Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 5



Bab 2 : Awal Mula dari Sebuah Perubahan


Untuk menciptakan sebuah perubahan memang membutuhkan suatu perjuangan yang besar. Namun, mau dikata sebesar apapun perjuangan itu, jika tidak ada keinginan untuk merealisasikannya maka semuanya tetaplah sebuah bualan belaka. Oleh karena itu, setiap kali kita menghadiri suatu majelis ilmu, yang sering kali kita dengar adalah pembahasan tentang pentingnya sebuah niat. Karena sejatinya, semua perbuatan yang kita lakukan di dunia ini pastinya didasari akan sebuah niat. Keinginan untuk melakukan, dan tekad yang kuat untuk merealisasikan. Maka, di sini biar kuperjelas. Perubahan tidak akan disebut perubahan bila tidak ada keinginan untuk berubah. Dalam Al-Quran disebutkan "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga kaum itu berusaha untuk mengubah apa yang ada pada kaum itu sendiri". Kini, menjadi jelaslah esensi dari sebuah keinginan untuk berubah. Dan itulah salah satu hal yang pernah kualami semasa zaman evolusiku dahulu.


...****************...


Dahulu, ketika aku masih duduk di bangku jenjang Mutawassithah atau yang setara dengan SMP, aku pernah mengikuti sebuah himpunan bela diri. Ilmu bela diri yang dulunya selalu menjadi trending topik semenjak aku duduk di kelas satu MTW. Bela diri itu bernama Thifan Po Khan. Ilmu bela diri sejenis kungfu yang dirintis berdasarkan syiar-syiar agama Islam. Sedikit melirik ke sejarah Thifan Po Khan, ia adalah kungfu yang konon katanya pernah digunakan oleh pasukan Janissary milik Sultan Muhammad Al-Fatih semasa kemerdekaan Daulah Turki Utsmani. Lantaran di masa kejayaannya mereka, Turki Utsmani pernah menaklukkan Konstatinopel dan hampir menguasai sebagian besar belahan dunia. Tak heran jika banyak sekali santri yang berminat mengikuti bela diri tersebut.


"Kungfu Muslim, Kepalan Tangan Bangsawan, Allahuakbar!!!"


Itulah slogan dari himpunan bela diri Thifan Po Khan yang selalu kami bangga-banggakan. Kami selalu melantunkannya dengan lantang setiap kali kami selesai latihan. Slogan inilah yang membuat kami senantiasa bersemangat walau sekeras apapun latihan yang kami jalani di perguruan ini. Slogan ini memiliki makna bahwa, Ia adalah kungfu yang khusus dirancang untuk kaum muslimin demi berjihad fi sabilillah, dan juga merupakan ilmu bela diri yang turun temurun diajarkan dari para bangsawan Turki terdahulu. Kurang keren apa coba?


Thifan Po Khan selalu terbuka luas bagi seluruh kalangan yang ingin mempelajarinya. Sehingga siapapun, baik orang yang tulus niatnya maupun orang yang hanya ikut-ikutan karena gengsi, bisa leluasa keluar-masuk himpunan tanpa ada konsekuensi apapun. Meski begitu, dalam bela diri ini ada sebuah istilah yang dikenal dengan "Seleksi Alam". Ya, sebuah seleksi dari alam yang menguji keistiqomahan para pasukan yang mendalami ilmu bela diri tersebut. Ketika seseorang memiliki niat yang tidak tulus saat mempelajari ilmu bela diri ini, maka secara tidak langsung ia akan tersingkirkan. Entah apapun cara yang digunakan Alam untuk menyingkirkan mereka.


Dan kini, bentuk dari himpunan ini bukanlah sebuah forum perkumpulan bela diri yang bisa leluasa dikeluar-masuki seperti dahulu. Melainkan berbentuk organisasi resmi Pesantren Islam Al-Irsyad. Sehingga tak ada lagi orang yang bisa leluasa keluar-masuk himpunan ini. Keluar ya keluar. Dan jika ingin bergabung kembali maka harus dengan melalui pendaftaran ulang serta seleksi terlebih dahulu. Beginilah sistem berjalannya setiap organisasi yang ada di pesantren ini. Jika ingin mendaftar, maka kita tidak bisa serta-merta mendaftar. Kita harus menunggu dari pihak organisasi sampai mereka membuka pendaftaran bagi santri-santri yang ingin mendaftar. Sungguh kehidupan yang bertolak belakang antara jenjang Mutawassithah dan I'dad Mu'allimin. Bagaikan kutub selatan dan padang rumput sabana. Dari sinilah aku mulai belajar tentang kehidupan berorganisasi.


Sore itu, aku baru usai memuroja'ah hafalanku dari masjid. Aku hendak pulang ke asrama untuk kemudian mandi dan menunaikan beberapa hajat lainnya. Dalam perjalanan, aku iseng tak langsung pergi menuju asrama. Aku berjalan-jalan terlebih dahulu ke halaman madrasah untuk mencari angin sore. Di saat itulah aku dikejutkan oleh sesuatu. Papan majalah dinding madrasah yang sedang dikerumuni oleh beberapa orang. Sontak, pandangan mataku langsung tertuju ke arah mading pengumuman tersebut. Secarik kertas tebal dengan desain ala perguruan-perguruan kungfu tertempel di atasnya. Himpunan Badurkhan Al-Irsyad, itu adalah poster open recruitment. Akhirnya... inilah yang kutunggu-tunggu sejak sekian lama. Akhirnya organisasi HBA membuka pendaftaran untuk para calon peserta anggota barunya.


Di hari itu juga, aku pun langsung mendaftarkan diri. Dengan biaya administrasi seharga dua puluh lima ribu, ditukar dengan secarik kertas berisikan formulir pendaftaran. Ada beberapa data diri dan informasi yang perlu kuisi. Kurasa, aku tak perlu mengisinya sekarang juga. Karena tanggal pengumpulan formulirnya juga masih sangat lama. Untuk saat ini yang perlu kusiapkan hanya ada tiga hal. Kesiapan mental dan fisik serta kemampuan terorganisir untuk time managing dan menjadi disiplin. Saat aku masih kelas tiga MTW dahulu saja, diriku masih kesulitan untuk membagi waktu. Mana waktu untuk menulis, mana waktu untuk belajar, mana waktu untuk menghafal, dan mana waktu untuk melakukan "Sentai". Sebuah istilah persenaman anggota badan dalam bela diri Thifan Po Khan. Tapi kurasa, aku yang saat ini sudah lebih dari kata siap.


Satu pekan setelah hari dimana aku mendaftar, kami para calon anggota pun dikumpulkan. Secarik kertas perintah untuk berkumpul kini telah tertempel di papan pengumuman belakang masjid Para senior atau yang biasa disebut "Rois", mengumpulkan kami di lantai dua masjid. Ya, seperti biasa. Mereka hanya menyampaikan kalimat motivasi, penyemangat, dan beberapa ancaman bagi orang yang salah niatnya. Telingaku sudah biasa mendengar itu semua dari para senior Thifan Po Khan ketika di jenjang Mutawassithah dahulu. Dan di akhir, mereka menganjurkan kami semua untuk ikut latihan bersama di malam hari sabtu pekan depan.


Tibalah hari sabtu itu. Tanpa sempat kami makan malam, para senior sudah mulai menghitung mundur dari bawah lapangan sana. Satu, dua, tiga. Dengan tergesa-gesa, aku segera memakai kaos hitamku dan langsung lari compang-camping menuruni tangga asrama. Lapangan Always Raxe yang berada tepat di samping gedung Mina, kini terisi penuh oleh para santri berpakaian kaos hitam dengan celana apa kadarnya. Sedangkan para senior, mereka menggunakan seragam resmi persatuan Badurkhan yang berwarna biru gelap beserta sabuk putih yang diikat di pinggangnya. Sembilan... sepuluh! Dan pada akhirnya, sama saja aku terlambat. Sia-sia sudah lari compang-camping tadi. Habisnya, cepat sekali hitungan para senior itu.