
Bagiku, ini adalah hal biasa. Mungkin ini adalah salah satu efek dari cara orang tuaku mendidik diriku semenjak aku kecil. Ketika aku berbuat salah, terkadang ibuku mendiamkan diriku seharian sehingga aku akan kesulitan ketika hendak melakukan sesuatu. Seperti itulah sistem pendidikan yang dibentuk oleh orang tuaku untukku. Maka tak heran jika aku juga menjadi buah jatuh yang tak jauh dari pohonnya. Lagipula, belum lebih dari tiga hari aku mendiamkannya. Tapi, memang bukan hanya di perkara waktu itu saja aku menerapkan sikap tak acuh ini. Mungkin sudah terhitung berkali-kali aku melakukan hal yang sama kepada orang lain. Walau begitu, perbuatanku itu masih tetap bisa dihitung dengan jari.
Tak kusangka, dampak dari perbuatanku ini begitu besar hingga memengaruhi ketentraman hidupku di pesantren. Perlahan, orang-orang mulai menjauhiku satu per satu. Mendiamkan diriku, mengucilkanku, menganggap diriku tidak ada, lalu menghilang dari hidupku. Seolah aku memang tak pernah ada di dunia ini. Dulu aku adalah seorang ketua kelas. Bukan karena ditunjuk atau hasil dari mufakat kelas. Melainkan, karena diriku yang tunjuk diri ketika wali kelas menawarkan posisi tersebut kepada kami semua. Habisnya tidak ada satupun dari kami yang berani unjuk gigi. Aku rela melakukan semua itu hanya karena satu hal. Aku ingin menjadi bintang bersinar yang disaksikan oleh orang ramai. Aku ingin menjadi pusat perhatian dalam suatu hal yang positif. Kehormatan dan ketenaran. Namun, apa hasilnya? Aku hanya menjadi babu kelas yang terpaksa menurut ketika diperintah. Kesana-kemari melakukan tugas yang sebenarnya bukan bagianku. Sebagai ketua kelas, perkataanku tak pernah didengar. Apa boleh buat, aku memang tak memiliki kemampuan dasar apapun dalam hal memimpin.
Singkat cerita, aku dibully. Mereka merundungku dengan alasan karena aku menjadi ketua kelas yang tidak becus, buruk rupa, baperan, cupu, dan hal-hal buruk lainnya yang dapat mereka jadikan sebagai alasan. Sudah sering aku mendengar beragam gunjingan orang-orang tentangku di mana-mana. Terkadang mereka membuang berbagai macam sampah ke tasku seperti tisu bekas, sampah rautan pensil, dan hal kotor lainnya sepulang sekolah. Tak jarang juga aku mendapati ranjangku penuh dengan kotoran kaki ataupun ludah dari seseorang, ketika aku pulang ke asrama. Lalu, mereka juga sering menyembunyikan barang-barangku seperti kunci lemari, buku-buku pelajaran dan lain-lain. Hingga paling parah, seseorang bertubuh jakung yang kebetulan sekelas denganku semasa kelas satu MTW itu, pernah menarik kerah bajuku hendak mencekik leherku. Aku hanya bisa pasrah ketika itu. Mau melawan, sudah tentu aku akan kalah. Aku pun sampai pada suatu titik dimana aku tak lagi betah tinggal di pesantren. Begitu malang nasibku di masa itu.
Menyendiri di masjid, menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur'an sudah menjadi jadwal tetap sehari-hariku. Tak ada lagi hal penting di asrama ketika mereka tak lagi menganggapku. Kecuali satu hal, yaitu jadwalku menelpon orang tua. Aku menganggap asrama hanya sebagai tempat singgah untuk tidur saja. Mungkin ini adalah satu sisi positif dari kejadian yang pernah kualami waktu itu. Aku berusaha untuk serius menggeluti apa yang telah biasa kulakukan setiap harinya. Menghafal Al-Qur'an. Aku berusaha untuk istiqomah menghafal sedikit demi sedikit setiap harinya.
Memegang teguh sekelumit sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam "Allah lebih menyukai hambanya yang istiqomah walaupun dengan amalan yang sedikit" dan satu ayat dari kitab suci tentang ditinggikannya derajat seseorang yang berilmu, membuatku bertambah semangat untuk menyelam lebih dalam. Aku pun tenggelam dalam lautan kalimat-kalimat ilahi. Memang pada awalnya menghafal itu sangat susah, bahkan aku sampai pernah menangis karena kesulitan menghafal. Tapi setelah terbiasa, maka segala sesuatu apapun itu, akan menjadi lebih mudah.
Selain hal itu, aku juga mengikut-sertakan diri dalam suatu perkumpulan bela diri. Thifan Po Khan. Beruntung sekali aku diajak bergabung oleh temanku yang kukenal di masjid, ketika aku mulai banyak menghabiskan waktu di dalamnya waktu itu. Bisa dibilang, dia adalah teman yang selalu mengajakku pada kebaikan. Dan setidaknya, bela diri ini bisa membuat diriku tidak terlalu diremehkan lagi, ataupun bisa kugunakan untuk melindungi diri bila marabahaya datang menghampiri.
Aku juga melakukan hal-hal lain yang kiranya bisa membuat pandangan orang berubah terhadapku. Semua itu kulakukan demi mengubah reputasi diriku yang begitu terpuruk ini. Tak ada alasan lain. Dan akhirnya, aku berhasil mencapainya. Ketika aku naik ke kelas dua, aku masuk ke kelas unggulan. Di tahun itu, aku menjadi peraih posisi rangking satu secara juara bertahan yang tak bisa kulakukan sebelumnya. Proses menghafalku masih terus kulanjutkan. Perkembanganku di Thifan Po Khan juga semakin pesat. Pandangan orang lain terhadapku pun mulai berubah sedikit demi sedikit. Walau begitu, pasti akan tetap ada orang-orang yang senantiasa memusuhiku di dunia ini.
Tak hanya berhenti sampai di situ. Di tahun berikutnya, aku pun juga masih berjuang. Dan ternyata, sesuatu yang kuhadapi di kelas tiga menjadi semakin menantang. Di tahun inilah aku merasa telah mencapai ******* dari usaha-usaha yang kulakukan sejak awal. Saat itu, pandemi benar-benar mengubah seluruh kebiasaan dan tabiat kami. Yang pada awalnya hari Jum'at kami bisa keluar pondok untuk membeli makanan, menunaikan hajat-hajat lainnya, atau sekadar healing-healing saja, kini COVID-19 melarang kami untuk melakukannya. Sehingga kami seratus persen terkurung di penjara suci ini. Terkarantina di dalam sini. Dan jujur, kami hampir mati kebosanan.
Namun, semua itu tak bisa begitu saja mematikan kreativitas akal kami. Aku mulai tertarik dengan kegiatan tulis-menulis karena hal itu. Daripada mati kebosanan, aku pun iseng-iseng mencoba menulis novel. Walaupun aku sama sekali belum pernah membaca novel sebelumnya. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat mulai terangkai seiring berjalannya waktu. Alur kisah pun juga mulai terbentuk dengan sendirinya. Seakan ada yang menuntun jariku menuliskan sebuah kisah tanpa aku sendiri tahu cerita tersebut. Dan ini terasa sangat menyenangkan. Aku tak bisa berhenti!