca. Program yang bisa membuat kami jatuh hati terhadap sesuatu yang dikenal dengan buku. Dan ya, beliau merealisasikan program tersebut di kelas kami. Program kelas literasi. Beliau mewajibkan setiap dari kami untuk membeli satu buku dengan judul yang telah beliau tentukan. Untuk sarana pembelian, bisa dengan langsung membelinya sendiri lewat orang tua, atau bisa juga dengan menitipkan pembelian bukunya pada beliau langsung. Kita hanya perlu menyiapkan sejumlah uang seharga buku yang akan kami beli. Awalnya, beberapa dari kami mengira bahwa program ini hanyalah bisnis belaka. Semua ini hanyalah akal-akalan dari beliau agar beliau mendapat keuntungan pribadi semata. Namun, bukan itu tujuan beliau sebenarnya. Tujuan beliau benar-benar tulus ingin membuat kami suka terhadap kegiatan membaca. Dan menurut beliau, program inilah salah satu cara agar keinginannya bisa terealisasikan.


"Untuk membentuk kebiasaan baru, terkadang kita butuh sesuatu yang namanya paksaan. Lebih tepatnya, sebuah dorongan agar kita lebih semangat dalam menumbuhkan kebiasaan baik tersebut." tutur beliau.


Ketika namaku disebut, sontak aku pun mengacungkan tangan. Beliau dengan lugas menyebutkan sebuah judul buku beserta nama penulis dan juga harganya. Buku Mindset, ditulis oleh prof. Carol Dweck, dengan harga kisaran seratus sepuluh ribu. Tanganku dengan gesit mencatat identitas buku tersebut. Usai membacakan judul buku yang harus kubeli, beliau pun berpindah pada orang berikutnya yang ada di sebelahku. Diam-diam, aku terkejut setengah mati.


"Apa?! Seratus sepuluh ribu? Yang benar saja! Buku semahal apa itu? Memangnya apa gunanya aku membeli buku semahal ini? Toh, paling-paling nanti juga jadi barang rongsokan karena tak terbaca. Dasar! Lebih baik uang itu kugunakan untuk berbelanja di kota Salatiga saat perizinan nanti..." gumamku dalam hati. Demikianlah pemikiranku dahulu kala. Sebuah anggapan yang sangat picik terhadap sesuatu yang amat penting bagi umat masa kini dan masa mendatang. Kebanyakan orang juga sudah lupa pada perintah pertama yang Allah turunkan dimuka bumi ini untuk umat manusia terakhir. Suatu budaya yang mampu mengembangkan sebuah generasi menjadi lebih berprestasi. Literasi.


Saat itu, aku benar-benar dibuat jengkel setengah mati. Lagi-lagi aku harus menyisihkan uang jajanku lagi. Padahal, cukup sudah kas kelas, kas kamar, dan urunan-urunan lainnya membuat dompet kosong tak terisi. Tapi, apalah daya diriku ini. Ini adalah permintaan seorang guru yang juga merupakan wali kelasku di tahun ini. Mau bagaimana lagi? Aku pun menghubungi orang tua untuk meminta uang saku tambahan demi menyukseskan program ini. Walaupun sebenarnya, aku menjalani program ini belum dengan sepenuh hati. Menjalankannya dengan serpihan kejengkelan yang masih tersisa di dalam hati ini.


Beberapa pekan kemudian, datanglah buku-buku yang beliau pesan untuk kami. Beliau menumpuknya di atas meja guru, hendak membagikannya setelah jam pelajaran usai nanti. Akhirnya, tibalah saat dimana buku-buku tersebut akan dibagikan kepada kami.


"Atomic Habits, karya James Clear"


"Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata, karya Ahmad Rifa'i Rif'an."


"Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati, karya Ahmad Rifa'i Rif'an."


"Generasi Emas, Generasi Produktif, Notes From Qatar 2, Wajah Peradaban Barat, A Cup Of Tea, dll."


Kami pun maju satu per satu setiap kali judul buku yang merupakan jatah kami masing-masing disebutkan oleh beliau. Kemudian, tibalah giliranku untuk mengambil. Aku bangkit dari bangkuku, lantas segera beranjak menuju meja guru. Dengan senyuman khasnya, Ustadz Jaelani menyerahkan buku berjudul "Mindset" itu padaku. Covernya berwarna biru. Memiliki ketebalan buku yang mungkin mencapai tiga ratusan halaman. Beliau juga menyerahkan selembar kertas kosong bergaris bersama buku tadi. Pada header kertas tersebut tertulis "Program Kelas Literasi". Lalu di pojok kanan bawah kertas tersebut terdapat tulisan "Qari'ul yaum, Qaaidul ghad" dengan berbahasa Arab. Artinya "Seorang pembaca di hari ini, seorang pemimpin di masa depan". Kami diminta untuk menuliskan poin-poin penting dari buku yang kami baca, di atas kertas tersebut.


Aku kembali duduk di atas bangku sembari melipat dan menyelipkan kertas tersebut ke dalam buku. Ini sungguh memberatkan, pikirku. Padahal jadwal sehari-hariku sendiri sudah padat karena sebagian besar waktuku sudah kuhabiskan untuk menghafal Al-Qur'an, memuroja'ah, dan menulis. Tapi apa boleh buat. Aku hanya perlu memodifikasi jadwalku setelah ini. Ah, ngapain juga sih dianggap serius? Sejak kapan jiwaku berubah jadi jiwa santri teladan seperti ini? Santai saja, lah.


"Ana benar-benar minta kerjasama dari antum semua untuk menyukseskan program ini. Minimalnya, antum bisa kan menyisihkan waktu lima menit sebelum tidur untuk membaca? Tidak perlu banyak-banyak. Paling tidak satu hari kalian bisa mencicil membaca lima halaman. Kalau memang belum mampu maka tiga halaman, kalau belum bisa maka satu halaman. Kalau memang benar-benar tidak bisa, satu paragraf pun sudah merupakan suatu kemajuan yang patut untuk dibanggakan.


Ana harap kalian semua bisa sepenuhnya memanfaatkan adanya program ini. Secara tidak langsung, saat ini kalian sudah mulai terjun ke sebuah jalan yang mana bisa menuntun kalian menuju kesuksesan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Bacalah buku kalian. Kelak kalian akan menemukan sebuah keajaiban di balik dahsyatnya membaca."


Kelas di hari itu berakhir dengan sebuah tugas baru yang dibebankan pada kami. Setelah hari itu berlalu, masih belum ada sesuatu yang berubah pada diriku. Aku masih saja terkungkung dalam rutinitas monoton yang sudah biasa kulakukan setiap harinya. Menulis, menghafal Al-Qur'an, dan sedikit olahraga. Terus berputar dalam roda kebiasaan seolah tiga hal itu adalah hal yang paling terpenting dalam hidupku.


Lalu, kalian tahu apa yang kulakukan terhadap tugas meringkas buku itu? Aku sama sekali tidak mencari poin-poin penting dalam buku itu, apalagi meringkasnya. Membacanya saja tidak. Memang di awal aku sempat tertarik untuk mencoba membacanya. Tapi setelah berlalu lima halaman pertama, aku kian terjebak dalam kejenuhan yang luar biasa. Jadi, aku hanya kembali menulis ulang quotes-quotes dari tokoh-tokoh terkenal yang tertera pada halaman bercetak gelap di setiap akhir bab. Hanya dari situ, tuntas sudah tugas meringkas buku ini. Dan aku sama sekali belum membaca buku itu secara keseluruhan.


Inilah akhir dari program kelas literasi yang dengan sepenuh hati beliau selenggarakan untuk kami. Bagiku yang hanya setengah-setengah menjalani, belum ada sedikitpun perubahan yang diriku tunjukkan. Namun, kalimat itu tak sepenuhnya benar. Ada satu perubahan kecil yang mungkin diriku sendiri juga tidak menyadarinya. Perlahan, sedikit demi sedikit hatiku mulai terbuka. Apa-apa yang beliau berusaha lakukan untuk kami, kini lebih terasa merasuk dalam jiwa. Meski begitu, beliau juga tak pernah pantang mundur. Beliau akan terus maju demi mengubah kami dan demi membangkitkan generasi literasi di dunia yang runyam ini. Entahlah apa yang dipikirkan oleh diriku dahulu. Sungguh picik sekali opiniku terhadap urgensi literasi ini.