
Di pagi hari itu ketika langit masih gelap dan awan hitam menggumpal di mana-mana, aku menerima sebuah kenyataan. Ya, kenyataan pahit sepahit biji kopi yang belum diolah. Cuaca hari ini mungkin akan menjadi buruk. Gemuruh kini terdengar. Rintik-rintik gerimis mulai berjatuhan di sana dan di sini. Awan-awan hitam semakin menggumpal membentuk sosok menyeramkan colomunimbus. Gelapnya mendung kini menyelimuti sebagian pelosok dunia. Petir-petir kecil mulai saling bersambaran di atas langit. Sepertinya sebentar lagi akan terjadi badai. Badai lebat yang akan membuat segala-galanya kacau. Kacau, sekacau suasana hatiku saat ini. Bayangkan, setelah tidak diterima syuqqoh tahfidz, ditolak MD, dan sekarang aku kalah dalam perlombaan MH4 sial sekali diriku ini. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin yang aku bisa.
Ternyata tidak seburuk yang kupikirkan. Hanya terjadi gerimis biasa di pagi hari itu. Dan rasa kecewa di hatiku juga tak berlalu lama. Mungkin sekedar efek samping biasa dari rasa syok yang kualami. Hari itu juga berjalan seperti biasanya. Pergi ke sekolah, makan siang, olahraga, mandi, sholat maghrib, baqo' sore, sholat isya, dan tidur. Kukira dampak dari jatuhnya diriku ini akan lebih parah dari yang kualami sekarang. Keputusasaan, mogok sekolah, malas melakukan apapun, dan hal-hal lainnya. Buktinya tidak ada satupun dari hal itu yang terjadi. Oh ya, tentu saja begitu. Aku kan sudah terbiasa. Bukankah sedari dulu aku selalu mengalami hal semacam ini? Dirundung, dikucilkan, selalu kalah dalam berbagai persaingan, dan sama sekali tak pernah dianggap, tak peduli seberapa keras diriku berusaha. Mereka tak pernah mengakui adanya diriku. Aku hanya sebatang hidung yang tak pernah dianggap keberadaannya.
Hahaha. Diriku tertawa. Lihatlah ia, diakui oleh banyak orang. Lagi-lagi pengakuan dan pengakuan. Mengapa harus pengakuan? Seolah pengakuan adalah syarat untuk hidup damai di muka bumi ini. Aku masih belum mengerti apa esensi dari sesuatu yang disebut dengan pengakuan tersebut. Sepenting itukah ia? Atau bahkan jika tanpa memikirkannya, mungkin kita akan bisa lebih tenang menjalani hidup ini. Aku tidak tahu! Benar-benar tidak tahu. Sudahlah! Jangan ganggu aku dengan pemikiran berbelit-belit tentang pengakuan ini. Aku sudah muak! Tanpa sadar kelopak mataku sudah basah akan air mata. Aku tersedu-sedu. Diriku yang sedang meringkuk di atas kasur ini, terusik hingga tak sengaja mengeluarkan air mata. Sebisa mungkin kujauhkan diriku dari tatapan mata orang lain. Betapa menyedihkannya diriku yang rapuh ini.
Aku tahu aku tidak boleh berlama-lama seperti ini. Menjalani hidup dengan tatapan mata kosong, seolah ini adalah akhir dari semuanya. Tidak! Bahkan semua ini masih belum dimulai. Jika aku sudah tidak sanggup dan berhenti hanya sampai di titik ini, berarti aku memang belum pantas menyandang gelar kesuksesan. Kesuksesan mustahil diraih oleh orang-orang yang lemah. Hanya orang-orang yang kuat mental dan fisiknya yang bisa berlari sampai titik terakhir. Aku tidak ingin menjadi orang lemah. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk kembali bangkit dari kubangan kekalahan ini. Kembali menata hati, sedikit-banyak menjadi seperti semula. Kembali melakukan rutinitas yang biasa kulakukan, dan kembali ke kebiasaan yang sudah lama kujalani sebelumnya. Menulis. Setidaknya kebiasaan ini bisa mengalihkan perhatianku untuk sementara waktu. Aku tak lagi memikirkan tentang musibah yang bertubi-tubi menimpaku belakangan ini.
Waktu berjalan cepat. Bulan ini adalah pertengahan bulan November. Tak terhitung sampai satu bulan lagi hingga hari kepulangan tiba. Dan tentunya, penilaian akhir semester juga datang menghampiri. Detik demi detik terus berjalan, seiring dengan mereka semua yang semakin mendekat. Membuat kami mau tidak mau harus bersiap menghadapi ujian terakhir sebelum kepulangan ini. Buku-buku tematik mulai terlihat bermunculan di tangan-tangan santri yang berangkat ke masjid. Yang biasanya menggenggam mushaf untuk dibaca, kini berganti kitab-kitab pelajaran tersulit yang akan diujikan. Aku pengecualian. Di saat semuanya sibuk membaca kitab, aku malah sibuk meneruskan kisah yang sedang kutulis. Mereka membolak-balik halaman kitab, sedangkan aku mengayunkan pensil dengan terampil di atas kertas. Bukannya aku tidak peduli dengan pelajaran yang akan diujikan. Melainkan, seperti yang sudah kusampaikan di awal, aku terbiasa belajar dengan cara sistem kebut semalam. Kurasa itulah metode belajar yang paling optimal jika dioperasikan dalam diriku.
Di sela-sela waktu yang tersisa, aku juga masih melanjutkan proses pembentukan organisasi menulisku. Asas terpenting dalam membangun sebuah organisasi adalah anggota. Walaupun bentuk, tujuan, visi-misi, dan nama organisasi sudah ada, tapi tidak ada unsur pembangun terpenting yaitu anggota, maka sama saja organisasi ini belum bisa disebut organisasi. Sebagaimana kerangka bangunan setengah jadi yang belum diisi batu bata ataupun dilapisi semen. Mudah rapuh dan gampang dirobohkan. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit aku mulai mencari teman-temanku yang suka menulis yang juga bersedia ikut serta dalam organisasi menulis ini. Satu-persatu kedatangi mereka. Kutawarkan pada mereka untuk bergabung dengan organisasi yang sedang kurintis ini. Setidaknya satu-dua orang sudah setuju untuk bergabung bersama kami. Itu sudah cukup untuk mengisi keterangan jumlah anggota dalam proposal yang sedang kutulis.
Di tengah-tengah pembentukan organisasi, saat aku sedang sibuk ke sana-sini mencari informasi, malah terjadi sejerat sengketa yang penyebabnya sepele di antara aku dan Rois Khalid. Pagi itu aku sedang memuroja'ah hafalanku di shaf terdepan saat waktu baqo' pagi setelah sholat shubuh. Dan kebetulan di sebelahku, Rois Khalid juga sedang duduk memuroja'ah hafalannya. Kami duduk bersandingan. Mendadak saat aku sedikit salah melafalkan bacaanku, Rois Khalid tanpa aba-aba langsung menceletuk membenarkan tanpa diminta. Aku pun membenarkan bacaanku sebagaimana yang Rois Khalid peringatkan. Sebenarnya tidak masalah jika hanya satu-dua kali. Namun ia malah berulang kali melakukannya. Setiap kali aku salah melafalkan satu huruf, ia langsung membenarkan seolah ia orang yang paling mutqin hafalannya.