
Bab 3 : Iseng Tapi Terwujud
Tentram dan sunyi. Inilah suasana favoritku. Genangan air hujan di atas tanah, dedaunan lebat yang masih basah kuyup, dan langit usai hujan yang terang-benderang. Aku bisa melihat semua itu dengan jelas dari teras masjid ini. Hawa udara di sekitarku terasa begitu dingin. Embun-embun yang bermunculan di kaca pintu, menjadi saksi nyata betapa dinginnya suhu di sore hari itu.
Aku sedang menulis sambil duduk bersandar pada tembok masjid. Terus menulis dan menulis. Sebagai bukti nyata kemauanku untuk mewujudkan impian menjadi seorang penulis. Setelah aku selesai menulis satu buku di tahun lalu, aku kembali meneruskan perjuanganku dengan mulai menulis judul baru lagi. Aku berharap, ketika tulisan ini rampung nanti, hasilnya akan lebih bagus dari yang pernah kutulis sebelumnya. Sehingga, aku bisa menerbitkannya lalu mencetaknya menjadi buku fisik yang bisa dibaca oleh banyak orang, suatu hari nanti.
(Tap! Door!!)
Seketika, aku merasa seperti ada tangan yang kasar menyentuh bahuku. Bersamaan dengan suara dentuman buatan mulut yang kemudian meledak tepat di sampingku. Aku pun terkejut. Tubuhku tersentak kaget. Reflek, dengan cepat aku menoleh ke samping.
"Yahaha! Lagi nulis apa itu?" lagi-lagi dia. Seseorang yang rajin sekali datang tiba-tiba, lalu mengangguku ketika aku sedang menulis. Kurasa, itulah kegiatan favoritnya. Entah apakah tak ada hal bermanfaat lain yang bisa dilakukan olehnya. Aku memasang wajah muram.
"Minimal salam deh." tanggapku singkat dengan sedikit rasa kesal.
"Elah... kan dah biasa. Masa' masih mau kaget juga? Gimana? Novelnya dah lanjut belum?" tanyanya dengan tampang wajah yang tak merasa bersalah sama sekali.
"Cih..." aku meraih binder yang ada di sampingku, lalu menyerahkannya padanya. "Nih, pergi sono! Nggak usah ganggu ana nulis lagi, kalau mau novelnya tetap ada lanjutannya." ucapku ketus dengan gerakan tangan mengusir.
"Iya, iya. Galak banget." Ia pun berpaling setelah merampas binder yang kupegang dengan tanganku tadi. Melangkah pergi, hingga punggungnya menjauh lalu menghilang dari pandanganku. Ia kembali masuk ke dalam masjid, lalu membaca novel tulisan tanganku.
Namanya adalah Puguh. Ia adalah temanku yang memang langganan baca tulisan-tulisan yang kubuat sejak tahun lalu. Katanya, ia memang suka sekali membaca novel. Apalagi novel-novel yang berbau negri sakura, seperti light novel. Jika ia sudah tenggelam dalam suatu bacaan, ia bisa tidak tidur semalaman hanya demi merampungkan bacaannya. Tak pernah keluar rumah, dan terus mendekam diri di kamar bersama novel-novel tersayangnya. Itulah kerjaannya ketika berada di rumah saat liburan. Nolep. Benar-benar tak berkehidupan sama sekali.
Berhubung sekarang dia ada di pesantren, dia tak bisa lagi menikmati novel-novel online tercintanya tersebut. Beralihlah dia membaca novel yang kubuat. Ia berkata bahwa novel buatanku bagus, alurnya menarik, dan gaya penulisannya mudah dipahami tapi tetap puitis. Ia selalu memujiku ketika aku menulis alur kisah yang sejalan dengan visinya dan mengkritikku bila bertentangan. Jadi tak ada ruginya aku membiarkan orang itu membaca tulisanku. Karena terkadang, aku juga terbantu dengan kritik yang disampaikan olehnya. Walaupun kritik yang disampaikannya selalu terkesan egois.
Setelah berlalu beberapa menit, ia pun kembali menghampiriku di teras masjid. Wajahnya terlihat sedikit kesal dengan pipi melembung. Ia kembali menyodorkan binder yang tadi kuberikan padanya.
"Kok endingnya gantung sih!" brak! Dia menggeletakkan binder berisi tulisanku di atas lantai begitu saja.
"Ya, sabar. Ini kan lagi ditulis. Lagian ente ganggu mulu sih!" protesku balik. Ia masih saja merengut menatapku.
"Tumben juga, kok tulisan ente cuma dikit? Biasanya satu hari bisa nambah sampai tiga lembar, kan?" tanyanya ikut duduk termenung di sampingku.
"Ya, sori. Ana lagi sibuk mempersiapkan diri untuk seleksi di dua organisasi yang ana daftar." jawabku.
"Memangnya ente daftar apa aja sih?"
"Majmu'ah Dakwah, sama HBA¹. Ente juga daftar HBA kan?"
"Iya sih. Tapi ana mah nggak perlu diseriusin gitu. Emang apa-apa harus perfeksionis kayak tokoh utama di novel-novel? Itu mah ente! Gue sih biasa aja, mau diterima atau enggak. Tinggal tunggu takdir aja."
Dan bla... bla... bla... bla.... Percakapan itu terus berlanjut ke topik-topik lainnya. Membicarakan tentang kartun-lah, komik-lah, light novel-lah, dan terus berlanjut dan berlanjut. Hingga tak terasa, sebentar lagi adzan maghrib akan dikumandangkan. Apa mau dikata, dengan terpaksa aku harus menghentikan kegiatan tulis-menulisku untuk bersiap-siap sholat maghrib. Hilanglah waktu menulisku yang berharga di sore hari itu. Dan satu hal yang perlu diketahui, inilah cara orang itu menggangguku ketika aku sedang menulis.
¹HBA : Himpunan Badurkhan Al-Irsyad
Aku segera kembali ke masjid setelah selesai mandi dan menunaikan keperluan-keperluan lainnya. Kali ini tak akan kubiarkan satu detik pun pergi dariku tanpa adanya pemanfaatan. Tepat ketika kakiku menapak ke tangga masjid, adzan maghrib berkumandang. Tak biasanya aku datang akhiran seperti ini. Biasanya, tiga puluh menit sebelum adzan, aku sudah stand by duduk di shaf terdepan entah itu sedang menulis atau memuroja'ah hafalan Al-Quran. Ini semua adalah ulah orang itu. Awas saja...
Waktu antara adzan dan iqomah kugunakan untuk memuroja'ah. Lalu seusai sholat, aku memiliki kegiatan baqo' sore yang tentunya juga digunakan untuk membaca Al-Quran. Setelah sholat Isya' dan makan malam, barulah aku bisa meneruskan kegiatan tulis-menulisku. Namun itu hanya sebentar. Jarak antara waktu setelah usai makan malam hingga gerbang asrama ditutup hanya satu jam setengah. Setengah jam habis untuk belajar tajwid dan tsaqofah islamiyah sebagai persiapan seleksi MD. Belum lagi kepotong waktu perjalanan dari masjid ke math'am, lalu dari math'am ke masjid lagi. Ditambah lagi berapa lama waktu antre mengambil jatah makan di math'am. Habislah waktu menulisku ini... Empat puluh menit yang kuhabiskan untuk fokus menulis kini telah berlalu. Hasilnya hanya satu halaman setengah. Lumayan lah jika ditambah dengan yang kutulis tadi sore. Totalnya dua lembar. Masih kurang dari target harian yang kutetapkan, yaitu enam halaman atau tiga lembar. Ini semua gara-gara gangguan orang itu tadi sore. Lagipula akhir-akhir ini aku juga disibukkan oleh banyak hal, jadi wajar saja.
Selain itu, akhir-akhir ini sebagian waktuku juga tersita karena kugunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi Majmu'ah Dakwah. Organisasi dakwah santri yang mana di sore hari-hari tertentu, anggotanya bisa keluar pesantren untuk mengajar di TPA. Kebanyakan santri yang mendaftar mungkin hanya mengincar izin keluar yang memang jarang sekali dan sulit sekali untuk didapatkan. Namun, aku berbeda. Aku benar-benar memiliki keinginan untuk berdakwah di luar sana. Mengajar di TPA, menjadi imam, mengisi muhadhoroh, mencari pengalaman baru, mengembangkan kemampuan berbicara di depan banyak orang, dan yang terpenting adalah satu hal. Aku ingin orang lain melihatku dengan cara pandang yang berbeda. Bukan hanya sebagai seorang penulis amatiran yang terkesan cupu dan tak terlihat berkehidupan, alias nolep. Melainkan, aku juga ingin dilihat sebagai aktivis dakwah yang dihormati di mata orang-orang. Dan itulah satu kesalahan fatal-ku yang tak akan pernah kulupakan dan terus kusesali hingga saat ini.