
Kepala Sita terasa berputar, rasa pening pada kepalanya membuat tubuh Sita limbung hingga membuatnya terkulai lemas di lantai. Pratista panik dan langsung menghampiri putrinya.
"Mas! Sudah aku bilang jangan sekarang!" bentak Pratista yang sudah ikut terisak melihat putrinya.
Sita memandang lurus ke depan. Pikirannya kosong dan tidak terkendali. "A... pa?" gagap Sita.
Bima masih memasang tampang datar, tapi jauh dalam hatinya, dia ikut tersakiti melihat dua orang wanita yang disayanginya menangis bersamaan. "Kamu harus pilih, mimpimu atau Widan!" ulang Bima dengan tegas.
Sita mengangguk pelan. Di pandangnya Pratista yang sudah merangkulnya erat, pandangannya kosong tapi hatinya menjerit keras. Sita menghembuskan napasnya secara kasar.
"Sita pilih ..."
Waktu genap umur Widan enam belas tahun, mendadak laki-laki itu absen dari sekolah. Awalnya tidak ada yang aneh dan patut dikhawatirkan, karena setahu Sita, Widan hanya terkena flu biasa. Seperti demam, menggigil, dan batuk.
Karena Widan izin lebih dari tiga hari, teman kelas beserta Sita menjenguk Widan yang dirawat di rumah sakit.
"Padahal cuma flu, tapi malah sampai ke rumah sakit," gerutu Sita.
Sebenarnya Sita sangat merindukan Widan yang biasanya selalu Sita recoki. Melihatnya sedang terbaring lemah di brankar, membuat hati Sita ikut terenyuh. Sita menyenggol lengan Trella yang kebetulan ikut bersamanya untuk menjenguk Widan.
"Itu Widan bukan vampir kan? Mukanya pucat gitu," celetuk Trella.
Diam-diam, Sita pun menyetujui ucapan Trella. Wajah Widan memang terlihat lebih pucat dan terdapat beberapa ruam-ruam yang kemerahan di sekitar lengannya.
Meskipun Sita sibuk memikirkan tentang ruam-ruam aneh yang ada pada lengan Widan, tapi indera pendengarannya ternyata cukup baik dalam menangkap pembicaraan teman-temannya.
"Eh, katanya Widan tuh pilek, tapi kenapa sampai dirawat di RS segala ya?"
"Biasa anak sultan. Tapi dengar-dengar sih, Widan terkena infeksi mata sama gangguan saluran tenggorokan padahal."
"Yang bener dong kasih info! Orang di kelas booming-nya Widan tuh lagi flu tahu!"
Trella menghampiri mereka yang asik bergosip itu. "Heh, masih sempat ya itu mulut gosipin orang yang sakit!" omelnya sambil berkacak pinggang.
"Kalau mau gosipin orang lain, sana di luar! Gak usah banyak omong di sini," lanjut Trella.
Bertepatan dengan para penggosip yang keluar dari ruang inap Widan, mata Widan mengedip-ngedip, Sita langsung berseru heboh. Dia berteriak pada Trella supaya secepatnya memanggil dokter.
Dokter datang ketika Widan sudah membuka matanya dengan sempurna. Dokter bernama Pandu itu, tersenyum ramah pada Widan.
"Apa kamu merasakan nyeri pada bagian tubuhmu?"
Widan mengangguk pelan. Dia menunjuk pada bagian dada dan beberapa sendi otot. Dokter Pandu tersenyum simpul, dia mengerti maksud dari Widan.
"Sebentar lagi kamu pasti sembuh. Tolong panggilkan orang tua kamu ya, buat ambil hasil tes darah dan sekresi pernapasan," jelas dokter Pandu.
Widan menatap dokter Pandu dengan canggung. Terlebih lagi ada Sita dan Trella yang penasaran dengan kondisi Widan.
Dokter Pandu tersenyum mafhum. "Saya tunggu orang tua Widan ya?"
Widan hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Saat dokter Pandu telah meninggalkan Widan bersama dua orang perempuan yang kepo dengan kesehatannya, mereka langsung membanjiri Widan dengan banyak pertanyaan. Terutama Sita yang penasaran dengan kedua orang tua Widan yang tidak ada menemani Widan saat ini.
"Dan, Tante Agata sama Om Zeroun gak ke sini? Dari tadi gue gak lihat tuh," cetus Sita.
Trella menginjak kaki Sita. Memberikan peringatan pada perempuan itu untuk tidak berkata yang aneh-aneh. "Lo itu! Orang sakit malah ditanyain gitu," desis Trella, berbisik pelan.
"Orang gue cuma penasaran aja, La," sahut Sita, balas membisik.
"Lo ngomong gitu lagi, gue yakin hubungan lo sama Widan gak akan bertahan lama."
Sampai Widan sembuh pun, Sita tidak pernah tahu alasan keluarga Agler yang tidak tahu perihal Widan yang sakit waktu itu.
Sampai suatu waktu, Sita bertemu dengan adik om Zeroun—Frisilia Agler—depan apotek, dekat perumahannya. Ternyata, Bibi Widan yang supel itu merupakan salah satu penghuni baru di perumahan dekat keluarga Adirajada.
Frisil menjelaskan padanya bahwa kakaknya—Zeroun—adalah maniak kesehatan dan istrinya juga adalah orang yang sama maniaknya dengan Zeroun. Bahkan, mereka rutin kontrol kesehatan.
Frisil menghela napasnya saat menjelaskan perihal konflik dalam keluarga Agler yang sebenarnya merupakan salah satu konflik terkecil dalam keluarganya. Dia bahkan sangat paham tabiat keluarganya itu, bahkan sampai Widan sakit pun, Frisil lah yang diam-diam membesuk dan mengurusnya tanpa sepengatahuan keluarganya.
Biaya untuk menutupi perihal Widan pun bukan masalah besar baginya, karena jika kedua orang tua Widan sampai mengetahui tentang kesehatan putranya yang bermasalah, sudah Frisil pastikan, Widan bukan hanya akan berobat ke luar kota saja. Melainkan ke luar negeri, sekalipun mengalami flu biasa.
Sedangkan Widan adalah orang yang anti sekali berpergian jauh dan dengan alasan lain.
"Mbak harap, kamu rahasiakan ini ya dari orang tua Widan. Ini termasuk permintaan Widan," pinta Frisil pada Sita.
Sita yang saat itu sedang dalam mode paham-tidak paham, hanya mengangguk saja.
Tapi lain halnya dengan sekarang, saat Sita tahu sesuatu perihal tujuan Widan yang enggan pergi ke luar kota.
Maka, saat ayahnya sendiri menyerukan pilihan pada Sita, Sita hanya bisa bergeming dengan pikiran yang berkecamuk. Dia tahu, bahwa ayahnya tidak pernah bermain-main dengan ancaman ataupun sesuatu yang dia ucapkan. Tapi, justru itu semakin yang Sita takutkan.
"Mas, jangan! Sudah!" lerai Pratista dengan suara parau.
Bima mengabaikan ucapan istrinya dan tetap menunggu jawaban dari Sita.
"Papa udah mengizinkan kamu untuk melanjutkan hobimu itu, asalkan kamu jauhi Widan. Cuma itu, kamu bisa, kan?" jelas Bima, sekali lagi.
Sita memandang sendu ayahnya. "Apa ... gak ada pilihan lagi yang baik buat aku biar tetap mempertahankan keduanya?"
Gelengan dari Bima membuat beban pada hati Sita semakin menumpuk. "Lagi pula, apa salahnya Widan, sih, Pa? Bukannya Papa juga welcome sama dia?" tanya Sita.
"Sekali Papa bilang pilih, pilih saja, Sita! Kamu jangan banyak tanya!" Suara Bima meninggi, Sita mati-matian menahan tangisnya.
Tangan Sita terkepal, dia menatap balik Bima dengan berani. "Kenapa Sita harus memilih, Pa! Pasti Papa punya alasannya, kan?"
"Tentu saja, Papa gak akan bilang seperti ini jika tidak memiliki alasan yang pasti."
"Emang kenapa, Pa ..." lirih Sita.
Bima berulang kali mengatur napasnya agar tidak sembarang meluapkan emosinya. Tapi, perlawanan dari Sita ini, kembali mengingatkannya pada anak sulungnya.
"Papa gak mau kamu seperti Adya, Sita!" jelas Bima dengan tegas.
Sita mengatupkan bibirnya. Napasnya memburu dengan bahu yang kembang-kempis. Pratista tidak henti-hentinya menenangkan dirinya dan Sita, juga berkali-kali menegur suaminya agar tidak membahas perihal Adya kembali.
Setelah meyakinkan diri, Sita kembali menatap wajah letih ayahnya. Dilihatnya dengan seksama garis-garis ketegasan pada wajah Bima. Sita mengulas senyum tipis.
"Baik, jika itu yang Papa minta." Pernyataan Sita membuat perasaan Bima sedikit lega. Setidaknya, kemungkinan serupa, tidak akan terjadi.
Tapi Bima cukup tercengang dengan pernyataan Sita yang selanjutnya.
"Sita lebih memilih Widan!" ujar Sita dengan mantap.
Maka dengan berat hati, Bima mengangguk setuju. Biar manapun juga, dia harus menepati ucapannya. Pilihan apapun yang Sita pilih, tentunya sudah dia perhitungkan dengan sangat baik. Dan pilihan manapun juga, memiliki manfaat tersendiri bagi Sita. Setidaknya, itulah pemahaman yang Bima ketahui.