
Aku merasa tidak nyaman karena seperti ada yang menghakimi bacaanku. Tak peduli dengan hafalannya sendiri dan malah memperhatikan hafalan orang lain. Aku pun kesal. Aku tahu ia melakukan hal itu dengan niatan baik. Tapi, perbuatannya itu sudah kelewatan. Bacaanku terganggu, dan aku tidak akan bisa muroja'ah jika ia tak berhenti melakukan hal itu. Apa boleh buat, aku sedikit menggertaknya. Dengan mata menyipit dan tubuh setengah mengantuk itu, aku pun berkata.
"Iya, iya yang paling benar bacaannya... Ana emang si paling salah. Tapi udahlah, nggak usah dibenerin mulu. Berisik tau gak. Yang ada cuma ganggu doang. Sekarang Ana lagi murojaah mandiri, bukan setoran!".
"Oh ya? Yaudah, dibenerin malah marah. Emang ente tahu semua dosa ente sudah diampuni, sampai ente nggak mau bacaan ente dibenerin? Ente Maksum¹?"
"Hah?" karena aku tak mendengar perkataannya dengan jelas, aku pun meminta pengulangan. Namun, setelah detik itu berlalu, Ia hanya diam. Tak lagi menanggapi perkataan apapun yang kulontarkan. Aku pun mengerti bahwa di saat itu juga, ia sedang marah padaku.
Di lain waktu, saat aku memiliki sebuah urusan penting dengan Rois Khalid, aku pun mendatanginya. Aku membutuhkan persetujuan darinya tentang, apakah ia jadi mengikutsertakan dirinya dalam organisasi ini sebagai ketua organisasi atau tidak. Karena, selama ini ia belum mengkonfirmasi ataupun tidak pernah turut campur tangan lagi dalam urusan organisasi ini. Semuanya aku yang urus. Walau begitu, tak mengapa bila Ia tetap ingin menjadi ketua organisasi ini.
Namun apa yang terjadi? Ketika aku menyalaminya, Ia hanya diam dan mengabaikan uluran tanganku. Saat itu, ia sedang duduk bersandar di salah satu pilar penyangga masjid. Karena melihat saat ini adalah kesempatan yang tepat, aku pun langsung menghampirinya. Dan terjadilah apa yang terjadi. Apa boleh buat, aku harus meminta maaf agar setidaknya aku bisa sedikit berbicara dengannya. Tak kusangka perkataanku ketika sedang setengah sadar kemarin membuat hatinya terluka. Kukira semua anak irsyadiy sudah kebal dengan hal seperti itu dan hanya menganggap itu semua sebagai candaan. Mungkin dia pengecualian. Dengar-dengar dari desus yang beredar di kalangan Rois, Ia memang sedikit pemarah. Setiap kali ada hal kecil yang membuatnya tersinggung ia langsung mendatarkan wajah dan tak Ingin berkomunikasi dengan orang yang membuatnya tersinggung tersebut. Alias baper.
"Iya udahan ana maafin." jawabnya dengan nada datar, begitupula ekspresinya. Ia memasang wajah yang seolah menyuruh agar aku segera pergi. Namun aku tak memedulikannya. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan dengannya sekarang juga.
"Jadi gimana ini? Proposalnya udah ana buat." ucapku singkat.
"Yaudah, tinggal ajukan sendiri. Ana enggak jadi ikut-ikutan. Memangnya bikin organisasi menulis, mau menulis apa? Novel? Bawa novel aja nggak boleh, apalagi nulis? Emang Ustadz bakal setuju? Ana sih nggak mau tanggung jawab. Kalau ente mau ente terusin aja sendiri."
Singkat cerita aku pun berdiskusi dengan Tsari yang kebetulan juga kuajak bergabung masuk ke organisasi ini. Ia mengusulkan seseorang yang sempat ia kenal dari anak kelas dua. Santri yang suka menulis juga. Katanya, ia sudah membuat dua buku penuh tulisan yang isinya adalah satu serial bersambung. Kurasa menarik juga. Dan tak kusangka aku diberitahu Tsari bahwa ia juga mahir menggambar. Hebat juga. Multitalenta dong? Lantas, tak sabaran aku ingin segera mengetahuinya.
"Siapa namanya?"
"Namanya kalau nggak salah... Rois Nur Hafidz."
"Orangnya yang mana, ya? Kayak kenal sama namanya..."
"Yang biasanya pakai jaket itu loh. Kacamata-an, agak pendek, dan biasanya bawa tas selempang." jelas Tsari
"Ohh... gak kenal. Siapa ya?
"Aduh..." Tsari tepuk jidat. "Yaudah, besok tinggal cari aja. Biasanya dia sholat di dekat-dekat shaf ente kok..."
Aku pun menurut. Keesokan harinya, Tsari menunjukkan padaku siapa orang yang dimaksud olehnya. Dan sekilas, aku memperhatikannya. Sepertinya, ia tidak asing diingatanku. Ah, aku mengenalnya. Ternyata dia... Semasa kelas dua mtw dulu, aku pernah bertabrak sikut dengannya di ruang makan. Dan ia langsung menatap mataku dengan tatapan sinis. Aku tak peduli dengannya, karena waktu itu dia masihlah anak IL. Anak baru yang belum genap setahun menetap di pesantren ini. Tunggu! Ingatan freak macam apa ini?