Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 13



Bab 4 : Pahit


Pengakuan orang lain. Segalanya terlihat indah ketika kita memiliki hal tersebut. Pujian, penghormatan, dipandang tinggi, dan segala hal positif yang orang lain berikan kepada kita. Seolah, itu adalah kebahagiaan hakiki yang sangat ingin dicapai oleh semua orang. Seakan itulah tujuan kita diciptakan dan hidup di dunia ini. Ingin dilihat orang lain, ingin dipuji, ingin menjadi paling sempurna. Tak ada yang bisa mengalahkan kita. Itulah kebahagiaan yang sebenar-benarnya.


Namun, ternyata itu salah. Pengakuan itu bagaikan budak. Kebahagiaan semu yang selalu di damba-dambakan oleh banyak orang. Padahal sudah pasti dia takkan pernah menjadi milik siapapun. Tapi orang-orang masih saja tetap mengejarnya. Setiap orang memiliki kepala yang berbeda-beda. Pemikiran mereka akan selalu berubah-ubah dan kita tak akan pernah punya kendali atasnya. Mereka itu milik orang lain dan akan selamanya begitu. Lantas, apa lagi yang ingin kau kejar? Apa yang masih kau harapkan dari budak pemikiran tersebut? Tidak akan ada yang namanya kebahagiaan. Hanya kehampaan yang akan menunggumu di balik semua itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seleksi majma' dakwah akan berlangsung di hari esok. Hari Jum'at. Aku merasa sudah siap di malam hari itu. Saking percaya dirinya, aku sampai merasa tidak perlu mempersiapkan diri lagi. Padahal aku mendengar desus-desus bahwa akan ada tes ceramah dalam seleksi tersebut. Sementara aku belum pernah sekalipun berceramah sebelumnya. Aku terlalu meremehkan. Di saat teman-temanku yang juga mendaftar bersungguh-sungguh mempersiapkan, aku malah hanya tiduran di atas kasur. Malas. Lagi pula ini adalah malam Jum'at. Malam yang memang sudah sewajarnya dihabiskan untuk berleha-leha bagi para santri, karena keesokan harinya adalah hari libur.


"Ah, aku kelihatan alim, kok. InsyaAllah keterima, lah..." begitu pikirku saking percaya dirinya.


Sembari menyandarkan kepala pada kedua tangan, aku berbaring di kasurku untuk melepas lelah seharian. Sesekali menyeruput susu hangat yang baru saja kubuat. Ah, memang nikmat melakukan rutinitas seperti ini di setiap malam Jum'at. Bagi kami, malam jumat sudah seperti weekend yang dihabiskan untuk nongkrong di cafe, walaupun kami tak boleh keluar dari pesantren. Minum White coffee serasa minum premium Starbucks. Hahaha...


Namun, ketenangan jiwa itu mendesak sirna setelah datangnya Tsari yang membawa selembar kertas sambil terburu-buru. Aku langsung terbangun dari kasurku.


"Hei, ngapain kok buru-buru?" tanyaku.


"Mau bikin papan nama, bahlul! Ana lupa cak..." dia langsung mengobrak-abrik kardus seolah mencari banyak sesuatu secara sekaligus.


"Papan? Nama? Buat ap-alamak! Ana juga lupa. Buat MD, ya?"


Matahari pun menerbitkan dirinya di hari Jumat pagi tersebut. Mau tidak mau, aku sudah harus siap menghadapi seleksi tersebut di hari ini. Pukul delapan tepat. Itulah waktu dimana seleksi ini akan dimulai. Dan kami sudah harus berada di gedung Mekkah dua sebelum tiba waktu itu. Aku pun memanfaatkan waktu ini untuk mandi dan bersiap-siap, selagi masih jam enam pagi. Lalu kembali membaca ulang buku Tajwid dan buku-buku Tsaqofah Islamiyah yang sekiranya bisa membantu untuk seleksi nanti. Mengenakan baju koko putih, songkok hitam, dan tak lupa membawa papan nama yang baru kubuat semalam. Aku pun berangkat menuju madrasah di hari yang sebenarnya libur tersebut.


Sesampainya di sana, ternyata gedung madrasah masih sangat sepi. Hanya ada beberapa senior dari majma' dakwah yang merupakan panitia dari seleksi ini, sedang berjalan-jalan memutari gedung. Mondar-mandir dari lantai satu ke lantai tiga dengan membawa kursi Chitose, kardus-kardus snack, berkas-berkas, dan sebagainya. Sementara itu, aku belum melihat satupun dari teman-temanku yang mendaftar datang kemari. Tsari pun juga belum terlihat batang hidungnya hari ini. Entah sedang apa mereka semua. Apa masih belum selesai bersiap-siap?


Aku pun masuk ke gedung terlebih dahulu. Naik ke lantai tiga, tempat di mana kelas 2A berada. Di sanalah seleksi untuk kelompok kloter pertama berlangsung. Dan aku termasuk dalam kelompok kloter pertama tersebut. Saat kulihat nama-nama urutan para pendaftar, namaku-lah yang paling teratas. Dengan artian, akulah orang pertama yang akan masuk ruangan lalu diseleksi terlebih dahulu. Satu getaran mendadak menyetrum tubuhku. Entah mengapa, tiba-tiba aku bergidik ngeri. Tubuhku gemetaran. Rasanya seperti ingin buang air kecil secara terus-menerus. Perasaan macam apa ini?


Seperempat jam pun berlalu. Akhirnya mereka datang secara berbondong-bondong. Hasyim, Tsaqif, Tsari dan yang lainnya. Sementara aku sudah menunggu sejak tadi di atas lantai tiga ini. Aku memperhatikan mereka dari balik lusur tembok di lantai tiga. Dan sampailah mereka di tempat dimana aku berdiri saat ini.


"Peserta pertama!"


Tak lama kemudian, aku pun dipanggil. Seorang panitia berjas majma' dakwah menuntunku masuk ke dalam kelas. Aku pun menurut saja dan ikut masuk kelas.


"Assalamualaikum..." begitu masuk ruangan, aku langsung dikagetkan dengan tata letak kelas yang dibuat sedemikian rupa ini. Aku berada di tengah kelas, sementara itu, tujuh bangku yang dibentuk setengah lingkaran disusun mengelilingi diriku. Para rois dari tiap divisinya masing-masing, duduk di atas bangku tersebut. Seleksi macam apa ini? Ini sih lebih tepatnya seperti persidangan untuk para tersangka di penghakiman.


Aku diminta untuk mengangkat papan namaku dengan kedua tangan. Dan di saat itu, para kru kameramen segera mengambil fotoku. Ternyata hanya itulah guna dari papan nama yang kubuat semalaman ini. Kemudian barulah aku masuk ke tahap pertama dari seleksi itu. Pemahaman tajwid. Kurasa aku bisa menjawab semua pertanyaan mereka dengan benar. Lalu, aku beralih ke tahap kedua. Tilawah Al-Quran. Aku diminta untuk membaca Al-Quran dengan tartil dan mengikuti pedoman hukum-hukum tajwid yang benar. Sejauh ini masih lancar-lancar saja. Lanjutlah aku ke tahap berikutnya. Tsaqofah Islamiyah. Kurasa di sini juga tidak ada masalah. Hanya ada beberapa pertanyaan saja yang tidak bisa kujawab.


Dan akhirnya, tibalah aku di satu tahap terakhir sebelum penghujung dari seleksi pendaftaran ini. Ya, tepat seperti yang rumor-rumor itu bicarakan. Mereka memintaku untuk berceramah. Seorang Rois berkacamata dengan perawakan tinggi-besar yang duduk di bangku tengah itu, menatapku sinis. Dari tatapan matanya, ia seolah sudah tidak menyukaiku sejak pertama kali melihatku. Dari tadi, Ia juga terus merosting apapun jawaban yang kuberikan, entah itu benar atau salah. Dan kali ini adalah gilirannya untuk menyeleksiku di bagian ceramah. Tubuhku jadi semakin gemetaran saja.