Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 1



Bab 1 : Lembaran Baru


17 Juli tahun 2021. Ketika itu, pandemi masih menyelimuti dunia ini. Sebuah virus yang dikenal dengan covid-17 sedang marak di seluruh mancanegara. Terutama, negara kita Indonesia. Hal ini berdampak sangat parah bagi kehidupan masyarakat. Segala hal seolah-olah berubah drastis di dunia ini. Kegiatan sehari-hari masyarakat terpaksa harus berubah total. Yang tadinya terbiasa beraktivitas di luar rumah, kini dibatasi atau bahkan tidak diperbolehkan oleh pemerintah.


Istilah baru kini muncul tepat di depan mata. Siapa yang tidak tahu istilah "New Normal"? Sebuah program revolusi besar-besaran terhadap keseharian masyarakat di Indonesia. Semua yang awalnya merupakan kegiatan yang dilakukan di luar rumah terpaksa harus berubah menjadi online. Mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa perkuliahan, bahkan sampai anak sekolah. Anehnya, hal ini juga berdampak pada diriku yang merupakan seorang santri. Hah? Mondok online? Sejak kapan ada orang yang ingin mondok ke pesantren tapi belajarnya malah di rumah?


Namun sebenarnya, itu tak sepenuhnya membosankan. Hanya duduk bersila di depan laptop, menyalakan kamera, lalu menatap layar zoom meeting dengan seksama. Sekilas aku memang terlihat rajin menyimak penjelasan ustadz yang tengah menerangkan materi pelajaran nun jauh di sana. Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Sedikit saja aku melihat ustadz sedang lengah dan tidak memperhatikan layar monitor yang, tanganku langsung berulah ke sana kemari. Terkadang membagi layar laptop menjadi dua. Di satu sisi zoom meeting masih berjalan, di sisi lain komik pun turut menyertai. Ataupun mematikan kamera zoom dan malah main game di gadget lainnya. Itu memang mengasyikkan. Namun, konsekuensi akan tetap ada. Setelah menjalani riset satu semester belajar online di rumah, nilai para santri merosot drastis. Rapor-rapor penuh dengan warna merah, dan santri-santri yang diharuskan mengikuti remedial berjumlah lebih dari separuh jumlah santri dalam pesantren. Tapi aku pengecualian. Aku tidak mengulang di mata pelajaran apapun. Hehe... otakku memang sudah dari sananya seperti itu.


Bercanda. Walaupun aku sering tak memperhatikan pelajaran dan malah melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan, saat satu malam sebelum ujian aku selalu belajar keras. Memang begitu sistem belajarku sejak di bangku SD dahulu.


Meninjau dari semua hal yang terjadi, pihak pesantren memutuskan untuk kembali mengalihkan pembelajaran online ke pembelajaran offline. Kami semua diminta untuk kembali ke pesantren dengan segera, guna menjalani kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka. Namun, pihak pesantren tidak mewajibkan semua santri untuk memilih pembelajaran offline tersebut. Mereka memberi opsi kepada kami, dan tentunya orang tua lah yang memiliki kendali atas semua itu. Kalau aku, inginnya sih online saja, hahaha. Toh, juga nggak remed. Dan persis seperti yang kuduga. Orang tuaku seratus persen tidak menyetujuinya.


"Mondok kok di rumah? Bukan mondok itu namanya!" begitulah ucap mereka.


Aku menghela nafas panjang, lalu pasrah dengan keadaan. Kembalilah diriku yang sudah nyaman di rumah ini ke pesantren Islam Al-Irsyad dengan hati yang ikhlas, tegar, dan tabah, InsyaAllah.


Setelah sekian lama, telapak kakiku yang bersepatu ini kembali kujejalkan di atas tanah ini. Tempat dimana para santri dari seluruh penjuru Indonesia menimba ilmu agama. Tanah Al-Irsyad. Jauh-jauh aku rela pergi meninggalkan rumah, sanak keluarga, dan gim-gim online ku kesini demi menuntut ilmu. Dari Surabaya hingga Semarang dan akhirnya sampailah di Salatiga. Merantau dari satu provinsi ke provinsi lain bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan niat dan tekad yang kuat serta sebuah motif yang senantiasa membuat kita tetap semangat, dimanapun dan kapanpun.


Kata orang, pesantren adalah miniatur dunia. Di dalamnya terdapat berbagai macam kepribadian manusia yang berasal dari beragam daerah. Kita dituntut untuk membiasakan diri bersosialisasi dengan mereka, kita dituntut untuk bisa menyesuaikan diri setiap kali culture shock datang menghadang, kita dituntut untuk mandiri dalam segala hal, kita dituntut untuk menyelesaikan berbagai masalah yang datang dengan tangan kita sendiri. Hal itulah yang selama ini selalu kurasakan. Semua itu membuatku lebih dewasa dalam menghadapi berbagai macam problematika kehidupan.


Belum lama, sepoi-sepoi angin pegunungan segera datang menyapaku. Hawa dingin pondok pesantren yang tak asing ini, kembali menggelumuri sekujur tubuhku. Aku segera melangkahkan kakiku, turun dari bus. Lantas segera menurunkan barang bawaanku. Memang eksklusif tinggal di pondok pesantren dengan latar belakang pegunungan seperti ini. Apalagi, hehijauan ramah dari pepohonan dan rerumputan yang ada di taman firdaus, dengan segan selalu menyapa orang yang melewatinya. Di sini ada empat taman, yang mana keempatnya memiliki nama yang diambil dari nama-nama surga. Firdaus, Adn', Ma'wa, dan Na'im. Keempat-empatnya tentu memiliki ciri khas masing-masing. Berbagai jenis tanaman tertanam diatasnya. Sungguh pemandangan yang asri nan indah.


Aku kembali melangkahkan kakiku. Berjalan perlahan melewati selasar berpeneduh, sambil menggeret koperku. Aku melihat tepat di sisiku sebuah gedung olahraga yang berdiri tinggi dan megah di atas tanah. Di sanalah tempat dimana para santri mengembangkan potensi mereka dalam hal olahraga. Lalu, aku melewati suatu area yang dikelilingi oleh pagar kawat besi. Terlihat berkilau memantulkan sinar matahari dan menakjubkan. Itulah kolam renang pesantren. Airnya tampak jernih dan bersih, memantulkan warna biru dari dasar dan segala sisi kolam. Sepertinya kolam itu baru saja dibersihkan dan disterilkan kembali. Padahal terkadang ketika kami ingin berenang di kolam tersebut, airnya begitu fantastis. Warna hijau. Entah apa yang telah diperbuat santri terhadap kolam renang tersebut.


Aku tinggal di salah satu dari empat asrama yang ada di pesantren ini. Gedung Arafah, Muzdhalifah, Shafa, dan Mina. Gedung Mina adalah asrama yang akan kutinggali di tahun ajaran baru ini. Selama satu tahun ke depan, Aku harus mulai membiasakan diri untuk tinggal di asrama baru ini. Lantai tiga, blok Qodisiyah, kamar nomor empat. Memang unik semua nama blok asrama yang ada di pesantren ini. Kita biasa menyebutnya "Syuqqoh" dalam bahasa arab. Setiap syuqqoh yang ada di tiap asrama, namanya diambil dari nama-nama kota yang ada di Jazirah Saudi Arabia. Seperti Khondak, Badr, Qodisiyah, Yaman, Madyan, Yarmuk, dan lain-lain. Sementara itu, dua kota utama yang menjadi kota nabi yaitu Makkah dan Madinah dijadikan sebagai nama gedung madrasah bagi kami para santri.


Makkah terbagi menjadi tiga. Dua gedung yang disambung menjadi satu dengan membentuk letter "u", dan satu gedung terpisah dengan letter "c". Urut dari yang paling kanan, bernama Makkah satu, dua, dan tiga. Gedung Makkah ini dikhususkan bagi kami yang duduk di jenjang I'dad Mu'allimin atau yang setara dengan SMA. Sementara gedung Madinah adalah untuk santri Mutawassithah atau yang sederajat dengan SMP.


Aku sampai di depan pintu kamarku. Kamar Qodisiyah empat. Koper warna biru metalik yang masih kugeret dengan sebelah tangan segera kumasukkan ke dalam kamar. Suasana berantakan seperti kapal pecah, barang-barang berserakan di mana-mana, memang sudah biasa di awal kedatangan ke pesantren seperti ini. Karena, santri-santri lainnya juga baru pada berdatangan dari daerah asal mereka.


Tak hanya sekali dua kali aku merasakan hal tersebut. Suasana kamar baru yang mencekam ini merupakan sebuah pertanda. Iya, sebuah pertanda bahwa tahun ajaran baru kini sudah dimulai. Aku akan menjalani tahun ajaran baru ini sebagai seorang santri kelas satu I'dad Mu'allimin.