
Di sela-sela itu, aku juga masih mengerjakan rancangan proposal organisasi yang akan kurintis ini. Semua kelengkapan data hampir selesai. Dari nama organisasi, visi-misi, lambang, latar belakang, program kerja, dan lain-lain. Aku pun berniat untuk menunjukkannya pada Rois Khalid agar ia memeriksanya.
"Filosofinya, Al-Irsyad: nama pesantren kita; Literature: bahasa Inggris dari sastra,ana cari di kamus kemarin; Organisasi: perkumpulan, nama lain dari club, majma', dan istilah-istilah lainnya agar tidak menyerupai nama-nama organisasi lain. Bagaimana menurut Rois?"
"Hmm... ALO, dong?" dia bertanya memastikan. Aku pun mengangguk pasti.
"Alfheim Online, berarti?"
"Nggak gitu juga. Tapi kok bisa pas banget, ya? Padahal ana nggak kepikiran tentang hal itu sebelumnya." dia malah mengaitkan nama buatanku dengan hal-hal yang berbau jalan hidupnya. Bau bawang.
"Ya, tapi bagus sih. Nggak papa, terusin. Berarti, ente tinggal ketik di komputer habis itu diprint, ya. Ntar pas liburan juga nggak apa-apa." dia langsung menyetujuinya, begitu mengetahui nama organisasi ini sejalan dengan apa yang digiati olehnya. Padahal aku tak ada maksud seperti itu sebelumnya. Cih, dasar wibu. Dan seperti biasa, di akhir ucapannya ia selalu menyerahkan semuanya padaku. Seolah, Ia hanya ingin menikmati hasilnya saja. Lalu, apa tugasnya sebagai ketua yang sebenarnya?
Hari demi hari terus berganti. Tak terasa, hari dimana bapak semi final akan diselenggarakan sudah semakin dekat. Kami terus berjuang bersama-sama untuk memutqinkan hafalan pada cabang masing-masing. Sudah dua pekan penuh aku sama sekali tidak menulis. Setiap waktu yang ada kugunakan untuk terus mengulang-ulang hafalan haditsku. Dari sanad sahabat, riwayat hadits, urutan hadits, serta lafadz-lafadz permulaan hadits yang berbeda-beda di setiap haditsnya. Di sela-sela waktu kosong yang kumiliki, aku juga terkadang meminta salah satu temanku untuk menanyaiku tentang hadis-hadis yang sudah kuhafalkan. Semakin hari hafalanku semakin kuat. Hingga aku merasa, tak ada lagi soal yang bisa membuatku kebingungan dan salah menjawab. Ketika aku menguji coba hafalan haditsku dengan teman, aku tak pernah meleset sedikitpun. Baik dari sisi mutun hadits, maupun urutannya. Aku merasa sudah siap menghadapi babak semi final ini.
Pada dini hari dimana semi final akan diselenggarakan, aku bangun untuk sholat tahajud. Aku berdoa agar kali ini Allah juga memudahkan langkahku, dalam menghadapi berbagai rintangan yang datang menghadang nantinya. Di sisa waktu menuju adzan shubuh berkumandang, aku kembali memurojaah buku saku hadits Arbain Nawawi yang terkandung di dalamnya empat puluh satu hadits ini. Terus mengulang dan mengulang-ulanginya. Hingga tibalah saat dimana semi final diselenggarakan di malam hari Rabu tersebut.
Aku bersiap menggunakan kemeja rapi, dengan sarung yang kulipat demikian sempurna. Kemudian, berangkatlah aku dan Hasyim secara bersamaan menuju gedung Mekkah 3. Di sana para panitia lomba dari OSIS divisi Ibadah sudah menunggu kedatangan kami. Begitu sampai, kami langsung masuk ke ruang seleksi dengan cabang lomba masing-masing. Masuk dengan senyum begitupun keluar dengan senyum. Seharusnya begitu. Namun, itu hanya berlaku bagi Hasyim saja. Ia bisa menjawab semua pertanyaan juri dengan lancar tanpa salah sedikitpun. Sementara aku, ekspresi murung segera terbentuk begitu aku keluar dari ruangan seleksi cabang Hadits Arbain Nawawi. Aku memang bisa menjawab semua pertanyaan tentang hadits dengan lancar. Namun, ada satu pertanyaan yang tak bisa kujawab. Sebutkan nama lengkap beserta nasabnya dari pengarang kitab Hadits Arbain Nawawi ini. Itulah satu pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh sang juri tadi. Pertanyaan yang tak bisa kujawab. Nama pengarang kitab? Mana mungkin aku memperhatikan hal tersebut.
"Iya, sih. Tapi ana dah berjuang keras, lho. Masa masih nggak bisa jawab juga?"
"Kalau ente udah ngerasa berjuang keras, berarti tenang aja. Usaha tidak akan mengkhianati hasil." ia merangkul bahuku dari samping. Di malam itu, berakhirlah sesi semi final dari lomba hafalan empat cabang tersebut. Kami pun pulang berdampingan menuju asrama.
Tak kusangka, secepat inikah nama-nama santri yang lolos ke babak berikutnya diumumkan. Di malam hari Kamis itu, aku sedang nongkrong di belakang kamar Qodisiyah bersama Hasyim sembari memakan mie instan bersama. Kami berbincang-bincang tentang masa lalu kami masing-masing. Singkatnya saling bercerita, lah. Dan di saat itu, pandangan kami sedang tertuju ke arah Masjid Al-fadhl. Dari sini, bagian belakang Masjid Al-Fadhl bisa terlihat dengan jelas. Ada seseorang berhodie hitam dengan tudung tertutup, sedang berjalan ke arah mading sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Kertas berwarna putih dengan tabel-tabel yang sedikit samar. Begitu melihat hal tersebut, kami menduga bahwa itu adalah pengumuman nama-nama para finalis yang akan tampil di panggung nanti. Aku tak sabar. Aku ingin melihatnya sekarang juga.
"Sabar, lah. Besok aja. Ini udah jam sepuluh, lho. Gerbang asrama pasti udah tutup, kan?" Hasyim mencegahku.
"Iya juga sih. Tapi ana khawatir. Kalau nama ana nggak ada gimana?"
"Ya, setidaknya udah dapat manfaat, kan? Kalau nggak ada lomba ini, emang ente bakal muroja'ah hafalan hadits ente?" aku mangut-mangut mengiyakan.
Adzan shubuh pun berkumandang. Aku masih tertidur di atas kasurku karena semalam aku tidur terlalu larut. Aku baru bangun ketika Rijalul Hisbah meneriakkan hitungan kesembilan. Reflek, aku langsung lari terbirit-birit sembari memakai jubah di jalan. Dan Alhamdulillah, aku tidak terlambat. Akulah orang terakhir yang dengan selamat bisa keluar dari gerbang asrama.
Namun, keberuntungan itu hanya datang sekali saja. Aku hampir tersungkur ketika melihat namaku tidak ada di daftar nama-nama finalis lomba MH4. Aku kalah. Ya, aku kalah. Perasaan macam apa ini? Rasanya... rasanya pahit sekali. Padahal aku hanya perlu menerima kenyataan bahwa aku sudah kalah. Lihatlah dia. Entah mengapa keberuntungan selalu ada bersamanya. Dipandang sebagai orang hebat, lolos seleksi MD, dan sekarang, ia menjadi finalis dari lomba Hisnul Muslim. Sepahit Inikah yang namanya kenyataan? Hahaha... dari dulu aku memang sudah terlahir untuk tidak menjadi beruntung seperti kebanyakan orang. Nasibku selalu sial.