
"Kok bisa tahu namaku?" Aku terheran. Tanganku masih digenggam erat olehnya semenjak berjabat tangan tadi.
"Hei!" ia menggertak tiba-tiba. Tatapannya masih dingin, tapi akhirnya ia menoleh ke arahku. Kini matanya menatapku dengan tajam. Aku tegang, sesekali bergidik ngeri. Seolah ia akan melakukan sesuatu yang sadis terhadapku.
"Santai aja kali. Lagian siapa yang nggak tau sama orang yang namanya Rajev? Santri yang sering banget menulis di atas meja lipat, sambil meringkuk di pinggiran-pinggiran masjid. Ente itu menonjol banget lho!" Tiba-tiba ekspresinya berubah. Sifat dan karakter nya seolah berputar seratus delapan puluh derajat. Kesan pertamaku terhadapnya langsung hancur seketika. Dia tak lagi aneh. Tapi, super duper mega duper freak! Lihat saja, dia senyum-senyum sendiri. Padahal tadi kayak orang berhati keras aja.
"Haha bercanda. Aslinya ana dikasih tau sama Tsari barusan." Ia menepuk-nepuk pundakku seolah kami sudah lama akrab.
"Ooh.." Aku mangut-mangut saja mengikuti alur pembicaraan. Di saat itu yang aslinya adalah waktu baqo' untuk membaca Al-Quran, malah kugunakan untuk berbincang dengannya. Ternyata dia memang orang yang mudah akrab. Semakin lama aku berbicara dengannya, aku semakin mengerti jaDi suatu sore Kami bertiga duduk bersebelahan di shock depan. ti dirinya sebenarnya. Dari perkataan-perkataan yang ia lontarkan lewat mulutnya. Topik pembicaraan yang tak lagi berputar pada porosnya. Yang jika dibahas maka tak akan ada ujungnya. Tak salah lagi. Dia adalah Wibu! Pecinta Anime...
Katanya, dia sudah suka menulis sejak kelas tiga SMP di sekolah sebelumnya, sebelum masuk pesantren ini. Karena dia adalah lulusan IL atau santri-santri yang baru mendaftar SMA di sini sehingga wajib mengikuti kelas bahasa satu tahun, maka dia sudah menggeluti bidang ini selama empat tahun lamanya. Aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya. Dia mengaku sudah pernah mengisi empat buku tulis besar bertebal lima puluh lembar dengan tulisan-tulisannya. Tapi saat kutanya di mana keempat buku tulis itu, ia menjawab bahwa kesemua bukunya hilang. Semua ini dikarenakan sistem perpindahan kamar yang tidak teratur dengan benar saat pandemi dahulu. Sehingga perpindahan barang menjadi tidak efisien.dan barang-barang santri banyak yang hilang karena itu. Tapi dia hanya santai menjawab. "Kalau pengen, ya tinggal nulis lagi aja." ucapnya.
Hari demi hari berlalu. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku menjumpai banyak sekali santri yang suka menulis. Ternyata, santri yang suka menulis di angkatanku bukan hanya aku dan dua orang itu saja. Aku menemukan beberapa orang lainnya yang entah baru mulai menulis atau memang sudah suka menulis sejak dulu sepertiku. Mungkin memang sudah banyak orang yang suka menulis di pesantren ini. Hanya saja, diriku yang terlalu tertutup sehingga aku tak mengetahui hal tersebut. Bahkan saat ini, Tsari juga sudah mulai menulis cerita pertamanya. Satu orang, tiga orang, lima orang. Kurasa, jumlah tersebut cukup bila ingin membuat sebuah forum menulis kecil-kecilan di pesantren ini.
Bukankah lebih baik bila kita berkumpul bersama lalu menulis bersama-sama demi tujuan yang sama? Bukankah hasil dari suatu pekerjaan yang dilakukan bersama akan lebih besar daripada jika dilakukan masing-masing? Daripada selalu menulis sendiri-sendiri, kan? Itulah yang terpikirkan olehku di waktu itu. Alhasil, muncullah sebuah inspirasi emas di kepalaku.
"Aku ingin membuat sebuah organisasi menulis." keinginan baru pun muncul dalam hatiku. Namun, aku tak berniat untuk merealisasikannya langsung di tahun ini. Berhubung aku masih kelas satu yang ibaratnya seperti anak ayam jika dibandingkan dengan mereka para senior. Maka aku berpikir, mungkin ketika aku sudah kelas tiga saja baru merintis organisasi ini. Lagipula, aku juga tidak akan punya kendali apa-apa selama aku masih duduk di kelas satu.
Hari demi hari, aku semakin akrab dengan dirinya. Kami membicarakan tentang banyak hal. Dia juga memberitahuku tentang teknik menulis cepat, penyusunan alur, dan cara memilih nama tokoh dengan simpel dan mudah. Seperti;
"Ente tau nggak, cara ana menentukan nama tokoh?" tanya Rois Khalid.
"Gatau. Emang gimana?"
"Misal nih, ana lagi lihat sesuatu. Tuh Al-Quran, contohnya. Tinggal potong aja sedikit. Alqur. Dah dapat satu nama tokoh kan? Hahaha..."
"Bisa gitu ya?" aku termangu kurang tertarik.
Meski begitu, seakrab-akrabnya diriku dengannya, masih tidak bisa mengalahkan keakrabannya dengan Tsari. Dia akan menjadi pribadi yang berbeda kalau sudah berinteraksi dengan Tsari. Misalnya, mencubit-cubit pipinya, mengelus kepala bulatnya, menyembunyikan songkoknya dan lain-lain. Bahkan ia sendiri pernah mengatakan, bahwa ia menganggap Tsari sebagai adiknya sendiri. Aku tepuk jidat mendengar hal itu. Ya, Aku tahu. Pipi Tsari memang tembam. Tapi jangan kelewatan juga dong. Jadi bahaya. Serem.
"Bikin organisasi menulis yuk!" ajaknya. Sekonyong-konyong aku langsung teringat pada ide yang terbesit di pikiranku beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba Rois Khalid juga mengatakannya. Entah kita sepemikiran atau bagaimana, tapi itu semua sejalan dengan apa yang kurencanakan. Lantas, tanpa ragu aku pun menjawab.
"Gass!" dia pun tersenyum bahagia mendengar tanggapan dariku.
"Emang kalau mau bikin organisasi, harus gimana? Ngomong langsung ke ustadznya gitu?" tanyaku.
"Ya... kalau setahu ana harus bikin proposal pendirian organisasi, sih. Tapi, sepengalaman ana jadi ketua organisasi tenis meja (ATTF) selama ini, ana nggak pernah bikin gituan. Paling ya kayak latar belakang, tujuan, visi-misi, proker, dan nama organisasi gitu..." jawabnya.
"Lah, Rois jadi ketua ATTF? Habis itu yang jadi ketua organisasi menulis ini siapa dong?"
"Ya, ana juga. Hehehe..." ucapnya dengan ekspresi bangga.
"Cih, serakah banget dia." batinku. Aku agak tidak suka dengan sifatnya yang seperti itu. Namun, apa daya diriku yang hanya bocah kelas satu. Aku tak akan bisa membentuk organisasi ini jika tanpa bantuan dari dirinya. Berhubung ini adalah kesempatan, aku harus memasang topeng di balik wajah untuk sementara ini.
"Tapi kira-kira namanya apa ya?" celetuk Tsari. "Hmm... forum para penulis novel? (FPPN)?" ucap Rois Khalid memberi pendapat.
"Kayaknya enggak deh. Terlalu sederhana. Lagian, emang bakal disetujui Ustadz kalau namanya seperti itu? Baca novel aja nggak boleh." Timpalku. "Oke, kalau begitu... Majma Literasi Al Irsyad (MLA)?"
"Disingkat jadi MLA. Kayak majmu'ah sebelah dong?" aku menolaknya lagi. Karena, ada organisasi lain yang kebetulan juga memiliki singkatan MLA (Majma' Lughoh Arabiyah).
"Yaudah, Al Irsyad Sastra Club aja deh!"
"Sama aja itu mah. Jadi ASC dong? Al Irsyad Swimming Club. Kegiatan kita malah jadi renang nanti... kenapa nggak cari nama yang beda aja sih?" protesku.
"Ya, lagian... cuma kepikiran Itu. Hihi..." dia hanya cengar-cengir.
Malam penentuan nama itu pun berakhir tanpa menghasilkan keputusan apapun.