
Di hari-hari berikutnya, aku terus memikirkan tentang bagaimana bentuk organisasi ini nanti. Tentang latar belakang dibentuknya organisasi, program kerja, visi, misi, dan tentunya nama dari organisasi ini. Aku juga harus menyiapkan mentahan dari proposal yang akan kutulis. Aku tetap mencoba membuatnya walaupun aku sama sekali tak berpengalaman dalam menulis proposal. Tak peduli jika nanti hasilnya penuh dengan kesalahan. Yang terpenting, aku akan berusaha mewujudkan sesuatu yang awalnya hanya iseng belaka ini.
Sebaliknya, dia malah terlihat tidak peduli sama sekali dengan ide yang ia lontarkan sendiri. Hanya santai menikmati hidup, mendekam di zona nyaman. Dia tak tampak bergerak sedikitpun. Cih, begitu katanya ingin jadi ketua. Bagaimana jadinya dengan organisasi tenis meja yang merupakan organisasi papan atas, jika ketuanya adalah orang sepertinya? Ah, hentikan. Berpikir seperti itu adalah suatu perbuatan buruk.
Pada suatu sore, aku mulai menyusun proposal pertama dalam hidupku. Tentu dalam bentuk tulisan tangan. Cipik sekali. Tak terlihat resmi sedikitpun. Aku mengorbankan waktu menulisku hanya demi membuat proposal yang tak berbentuk proposal ini. Tapi lumayan. Setidaknya latar belakang dan visi-misi sudah kubuat. Namun, sampai titik itu, aku masih belum menentukan nama apa yang kiranya cocok untuk organisasi ini. Lalu, di malam harinya, aku mencoba berkonsultasi pada Rois Khalid.
"Ini proposalnya?" ia membolak-balik kertas binder A5 berisi tulisan-tulisanku itu menggunakan jemarinya. Lalu ia tertawa tertahan.
"Cuma rancangan doang." jawabku dengan tatapan sinis. Pasti dia meremehkanku.
"Ahaha... udah bagus kok. Tinggal lambang organisasinya mana?"
Di malam itu, lagi-lagi aku mengorbankan waktu menulisku demi membuat lambang organisasi ini. Aku terus menggambar dan menggambar, padahal aku tahu aku tak pandai dalam hal tersebut. Setidaknya di malam itu gambar kasaran dari lambang organisasi ini jadi. Buku menyambung mata pena kuno dengan filosofi; tinta yang mengalir membentuk tulisan-tulisan lewat sebuah buku. Maksudnya, dengan membaca buku, kita bisa dengan mudah menuliskan ide-ide yang ada di kepala kita. Walaupun sebenarnya ini sedikit berlawanan dengan idealismeku sebelum datangnya Ustadz Jaelani, sih.
Beberapa saat kemudian, ketika pikiranku masih berada di awang-awang, terbesit sesuatu di dalam kepalaku. Aku menemukan sebuah nama yang menurutku cocok untuk forum menulis ini. Nama yang kemudian menjadi bukti bahwa buku ini ditulis sekarang. Al-Irsyad Literature Organization.
spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam spam
(sori biar bisa disave :v)