Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 3



Sesampainya di kelas, seperti biasa, aku langsung mengambil kursi terdepan dan duduk di atasnya. Bukan karena ingin menjadi murid teladan yang selalu dilirik oleh ustadz sehingga menjadikanku bintang kelas. Melainkan, karena Aku memiliki mata minus yang tak bisa melihat papan tulis dengan jelas walaupun hanya mundur satu baris saja. Sementara, lensa kacamataku yang lama belum disesuaikan dengan ukuran minus mataku yang sekarang. Sehingga, mau tidak mau aku harus duduk di depan agar bisa memperhatikan penjelasan yang disampaikan ustadz secara maksimal. Itulah motifku mengapa aku selalu memilih untuk duduk di baris terdepan.


Seisi kelas masih belum terlalu ramai. Satu demi satu, santri-santri yang sekelas denganku mulai pada berdatangan. Memanfaatkan waktu yang ada, aku membuka buku tulisku. Sebuah pensil mekanik berwarna biru, langsung kugenggam erat dengan jemariku. Dan kini jemariku mulai menari di atas kertas. Aku mulai menulis. Melanjutkan sebuah kisah yang telah lama kutulis sejak liburan pandemi waktu itu. Tak terasa, dua puluh lima menit kini berlalu. Bel jam pelajaran pertama pun berdering. Pertanda bahwa kegiatan belajar-mengajar akan segera dimulai beberapa saat lagi.


"Lumayan, tiga per empat halaman..." gumamku dalam hati.


Tak lama kemudian, datanglah ustadz yang mengajar mapel pertama tersebut. Sembari merapikan buku dan peralatan menulisku, aku menyiapkan kitab tematik Tauhid yang merupakan mapel pertama di hari ini sesuai dengan jadwal. Ustadz Jaelani Imran yang merupakan wali kelas kami sendiri-lah yang mengampu pelajaran Tauhid ini. Suasana kelas yang tadinya gaduh, kini hening seketika. Kini beliau berdiri tegak di samping papan tulis, di hadapan kami. Senyuman hangat dari wajahnya pun langsung menyambut rasa antusias kami.


Setelah menyampaikan pembukaan singkat, beliau segera memulai penjelasan tentang bab baru yang akan kami pelajari di pagi hari ini. Penjelasannya cukup padat dan singkat. Mengartikan kosakata asing, menjelaskan kalimat yang kiranya rumit untuk dipahami, dan menyebutkan dalil-dalil dari sumber lain. Tak ada yang spesial dari cara mengajar beliau. Sama seperti kebanyakan ustadz ketika menyampaikan materi. Namun, itu hanya berlangsung beberapa saat. Seketika, kesan pertamaku terhadap beliau langsung berubah seratus delapan puluh derajat.


Entah bagaimana, beliau tiba-tiba mengaitkan materi pelajaran Tauhid yang kita pelajari dengan film Spider-Man, film Hollywood, konspirasi-konspirasi dunia politik, dan hal-hal lain yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan ajaibnya, semua itu memang berkaitan satu sama lain jika dipikir dengan logika. Tak jarang juga beliau memberi kami contoh-contoh dari kehidupan masa kini yang relevan dengan apa yang kami pelajari di pelajaran Tauhid. Wawasan beliau sungguh sangat luas. Aku kagum pada beliau.


"Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul "Sentra", manusia hanya bisa fokus belajar dalam waktu dua kali lipat menit dari umurnya. Sebagai contoh umur kalian adalah lima belas, maka kalian hanya bisa fokus belajar dalam waktu tiga puluh menit. Dan itulah waktu paling produktif untuk membuat kinerja otak bekerja maksimal." tutur beliau. Dan karena perkataan itu, beliau hanya mengajar kami dengan serius dalam tiga puluh menit pertama saja. Tentu itu adalah kabar gembira bagi mereka para pemalas yang selalu tak memperhatikan pelajaran.


Jam pelajaran beliau di hari itu pun berakhir tanpa terasa. Menyenangkan sekali sebenarnya, mendengar wawasan dan pengetahuan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Sejak saat itu, pelajaran yang diampu oleh ustadz Jaelani adalah pelajaran yang selalu kami tunggu-tunggu.


Awalnya aku memang kurang tertarik pada semua hal tersebut. Yang terpenting bagiku, kami hanya belajar selama tiga puluh menit atau bahkan kurang pada jam pelajaran yang diampu oleh beliau. Biasanya beliau menggunakan waktu sisanya untuk memberi kami cerita motivasi, menuturkan teori-teori pengembangan diri, atau bahkan membahas konspirasi-konspirasi yang tak begitu kupahami. Di saat seperti itulah waktu sisa yang ada, malah kugunakan untuk melanjutkan kisah yang kutulis. Alias, aku tidak mendengarkan beliau.


Terkadang beliau juga mengajak kami berdebat tentang bumi bulat atau datar. Memaparkan pendapat masing-masing ketika berdebat dengan beliau memang seru. Apalagi melihat beliau yang masih tetap bersikukuh pada pendapatnya bahwa bumi itu datar, walaupun sudah berkali-kali dihantam berbagai pernyataan yang dilontarkan oleh teman-teman sekelasku. Tak ingin kalah, beliau juga terus melawan dengan mengupas tuntas setiap argumen yang kami kemukakan hingga membuat kami tak bisa berkutik lagi.


Di lain waktu, jika kami tidak melakukan debat bumi datar atau bulat tersebut, maka sisa waktu jam pelajaran akan beliau gunakan untuk menyampaikan motivasi pada kami. Baik itu tentang waktu, keikhlasan niat, semangat menuntut ilmu, kiat-kiat menggapai kesuksesan, maupun tentang peringatan dan teguran bagi santri-santri yang sering melakukan pelanggaran. Terkhusus kali ini, aku memandang beliau berbeda. Semua motivasi itu terdengar sangat membosankan. Benar-benar membosankan. Seperti mendengar ocehan burung kakak tua yang terus berusaha berceramah dan menasehati. Aku yakin beliau juga sadar akan reaksi kami yang menganggap kata-katanya itu membosankan.


Namun beliau tak pernah berputus asa. Beliau terus saja menyampaikan motivasi-motivasi yang sama setiap harinya demi membuat kami berubah menjadi lebih baik. Tak kenal lelah dan tak kenal jera. Tak peduli bagaimana kami merespon apa yang telah beliau sampaikan. Salah satu tema yang paling sering beliau ulang-ulang adalah motivasi tentang membaca buku. Dan itulah salah satu diantara yang paling kubenci.


"Buku adalah jembatan ilmu, buku adalah jendela dunia. Ketika kita membaca buku, kita akan bisa mengetahui apa saja isi dari kepala orang sukses diluar sana. Kita bisa menjelajahi pikiran mereka. Siapa yang tidak ingin mengetahui apa yang dipikirkan Einstein, Edison, Tesla, Graham Bell, Steve Jobs, Wozniak, **. Habibie dan tokoh-tokoh pemuka dunia lainnya? Dengan membaca, kita juga bisa menentukan passion kita. Kita akan dimudahkan untuk meniti jalan menuju kesuksesan dengan buku-buku yang kita baca. Masa depan kita ditentukan oleh perangai kita saat ini, apakah kita mau membaca atau tidak. Dan masih banyak lagi manfaat dari membaca, bla bla bla bla..."


Ucapannya tentang motivasi membaca buku memang terkesan terlalu memaksa. Seolah-olah beliau sangat ingin membuat kami langsung suka membaca buku. Berpuluh-puluh judul buku yang beliau rekomendasikan untuk kami baca terus terlontar tanpa henti dari mulut beliau. Setiap hari beliau melakukan hal yang sama pada kami setiap kali ada kesempatan. Tak kenal lelah. Sungguh sosok pejuang literasi yang sangat tangguh. Begitu pikir sosok diriku yang sudah paham akan urgensi literasi di masa depan.