Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 14



"Misalnya, antum sedang sholat Jum'at di suatu masjid di luar sana. Dan kebetulan khotib di hari Jum'at itu sedang berhalangan. Lalu takmir masjid meminta antum untuk mengisi khotbah Jum'at, menggantikan khotib yang berhalangan di hari itu. Mau tidak mau antum harus menerimanya karena antum satu-satunya lulusan pesantren di masjid itu. Coba peragakan apa yang akan antum kemukakan di khotbah Jumat tersebut!" perintah Rois berkacamata itu. Hah? Boro-boro mau berceramah tanpa persiapan. Ceramah di depan satu orang aja nggak pernah. Lantas apa yang harus kulakukan? Diam mematung dan mengabaikan perintahnya?


Mau tidak mau, aku harus mulai mengatakan sesuatu. Apa boleh buat. Aku pun mulai menuturkan muqadimah yang biasa keluar dari mulut khotib di setiap khutbah Jum'at. Tak tahu apakah benar atau salah, aku tetap melanjutkan. Mereka memintaku untuk mengisi khotbah dengan tema sholat lima waktu. Aku tak paham apa yang bisa disampaikan dari sholat lima waktu. Ah, apa-apaan Ini. Dari tadi tubuhku tak pernah berhenti gemetaran. Kata-kata yang keluar dari mulutku juga kacau karena gugup. Lihatlah tatapan mata-mata mereka itu. Aku merasa dihakimi bahwa penampilanku benar-benar buruk. Aku tak berani menetap mereka. Situasi memalukan macam apa ini? Lebih baik aku mati saja kalau begini caranya.


Wa kulla bid'atin dholalah, wa kulla dholalatin fin naar, A-amma ba'du." seusai melontarkan kalimat muqaddimah, aku bingung apa yang harus kukatakan lagi di ceramah itu. Aku diam hingga beberapa detik ke depan. Belum berlalu beberapa detik, Rois berkacamata itu mengetuk-ngetuk meja dengan keras. Aku pun terkesiap. Mungkin aku memang terlalu lama berpikir. Namun, sama sekali tak ada perkembangan. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kukatakan! Pikiranku kosong.


Brak! Dia menggebrak meja.


"Woi ente? Bisa ceramah nggak? Nggak bisa ceramah ngapain daftar? Skip dah, keluar sana!" dia menggertak. Sementara, aku tetap diam di tempat. Rois-rois lainnya hanya berdecak lidah melihat perangaiku. Terpaksa, aku pun memulai ceramahku. Tak peduli apapun yang keluar dari mulutku. Yang pasti, aku ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.


"Sholat fardhu, terbagi menjadi lima. Ada shubuh, dhuhur, ashar, lalu maghrib, dan Isya. Eee... shubuh dua rakaat, dhuhur empat rakaat, lalu ashar..."


"Stop. Waktu habis." Baru saja aku memulai ceramahku, waktunya sudah habis duluan. Benar-benar buruk. Ceramah macam apa tadi itu? Anak TK mah juga tahu. Jumlah rakaat sholat fardhu. Memalukan sekali. Apa-apaan mereka ini? Mereka sengaja memperlakukanku seperti itu ya?


"Ana kasih tahu satu hal, ya? Kalau antum mau khutbah di luar, pakai bahasa Arab, memang ada yang paham? Apalagi kalau suaranya sesenggukan seperti itu. Ente emang nggak ada bakat dakwah, ya?" ya, aku baru tersadar. Aku memang membawakan materi khotbah tadi dengan bahasa Arab. Ya, aku memang salah. Tapi, kalimatnya itu... nggak ada bakat? Hahaha... Aku tak memiliki bakat, ya? Sakit sekali. Kalimat itu menusuk terlalu dalam.


"Yah, fix sih nggak keterima... fix sih..." timpal Rois lainnya.


"Dahlah, nggak ada harapan. Mending nggak udah dateng tadi."


"Ceramah doang nggak bisa. Gitu mau daftar Majma' Dakwah. Mau jadi apa ente?" Tatapan mataku kosong. Aku tertegun. Apa-apaan ini. Mereka benar-benar meremehkan diriku. Aku merasa direndahkan. Cukup. Kapan semua ini akan berakhir?


"Heh, Rajev! Nama ente Rajev, kan?" tanya Rois berkacamata itu. Aku pun mengangguk pelan.


"Ana mau tanya. Tujuan ente pengen masuk majma' dakwah apa sih?" karena situasi sudah berbeda di saat itu, aku tak bisa lagi memberanikan diri. Pikiranku kacau. Aku tak bisa mengingat-ingat apa tujuanku mendaftar organisasi ini.


"Berdakwah kan, di luar MD juga bisa? Kapanpun ente mau naik mimbar masjid untuk ceramah, nggak bakal ada yang ngelarang. Lagipun, kalau mau berdakwah ya tinggal berdakwah aja kan? Ngapain muluk-muluk harus daftar MD segala?"


"Iya, is..." aku hanya menunduk tanpa perlawanan.


"Terus kenapa ente daftar MD?"


"Ana mau nyoba mengajar di TPA, is."


"Ngajar TPA doang mah pas liburan bisa. Di dekat rumah ente ada TPA kan? Yaudah, tinggal minta sama pengurusnya. Mau bantu mengajar, gitu. Mudah kan? Kenapa harus MD?" Apapun jawabanku, ia pasti akan terus menimpali dan menimpali dengan berbagai alasan. Setelah lima kali menjawab, aku pun memilih untuk diam. Tak peduli walaupun mereka terus memaksaku untuk tetap menjawab.


"Jadi, apa alasan ente? Kalau ente nggak punya alasan, ngapain daftar? Kalau cuma mau iseng-iseng doang, berarti nggak keterima nggak apa-apa, ya?" ancamnya.


"Kok diem? Woi!!" Rois di samping sana ikut menimpali. Akhirnya aku pun memutuskan.


"Yaudah, nggak papa." ucapku dengan suara yang serak nan parau. Terpampang di wajahku, ekspresi yang sudah sangat buruk sekali. Inilah wajah hasil penghinaan yang mereka lakukan. Singkat cerita, seleksi itu pun berakhir. Sebelum keluar ruangan, Rois berkacamata itu menyalamiku, lalu memberiku beberapa snack Amin Mart. Aku pun langsung keluar dari ruangan itu dan tak pernah menoleh ke belakang lagi.


Saat aku berbelok menuju turunan tangga di gedung itu, seseorang mencegatku dari balik tembok. Lagi-lagi Rois dengan jas MD melekat di badannya. Aku sudah muak, trauma dengan apa-apa yang berhubungan dengan MD. Aku tak ingin lagi melihat atau mendengar apapun yang ada kaitannya dengan MD. Tapi Rois ini, wajahnya tampak nyaman dipandang mata. Senyuman lebar segera mengembang di wajahnya. Ia melihat ke arahku.


"Afwan ya, kalau di dalam tadi rois-roisnya suka menyinggung dan agak ngegas. Mereka cuma bercanda." ia menyalami diriku. Aku hanya diam dan langsung berjalan menuruni tangga dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku pun pulang ke asrama. Tak lama setelah sampai di kamar, aku langsung merebahkan diri. Kupaksakan mataku untuk tertutup serapat-rapatnya.


"Cih, apanya yang bercanda? Itu sih penindasan namanya. Katanya organisasi dakwah, kok malah seleksinya seperti itu? Mana sudi aku masuk ke organisasi yang kaburomaqtan dengan asasnya sendiri. Berdakwah dari mana? Perbaiki diri dulu kalau mau berdakwah. Dasar rois-rois biadab." aku berkeluh kesah di dalam hati.


Dan ternyata benar. Setelah berlalu dua pekan sejak hari dimana seleksi itu diadakan, namaku diumumkan tidak lulus seleksi. Sebenarnya aku tidak peduli lagi dengan hal itu. Akhir kata, lenyaplah uang pendaftaran sebesar dua puluh lima ribu itu secara sia-sia.