Project : Alterization

Project : Alterization
Prolog



"Kegagalan bukanlah akhir dari semuanya."


Orang itu menancapkan pedang yang ia genggam erat-erat ke dalam tanah. Mengisyaratkan bahwa duel di siang hari itu telah usai. Dia menghela nafas.


"Jadi maksudmu aku masih bisa bangkit walaupun sudah lebih dari seribu pertarungan kau berhasil mengalahkanku?" dia mangut-mangut mengiyakan perkataanku. Aku tertegun, masih sedikit terengah-engah. Sementara, dia sama sekali tak terlihat kehilangan stamina sedikitpun.


"Bahkan seribu mungkin masih terhitung sedikit untuk mengatakan bahwa kau telah mahir berpedang."


"Kau mengatakan bahwa aku masih berkesempatan menjadi seorang pemenang?" tanyaku memastikan.


"Iya. Semua orang tak akan pernah kehilangan kesempatan itu. Bukan berarti seorang yang gagal akan terus gagal selamanya."


Setelah mendengar kalimat itu, tubuhku reflek bergerak ke arah tempat dimana pedang ku tergeletak. Dia berhasil menebasnya hingga terlempar lumayan jauh tadi. Kalimat itu bagaikan mantra. Sesaat pikiranku seakan tersihir. Sekonyong-konyong hatiku terobsesi untuk memuaskan hasrat. Jiwaku dipenuhi oleh semangat penuh ambisi. Ya, aku masih belum kalah. Aku masih memiliki sembilan ribu kesempatan jika memang perlu sepuluh ribu kali untuk bisa mengalahkannya. Selama kaki ini masih berdiri tegak di atas tanah, hunusan pedangku tak akan pernah berhenti berayun sekalipun hanya berhasil menebas angin. Akan kutunjukkan siapa diriku sebenarnya.


"Kyaaa!!" aku menerjang ke arah orang itu bersama pedangku yang siap menebas habis. Dia terkesiap. Lantas kembali menyambar pedangnya yang ia tancapkan ke dalam tanah.


...----------------...


Tanganku berhenti menulis. Kuletakkan penaku di atas meja dan kututup buku tulisku. Sejenak, kuarahkan pandanganku ke sekitar. Seisi lantai dua masjid yang kosong-melompong kini terlihat. Sunyi dan tentram. Nuansa yang tepat untuk menyelesaikan tulisan-tulisan yang telah kubuat sebelumnya.


Aku menoleh ke samping. Sebuah jendela yang memancarkan cahaya senja dari luar membuat mataku tak bisa berpaling. Jika diingat-ingat, baru pertama kali ini aku membagikan tulisan tanganku ke semua orang. Sepotong kisah yang iseng kutulis di tengah penghujung senja ini. Kalian termasuk orang yang beruntung. Jarang-jarang aku mau menunjukkan tulisan tanganku ini ke sembarang orang.


Aku adalah seorang penulis. Pemuda umur enam belas tahun yang menobatkan dirinya sebagai santri sekaligus penulis novel amatiran. Kini aku duduk di jenjang kelas dua SMA. Aku sudah tertarik dengan dunia tulis-menulis dan mulai terjun ke dalamnya sejak kelas tiga SMP. Aku memang suka menulis. Tapi entah mengapa aku malah membenci suatu kegiatan yang merupakan tujuan dari hobiku saat ini. Membaca. Aku sangat benci buku bacaan. Mereka sangat membosankan. Penuh dengan tulisan, tidak bergambar, bagaikan televisi burik yang tidak dapat menangkap sinyal.


Bayangkan, membuka cover depan buku saja beratnya seperti mengangkat batu lima puluh ton karena saking malasnya. Bahkan, aku pernah menulis novel tanpa tahu bagaimana bentuk novel itu sendiri karena aku sama sekali belum pernah membacanya.


Hanya saja, ada satu yang membedakan antara aku dengan mereka. Aku menobatkan diriku pada suatu pondok pesantren di tanah Jawa sebagai seorang santri. Namun, itu tak mengubah kenyataan apapun. Tetap saja aku hanya bocah SMA biasa yang tak memiliki keistimewaan jika dibandingkan dengan mereka yang ada di luar sana.


Namun, ternyata keputusan orang tuaku untuk mendaftarkan diriku ke dalam pondok pesantren adalah satu langkah awal yang membimbingku menuju jalan perubahan. Jalan yang tidak biasa. Jauh dari orang tua, tak lagi dimanja, dan semua harus serba mandiri. Inilah awal evolusi diriku dari cupu ke suhu. From zero to hero. From nothing to something.


Aku memang sudah berubah dari diriku sebelum menjadi santri dan sekarang menjadi santri. Banyak sekali perbedaan yang kuciptakan dari awal masuk pesantren hingga saat ini. Namun itu semua masih belum cukup. Aku belum bisa meraih kesuksesan hanya dengan modal yang sudah lumrah dimiliki oleh banyak orang. Kehidupanku disini masih bisa dibilang rata-rata. Semua orang juga bisa melakukannya. pengalamanku tentang kehidupan juga masih minim. Sedikit sekali kisah menarik tentang diriku yang bisa kuceritakan kepada orang lain. Itu pun masih terhitung biasa-biasa saja. Sementara, kesuksesan adalah hal yang luar biasa. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa meraihnya. Bahkan, saat itu tak pernah terpikir sekalipun di kepalaku bahwa aku ingin menggapai kesuksesan.


Hingga akhirnya, datanglah sosok seseorang yang mengubah hidupku. Sosok seseorang yang mengubah cara pandangku terhadap dunia ini. Dia adalah sosok yang hebat di mata semua orang. Berbadan tegap nan ideal, berwajah tampan, dan memiliki tatapan mata yang meyakinkan. Dilihat dari sisi manapun, semua orang tahu bahwa dia adalah orang yang memiliki banyak pengalaman. Pemikirannya menginspirasi, kata-katanya memotivasi, dan perbuatannya dengan aksi bukan hanya sekadar Basa-basi. Dan aku, hatiku luluh olehnya. Aku terinspirasi oleh sepucuk perkataannya.


"Kebanyakan orang selalu berjalan mengikuti arus. Hanya sedikit yang mau memisahkan diri dari arus kehidupan rata-rata tersebut. Dan merekalah orang-orang yang kelak akan memimpin berjalannya dunia ini."


Pada suatu kesempatan, beliau pernah bertutur kata pada kami. Itulah salah satu dari berpuluh-puluh kalimat motivasi yang beliau berikan pada kami di depan kelas. Aku sangat kagum pada beliau. Beliau selalu menyempatkan diri untuk memotivasi kami dengan kata-kata mutiaranya di sela-sela pelajaran demi membuat kami berkembang. Semangatnya tak pernah pudar. Namun, tentu saja usaha kerasnya tersebut membuahkan hasil. Beliau berhasil mengembangkan pemikiran banyak orang. Salah satunya termasuk diriku. Beliau seakan sudah menjadi role model atau panutan dalam kehidupanku. Sosok seorang guru yang menginspirasi diriku untuk terus berkembang. Baru pertama kali ini dalam seumur hidup aku menemukan guru sehebat beliau. Guru yang tak hanya fokus terhadap kurikulum yang disajikan oleh sekolah. Melainkan, beliau juga menatap jauh ke depan. Sangat peduli dengan perkembangan murid-muridnya demi masa depan mereka. Aku kagum pada beliau. Di saat itulah mulai muncul keinginan dalam hatiku.


"Aku ingin menjadi seperti beliau. Aku akan melampauinya!"


Berkali-kali beliau berorasi di hadapan kami. Beliau senantiasa mengingatkan kami tentang sesuatu.


"Hanya orang rata-rata yang tidak mau meninggalkan zona nyaman. Merekalah orang yang monoton. Hanya hidup mengikuti arus kehidupan yang datar-datar saja. Namun, orang sukses berbeda. Mereka selalu memilih jalan yang menantang, berliku-liku, berbahaya, tapi kelak mereka akan berhasil. Siapa yang tidak mau sukses? Semua orang mendambakan kesuksesan. Tapi hanya sedikit orang yang mau melakukan aksi untuk merealisasikan kesuksesan tersebut."


Di saat itulah aku memutuskan. Aku akan memisahkan diri dari arus kenyamanan hidup. Aku akan keluar dari zona nyaman. Jiwaku memilih untuk berhenti menjadi orang rata-rata. Kurasa ini adalah satu langkah yang tepat untuk meraih kesuksesan di masa depan kelak. Ini adalah kisahku. Kisah perjuangan seorang bocah SMA ingusan yang ingin mencapai puncak kesuksesan. Selalu ada banyak duri dan liku-liku di setiap sudut dari jalan setapak menuju puncak kesuksesan tersebut. Aku ingin menceritakannya. Aku ingin semua orang tau tentang perjuanganku ini. Aku berharap, kalian yang akan mengikuti alur kisah hidupku, bisa mengambil banyak pelajaran, hikmah, dan pengalaman yang terkandung dalam kisahku ini. Kurasa, kita cukupkan perkenalannya sampai di sini saja. Kalian akan lebih mengenal bagaimana diriku setelah membaca kisahku ini. Ku persembahkan, inilah kisahku...


...~Selamat membaca~...