Project : Alterization

Project : Alterization
Chapter 6



Aku dihukum push up dua puluh lima kali. Untungnya aku sudah terbiasa dengan hitungan push up sebanyak itu. Lalu, mulailah kami masuk ke latihan utama. Senam sentai, atau yang biasa dianggap sebagai asas utama dari ilmu bela diri ini. Yang mana dengan senam ini, kami bisa memperkuat pertahanan tubuh, mengeraskan badan, dan menumbuhkan otot-otot baru di sekujur tangan, perut, dan kaki. Dan lagi-lagi, aku sudah biasa melakukan senam sentai ini. Dari sentai kepala, pundak, lengan, jari, perut, hingga kaki. Mungkin, hanya santri-santri alumni I'dad Lughawiy saja yang kaget dengan senam yang tak biasa ini.


Setelah berlalu satu jam, kami pun usai dari latihan di malam hari tersebut. Di akhir perkumpulan kami dengan para senior di penghujung latihan bersama ini, mereka mengatakan bahwa latihan di malam hari ini merupakan salah satu dari sekian banyak tahapan seleksi yang harus kami tempuh hingga diterima sebagai anggota. kata mereka, ini adalah seleksi alam. Siapa yang tetap istiqomah dan bertahan sampai akhir, maka dialah pemenangnya. Aku sangat bersyukur mendengar bahwa seleksi di tahun ini hanya seleksi keistiqomahan. Karena di saat itu aku merasa, tidak ada lagi orang yang lebih unggul dalam hal keistiqomahan melebihi diriku. Aku merasa sudah melewati banyak sekali rintangan yang menguji keistiqomahan dan ketetapan hatiku. Dan kini adalah saat dimana aku akan menuai hasil dari usahaku selama ini.


Kudengar, Tashfiyah atau seleksi pendaftaran organisasi yang berbau bela diri entah apapun itu, selalu menyeramkan dari tahun ke tahun. Baik itu Aulita; organisasi santri pecinta alam, Komandos; organisasi Mixed Material Arts dan keterampilan baris-berbaris, Brazilian Jiu Jitsu; organisasi yang mempelajari bela diri bantingan dan kunci-kuncian, maupun organisasi-organisasi bela diri khusus seperti Thifan, Silat, Taekwondo, karate, dan lain-lainnya. Sekali saja seleksi salah satu dari organisasi-organisasi ini diselenggarakan, ia tak hanya akan menyerang para calon anggota secara fisik saja. Melainkan mental pun juga jadi sasaran yang bisa dipermainkan oleh mereka.


Terkecuali di tahun lalu saat pandemi masih sangat marak di berbagai belahan dunia. Hanya sedikit dari kami para santri yang menjalani *** secara pembelajaran tatap muka (PTM). Sebagian besar dari kami lebih memilih opsi pembelajaran jarak jauh yang hanya dilakukan dengan duduk manis di rumah. Lalu, hal itu pun berpengaruh terhadap keaktifan organisasi-organisasi yang ada di pesantren. Sehingga, secara terpaksa, pihak organisasi pun mempermudah seleksi masuk agar tetap menjaga kelangsungan aktivitas program kerja dari organisasi tersebut. Mendengar hal tersebut masih berlaku hingga tahun ini, aku pun sangat bersyukur. Aku merasa bahagia sekali. Karena mungkin, ini bisa menjadi ajang bagi diriku untuk menggapai sosok ideal yang kuimpikan. Menjadi bintang bersinar yang dilihat oleh berjuta-juta insan di muka bumi ini.


Ya. Mungkin ini sedikit cerita tentang masa laluku semasa aku duduk di kelas satu MTW dahulu. Sebenarnya aku adalah anak yang periang. Memiliki sifat ceria dan selalu tersenyum di manapun aku berada. Di saat pertama kali masuk ke pesantren ini, mungkin aku sedikit shock dengan suasana baru yang hanya ada hubungan pertemanan, tanpa ada hubungan kekeluargaan. Baru pertama kali ini aku ditinggal jauh oleh orang tuaku. Sehingga kemunculan culture shock pun menghantui, dan sosok lain dari diriku segera datang menghampiri. Aku menjadi pendiam. Mungkin ini wajar bagi orang introver seperti diriku. Karena, aku memang tak terampil untuk menjadi orang pertama yang mulai bersosialisasi. Harus ada orang lain yang memulainya terlebih dahulu.


Hingga akhirnya, aku menjumpai teman pertamaku. Dia adalah teman sekamar yang juga satu ranjang denganku. Namanya Rafi. Di awal, aku sangat menikmati setiap detik yang kulalui bersamanya. Namun, itu tak bertahan lama. Lagi-lagi perbedaan sifat dan karakter antar dua orang yang datang dari dua daerah berbeda, menjadi masalah paling serius di masa kelas satu MTW itu. Surabaya dan bekasi. Jatim dan Jabodetabek. Sungguh dua daerah yang sangat bertolak belakang. Apalagi lingkungan rumahku yang notabenenya berisi anak-anak polos perumahan. Aku sungguh polos dan tidak tahu apapun tentang bagaimana pergaulan mereka di daerah masing-masing.


Suatu hari, dia iseng menggangguku. Ketika aku tertidur karena saking lelahnya di masjid lantai dua, dia menyemprotkan air mineral aqua ke wajahku. Sontak aku pun terbangun. Sambil cengar-cengir, ia langsung lari terbirit-birit berharap aku tak pernah berhasil mengejarnya. Aku yang masih belum genap mengumpulkan nyawa seutuhnya pun langsung berlari mengejarnya, tak peduli apapun konsekuensinya. Puas berlari kejar-kejaran sebanyak tiga putaran mengitari masjid, akhirnya aku berhasil menangkapnya. Dia hanya cengar-cengir meminta maaf dengan tidak serius. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Alhasil, mushaf saku madinah pemberian orang tuaku, yang tadi kemasukan ke dalam saku baju menghilang entah kemana. Mungkin terjatuh di jalan karena aku habis berlari-lari tadi.


"Mushaf madinah ana hilang! Gimana sekarang?!" ujarku.


"Ya, minta maap. Ana kan nggak sengaja. Lagian itu kan cuma mushaf kecil. Berapa sih harganya? Paling, nggak sampai gocap kan? Orang mushaf gituan di masjid juga banyak."


Aku semakin geram dibuatnya. Lama-kelamaan ucapannya itu semakin membuat telingaku panas saja. Aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Menyudahi kobaran api setan yang saling menyembur di malam hari itu. Syaitan pun tertawa melihat kami.


Semenjak hari itu, aku tak pernah mau untuk bersosialisasi dengannya lagi. Setiap kali dia mengajakku berbicara, aku hanya merengut tak menjawab lalu segera berpaling ke tempat lain. Begitupun hari-hari seterusnya. Hingga akhirnya dia merasa bersalah kemudian mencoba meminta maaf kepadaku. Namun, sayangnya hatiku terlanjur kecewa. Aku tak pernah sekalipun terpikir untuk menjawab permintaan maafnya. Padahal semua ini berawal dari sesuatu yang amat remeh. Keisengan seorang teman kepada teman lainnya yang seharusnya wajar bagi anak-anak seumuran itu.


Akhirnya muncullah istilah baru yang belum pernah kudengar sebelumnya. Bawa perasaan atau yang disingkat "Baper" kini menjadi julukan bagi diriku yang sensitif ini. Dengan secepat pesat, rumor ini seolah langsung tersebar ke seluruh penjuru asrama. Semua anggota kamarku segera mengetahui rumor tentang diriku ini.


"Rajev itu orangnya baperan..." kata mereka.