
Di malam itu aku pulang ke asrama pada pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Waktu paling maksimal bagi kami para santri untuk berada di luar asrama. Saat terakhir kali sebelum aku meninggalkan masjid tadi, suasana di dalam sana masih lumayan ramai. Ada beberapa anak syuqqoh tahfidz yang masih memuroja'ah hafalan mereka. Enak sekali. Mereka bisa leluasa keluar masuk kamar mereka sendiri kapanpun, tanpa takut terkunci di luar gerbang seperti kami. Karena kamar mereka berada di lantai satu dan langsung terhubung dengan selasar luar asrama. Itulah salah satu kelebihan menjadi santri syuqqoh tahfidz. Sayangnya, setiap kali aku mencoba mendaftar dulu, aku selalu tidak diterima dari tahun ke tahun secara berturut-turut. Tapi tidak masalah. Karena aku tahu pasti ada hikmah dibalik semua itu.
"Assalamu'alaikum." aku masuk ke dalam kamar, lantas langsung berjalan mendatangi kasurku yang terletak di ranjang bawah. Kuselipkan binderku di atas ranjang, aku pun segera melempar punggung dan rebahan di atas kasur. Saat itu keadaan kamar sedang sepi. Kosong melompong. Mungkin teman-teman anggota kamarku sedang main ke kamar lain. Aku hanya sendirian berada di kamar ini.
"Huh, capek banget hari ini..." gumamku. Belum berlalu tiga puluh detik aku beristirahat santai, tiba-tiba ranjang yang kutiduri bergoyang-goyang. Aku pun terheran. Sejenak, kudongakkan kepalaku ke luar ranjang. Tiba-tiba...
Sekonyong-konyong, kepala sebulat bola menongol dari balik ranjang atas. Dengan mata malasnya, ia menatapku sambil terbalik. Aku pun kaget setengah mati. Kukira apa. Ternyata si Tsari berkepala dan berbadan bulat. Teman satu ranjangku. Syok yang kurasakan pun berlalu sia-sia.
"Jep! Dah nambah belom?" tanyanya sambil menyodorkan tangan kosongnya ke bawah.
"Weh! Tak kira siapa. Bikin jantungan tau gak?" Aku menebas mentah-mentah tangannya yang ia sodorkan itu. Aku geleng-geleng melihat perangainya.
"Maap deh. Mana bindernya?"
"Tuh, ana selipin di samping kasur ente." jawabku singkat, masih sebal. Ia pun mengambilnya lantas membacanya.
"Sek, sek. Ente ngapain deh sendirian di dalam kamar sambil meringkuk di atas kasur gitu? Ana sampai nggak bisa ngerasain hawa keberadaan ente tadi." tanyaku tiba-tiba penasaran.
"Baca novel juga."
"Oh, baca novel... eh? Ente bawa novel?" aku tersadar akan sesuatu. Membawa novel berbentuk buku fisik adalah hal yang dilarang di pesantren ini. Lalu dia, dia baru saja membaca novel?
"Novel tulisan orang juga." jawabnya santai, sambil membolak-balik halaman binderku. Oh ternyata. Kukira ia yang sejak dulu dicap sebagai anak alim sudah mulai berani melanggar peraturan.
M. Abdurrahman Al-Atsari. Itulah nama lengkapnya. Namun, bagi orang yang sudah akrab dengannya, panggilan "Tsari" sudah cukup untuk membedakan dirinya dengan santri-santri yang bernama Abdurrahman lainnya. Ia adalah salah satu teman dekatku sejak MTW dahulu. Dialah satu-satunya teman yang masih mau berkomunikasi denganku semasa aku dirundung di saat itu. Walaupun badannya bulat dan kadang-kadang selalu meminta traktiran dariku, aku sangat bersyukur bisa mengenal dan berteman dengan orang sepertinya.
"Tulisan orang? Punya Cinde? atau Rizki?" setahuku hanya dua orang itu yang juga bergelut dalam kegiatan tulis-menulis di angkatanku. Terkadang, kami saling bertukar tulisan untuk membaca karya satu sama lain. Terkadang, kami juga menulis bersandingan agar mudah ketika ingin menanyakan kosakata yang belum kami ketahui. Namun, tentu aku masih jauh berada di depan mereka. Habisnya mereka sukar sekali memanfaatkan setiap waktu yang mereka miliki dan terus istiqomah menulis setiap hari. Sangat bertentangan dengan apa yang selalu kulakukan.
"Bukan. Ini punya rois." Aku terkejut dengan jawaban yang diberikan olehnya.
"Namanya Rois Khalid. Emangnya kenapa?" si Tsari semakin intens menatapku. Sepertinya dia sudah usai membaca seluruh tambahan dari novelku.
"Ya enggak. Pengen tau aja. Coba liat tulisannya sini!" aku merengkuh binder abu-abu yang agak asing di mataku itu. Sejenak mencoba membacanya.
"Hmm... sebagai novel, prolog ini sudah sempurna sih. Tapi, cara penulis untuk menyambung satu kalimat ke kalimat lainnya terlalu monoton. Terlalu banyak kata 'lalu' di sana dan di sini. Rangkaian katanya juga sulit dipahami. Nggak puitis banget." ucapku menghakimi tulisan itu seolah aku adalah pakar penulis yang paling terhebat.
"Tapi alurnya lumayan, kok." timpal Tsari, sambil tertawa kecil.
"Genre Mecha Sci-fi, ya? Boleh sih. Ana pengen tahu orangnya!" aku langsung menatap Tsari dengan mata berbinar-binar.
"Yaudah. Ente tinggal duduk di shaf terdepan bagian kanan aja. Ntar paling juga ketemu. Besok ana temenin deh..." aku pun mengacungkan jempol sebagai tanda setuju.
Keesokan harinya, sebelum adzan maghrib dikumandangkan, aku langsung stand by duduk di shaf kanan terdepan. Meja lipat siap, pena sudah ada di tangan, tinggal meluncur. Aku menulis sembari menunggu adzan berkumandang. Tenggelam dalam fokusnya menulis, aku sampai tak sadar jika shaf di kiri dan kananku kini sudah penuh terisi. Apalagi saat melihat ke belakang. Ternyata sudah ramai. Seisi masjid dipenuhi dengan dengung lantunan orang membaca Al-Quran. Namun, Tsari tak kunjung datang juga. Dari tadi aku sama sekali belum melihat barang hidungnya. Jangan-jangan, dia ingin membohongiku. Cih!
Sesaat, perhatianku teralih pada orang yang duduk di sampingku. Dia duduk bersila dengan punggung merunduk sambil menulis sesuatu di atas kertas. Kertas yang menempel di sebuah binder berwarna abu-abu. Sepertinya benda itu tak lagi asing dibenakku. Tapi apa ya? Aku tak ingat. Dia terus menulis hingga lafadz iqomah dilantunkan.
Seusai sholat maghrib aku melakukan sholat sunnah rawatib. Dan orang yang tadi, ia masih saja menulis dengan pensil mungilnya itu. Seolah tak peduli apapun, pandangannya selalu fokus ke binder yang ditulisnya. Tak pernah berpaling ke arah lain. Tak lama kemudian, datanglah Tsari. Ia menepuk punggungku dari belakang.
"Itu dia di sebelah ente!"
"Dia siapa?" tanyaku polos.
"DIA!" Tsari membulatkan matanya. Aku langsung paham begitu nada bicaranya berubah tadi. Lantas, tanpa basa-basi, aku langsung menyalaminya.
"Assalamu'alaikum, is..." Aku menyodorkan tangan kanan hendak berjabat. Sesaat, ia tetap fokus pada tulisannya. Aku merasa dikacangin olehnya.
"Waalaikumsalam. Rajev kan?" ia menangkap tangan kananku tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Matanya masih fokus menatap tajam ke arah tulisannya. Orang yang aneh. Itulah kesan pertamaku terhadapnya.