
"Sholah, sholah, sholah, sholah, sholaah! Hayya sholah, sholaah! Istaiqidzu lis sholah, istaqidzu lis sholaah!!!"
Suara teriakan OSIS divisi Ibadah atau yang biasa disebut "Syurtoh" kembali menggelegar di seluruh penjuru gedung Mina. Teriakan membangunkan santri untuk sholat shubuh itu kembali menusuk telingaku di hari pertama tersebut. Sudah sekian lama aku tak mendengarnya. Aku belum terbiasa dengan hal tersebut. Yang biasanya di rumah hanya dibangunkan dengan halus atau bahkan skip sholat jama'ah, di sini kami benar-benar dipaksa untuk bangun. Pilihannya hanya dua, bangun atau harus berurusan dengan para senior dari divisi Ibadah.
"Sholaaaaaah!!!" aaargh! Benar-benar mengganggu tidurku. Bagaimana hidupku bisa tentram kalau begini terus?
"Hayya syabab! Istaiqidzu wa istaiddu lis sholah! (Marilah para pemuda, bangun dan bersiaplah untuk sholat)" seorang senior menepuk-nepuk pahaku berniat membangunkan diriku agar aku bersiap sholat shubuh. Namun, tetap saja aku membangkang. Aku hanya kembali menarik selimut lalu meneruskan tidurku tanpa peduli dengan senior yang membangunkanku tadi. Akhirnya, senior yang tadi berusaha membangunkanku mengubah caranya membangunkan dengan metode pijit pundak. Dia mencubit pundakku dengan pijitan-pijitan tipis yang menusuk. Sungguh, di saat itu juga mataku langsung membelalak terbuka.
Aku pun menyerah dan berwudhu. Ternyata syaithan yang terbawa dari rumah masih menyangkut di beberapa bagian tubuhku. Terkhususnya ketika diminta bangun untuk sholat shubuh. Seolah tiga ikatan tali yang telah disediakan olehnya, siap menjerat diriku dari sisi manapun dan kapanpun jika aku semakin menjauh dari kasur dan bantal. Sungguh pertarungan sengit yang sedikit konyol. Tapi, memang butuh perjuangan untuk beradaptasi dengan kehidupan pesantren yang serba teratur ini.
"Tis'ah! wal akhir, 'asyroh!" itu adalah hitungan mundur sebelum gerbang asrama ditutup dalam bahasa arab. Kami yang masih tertinggal di belakang, segera lari kalang kabut demi tidak terkunci di dalam asrama. Karena nantinya, bagi orang-orang yang terlambat atau yang terkunci di dalam asrama akan mendapat poin pelanggaran serta hukuman khusus dari OSIS divisi Ibadah. Dan tentunya tak ada seorangpun dari kami yang menginginkannya.
Beginilah keseharian ku di pesantren ini. Dari hari ke hari selalu ada saja hal-hal tidak mengenakkan yang senantiasa mengganggu kehidupan damai ku. Tapi menurutku ini tidak masalah. Karena aku tahu semua hal ini adalah baik untukku. Seperti firman Allah subahanahu wa ta'ala dalam QS. Al-Baqarah ayat 216 : Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu yang sebenarnya itu baik bagimu. dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
Baqo' atau membuat halaqoh menghafal qur'an ketika pagi setelah shubuh dan sore, di antara satu maghrib dan isya' sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang tak pernah luput untuk dilakukan. Lalu, berangkat ke madrasah dari pukul tujuh pagi hingga pukul dua siang pun kian menjadi santapan harian yang tak mungkin untuk dilewatkan. Tak terasa, dua minggu kini telah berlalu sejak hari kedatanganku di waktu itu. Aku mulai kembali terbiasa dengan kehidupan pesantren ini. Tempat tidur yang tidak terlalu empuk, namun cukup nyaman untuk beristirahat sejenak dari kehidupan menjenuhkan ini. Kemudian lauk yang disediakan oleh "Math'am" atau sebutan dari ruang makan yang ada di sebelah barat pesantren. Walaupun tak selalu enak seperti makanan di rumah, setidaknya makanan di sana masih bisa dibilang layak makan jika dibandingkan dengan pondok-pondok lain yang hanya menyediakan nasi berlauk tahu-tempe untuk santri-santrinya.
Hingga akhirnya datanglah hari itu. Hari dimana sosok itu mulai muncul dalam kehidupanku. Kalimat-kalimat yang ia lontarkan mulai merasuki pikiranku, mengusik-usik hatiku. Tentu akan ada sebuah proses sebelum mencapai hasil, apapun hal itu. Dan perlu diketahui, proses itu tidak sesimpel yang kalian bayangkan. Berkali-kali setiap kelumit kata yang keluar dari mulutnya berlalu saja tanpa peduli apakah diterima ataupun terabaikan. Dia terus saja pantang menyerah memotivasi kami. Sampai akhirnya, dia berhasil membuat kami sadar akan esensi sebuah kesuksesan. Aku telah dibuat sadar olehnya. Oleh karena itu, mulai saat itu aku memutuskan. Aku akan berhenti menjadi orang rata-rata.
...****************...
Di hari itu, pagi yang cerah menyelimuti dunia. Embun-embun pagi yang timbul pada hehijauan tanaman mulai berjatuhan, terjun menyusuri tulang daun hingga ke ujungnya. Membentuk setetes cairan dingin yang semakin lama semakin melembung besar. Hingga akhirnya terjatuh, kemudian menyatu dengan debu dan tanah. Hawa pesantren di pagi hari itu masih sangatlah dingin. Pukul enam lebih tiga puluh menit. Aku sudah bersiap untuk pergi ke madrasah. Dengan tas biru mungilku yang kugendong di atas pundak, aku pun berangkat ke madrasah.
Setelah turun menyusuri tangga asrama, aku langsung mengenakan alas kakiku lantas bergegas menuju selasar yang menuntun jalan menuju madrasah. Di saat itu, jalan sudah ramai oleh gerombolan para santri yang berbondong-bondong berangkat menuju madrasah. Baik jalanan berpaving, maupun selasar kamar syuqqoh tahfidz di lantai satu gedung Mina yang sedang kutapaki ini. Di antara mereka ada yang membawa tas seperti diriku dan ada pula yang hanya membawa buku pelajaran dengan ditenteng di atas bahu atau mengempitnya dengan lengan. Mereka semua saling asik mengobrol satu sama lain sambil berjalan menuju madrasah.
Sementara aku, aku hanya berjalan menyendiri di pinggir jalan. Aku tak tertarik dengan hal semacam itu. Aku hanya berjalan sendirian sembari mempercepat langkah kakiku agar lekas sampai di madrasah. Dengan dalih, mengobrol hanya akan membuang-buang waktu. Padahal, sebenarnya tidak juga. Itu semua hanya karena aku adalah seorang introver yang tak pandai bergaul. Mau dilihat dari sisi manapun, jelas sekali aku seperti bocah pendiam yang antisosial. Menjadikan buang-buang waktu sebagai alasan, sungguh berketerbalikan sekali dengan kepribadian asliku. Walau begitu, aku masih tetap bergaul dengan beberapa teman yang memang sudah lama akrab denganku. Setidaknya untuk bertahan hidup. Mau bagaimanapun, manusia adalah manusia. Selalu butuh dengan yang namanya interaksi sosial untuk menjaga kelangsungan hidup.
Mungkin memang terdengar sedikit ekstrim aku berkata begitu. Sependiam itukah aku hingga aku tak bisa berteman dengan banyak orang, ataupun sekadar bersosialisasi singkat dengan orang lain? Sebenarnya tidak begitu juga. Aku memiliki alasan dari semua hal itu. Ya. Aku memiliki masa kelam semasa duduk di jenjang SMP dahulu.