
Musim perekrutan anggota dari organisasi-organisasi pun berlalu. Berbagai poster perekrutan anggota mulai dilepas satu persatu dari majalah dinding madrasah. Masing-masing organisasi telah mendapatkan anggotanya sendiri-sendiri. Begitu pula teman-temanku. Hampir semua dari mereka diterima di organisasi yang mereka daftar. Futsal, basket, bulu tangkis, pencak silat, Ahlan TV crew, Ahlan magazine crew, Sapala Aulita dan yang lainnya. Menyedihkan sekali melihat diriku yang seperti ini. Padahal, pada awalnya aku sangat percaya diri bisa diterima di setiap organisasi yang kuinginkan. Beberapa orang kuberitahu bahwa aku pasti diterima di Majma' Dakwah. Tapi, ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita. Sekarang, apa mau dikata. Mau ditaruh mana wajahku ini.
Tapi sejauh ini, aku masih belum mendengar lagi kabar tentang kelanjutan seleksi HBA. Katanya mau diadakan latihan rutin untuk menguji seleksi alam. Namun, sampai saat ini tidak ada satupun latihan yang diadakan oleh panitia organisasi. Entah karena apa, aku tidak tahu. Ada juga yang bilang bahwa semua calon anggota organisasi HBA langsung diterima tanpa syarat. Tapi, sampai saat ini belum ada kejelasan yang langsung bersumber dari panitia organisasi HBA sendiri.
Hari-hari berikutnya, berjalan seperti biasa. Hanya saja karena trauma di seleksi MD kemarin, aku jadi lebih jarang memberi salam kepada para senior. Baru kali ini aku merasa sangat diremehkan, dan direndahkan karena ketidakmampuan yang kumiliki. Sejengkel-jengkelnya aku kepada orang-orang yang meremehkanku semasa awal menulis dulu, aku tak pernah merasa sejengkal ini. Namun, ini bukan masalah yang serius. Mereka belum tahu saja, kebanyakan orang yang dulu meremehkanku menyesal karena pernah meremehkanku. Aku tidak akan jatuh hanya karena satu kali gagal lalu diremehkan. Akan kujadikan semua kata-kata menjatuhkan mereka menjadi pendorong untuk berlari lebih jauh lagi. Mereka belum tahu siapa aku. Manusia yang jika diremehkan malah akan menjadi lebih overpower.
Kebetulan di dekat-dekat dengan masa itu, OSIS divisi Ibadah mengadakan suatu lomba. Lomba hafalan yang terdiri atas empat cabang. Hafalan 5 juz awal, 5 juz akhir, Hisnul Muslim, dan hadis Arbain Nawawiy. Aku sempat pernah mengikutinya semasa MTW dahulu. Namun, baru di tahap babak pertama, aku langsung gugur karena saking banyaknya saingan-sainganku yang merupakan santri jenjang IL/IM. Tapi sekarang aku adalah santri IM. Kini giliranku untuk balas membantai adik-adik kelas yang akan mengikuti lomba ini. Selain itu, aku juga melihat kesempatan lain saat aku mencoba mencermati adanya lomba ini dari sisi yang berbeda. Ini adalah sebuah ajang bagiku. Ajang untuk menjadi bintang bersinar yang sebenar-benarnya. Jika aku menang, setidaknya aku bisa membuktikan kepada mereka bahwa aku adalah sosok yang tak patut diremehkan. Aku akan membuat mereka menyesal karena telah menolakku.
Belum berlalu satu hari sejak diselenggarakannya pendaftaran lomba tersebut, sudah ada satu temanku yang mengajak untuk ikut mendaftar. Namanya Hasyim. Dia adalah salah satu pendaftar MD yang diterima menjadi anggotanya. Sebenarnya aku sedikit merasa iri padanya. Karena, orang-orang di sekitarku dan juga para senior seolah menganggapnya sebagai orang yang hebat. Padahal tidak juga. Aku yang bisa dibilang teman dekatnya, tahu betul bagaimana tabiat asli dari sosok Hasyim sebenarnya. Karena mendapat teman mendaftar, aku pun semakin yakin untuk berpartisipasi dalam lomba ini. Dia mengikuti cabang Hisnul Muslim dan Hadits Arbain, sementara aku hanya Hadist Arbain saja. Menurutku percuma ikut dua cabang lomba jika tidak bisa menang di keduanya. Lebih baik fokus pada satu cabang tapi pasti menang,kan? Lagipun, aku sudah berpengalaman mengikuti lomba Hadits Arbain ini.
"Berarti, ente yang open war ya? Kita jadi saingan di lomba Hadits Arbain ini!"
Mulai detik ini, aku memulai keseriusanku dalam mengikuti lomba ini. Setiap waktu yang ada, senantiasa kugunakan untuk mengulang-ulang hadis yang pernah kuhafal. Waktu-waktu menulisku pun rela kukorbankan. Awalnya, ini semua hanya demi agar orang-orang mengakui kehebatanku. Tapi, aku bersyukur karena Hasyim mengingatkanku tentang hal tersebut. Ia berkata bahwa aku tidak boleh berusaha keras menghafal hanya demi memenangkan lomba ini, tapi aku juga harus ingat bahwa segala amal yang kau lakukan di dunia ini harus didasari niat lillahi ta'ala. Aku pun melakukannya. Siang dan malam terus berganti hanya untuk hadits, hadits dan hadits. Hingga tibalah waktu dimana babak pertama akan diselenggarakan.
Aku meminta pada Allah di hari itu agar aku dimudahkan dalam segala hal yang akan kuhadapi di lomba ini. Lalu, aku memasuki ruangan lomba dengan menyerahkan semuanya pada Allah ta'ala. Alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Dan ternyata, keesokan harinya namaku diumumkan lolos ke babak berikutnya di papan pengumuman belakang masjid. Sementara Hasyim, namanya tidak tertera pada nama-nama peserta yang lolos di cabang Hadits Arbain. Namun, ia lolos di cabang Hisnul Muslim.
"Selamat ya. Ini memang karena Allah sudah melihat usaha keras ente." Hasyim menepuk lembut bahuku.
"Iya, Alhamdulillah. Ente juga tetap semangat, ya!" kami pun kembali bersama melanjutkan usaha menuju puncak kesuksesan, di cabang masing-masing.