
Sita menggelengkan kepalanya, dia menatap tajam lawan bicaranya. “Gak! Gue gak setuju pokoknya!” tolaknya mentah-mentah.
Sang lawan bicara Sita mendesis kesal. Gen dari om Bima, sungguh dominan kepada Sita. Dia merebut ponsel Sita dan meletakkannya di atas meja—sejajar dengan beberapa piring kosong bekas camilan mereka—dan membiarkan ponsel itu terus berdering, karena ada panggilan masuk dari orang yang sedang mereka bicarakan.
Sita berusaha mengambil ponselnya. Namun, selalu dicegah. “La! Lo apa-apaan sih! Siapa tahu itu penting tahu!” omelnya.
Sementara Trella hanya mengedikkan bahunya. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. “Makanya, cepat lakuin apa yang tadi kita diskusiin, Sitaaa!” ujarnya gemas.
Sita berdecak, dia mencebikkan bibirnya. Walaupun pada detik sekian, dia mengulas senyum tipis. Trella pura-pura tidak melihatnya dengan sibuk pada ponsel Sita.
“Ck! Ya udah, siniin!”
“Jangan cemberut gitu dong, Ta.” Trella menjawil sekilap kedua pipi Sita yang berisi.
“Jangan ngoceh mulu, cepetin balikin ponselnya!” titah Sita dengan tidak sabaran.
Trella menyerahkan ponsel Sita pada pemiliknya, tapi dengan segera menariknya lagi untuk menjauhkannya dari jangkauan Sita.
“Ish, Trella! Jangan gitu!” rengek Sita sambil mencak-mencak.
Bukannya merasa takut karena diberikan pelototan tajam oleh Sita, Trella malah ngakak sambil memegangi perutnya. “Duh, muka lo itu merah banget sih,” ucapnya.
Sita mencebikkan bibirnya dan merebut paksa ponselnya. Senyum seringai tersemat pada wajahnya. Dia tidak menyadari bahwa diam-diam Trella memerhatikannya secara detail, apalagi saat wajah Sita tiba-tiba berwarna merah dan senyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah ponselnya.
Trella tidak bisa menahan rasa keingintahuannya pada Sita, dia sedikit beringsut dan melongokkan kepala. Memastikan bahwa Sita benar-benar melakukan rencana yang sudah dia berikan. Hingga, sebuah deham keras, terdengar oleh kedua gadis itu.
Mereka menoleh pada sumber suara itu dan memasang tampang yang berbeda-beda. Trella dengan wajah terkesiap dan Sita yang berseri-seri, walaupun ditutupi oleh raut wajah kesal.
“Ngapain lo ke sini sih!” seru Sita, galak.
Orang yang dimarahinya pun hanya mengedikkan bahu tak acuh. Lalu duduk di samping Sita dan membuka sebuah toples berisi cemilan manis.
Trella hanya bisa mendesis pelan, sedangkan jantung Sita mulai bergemuruh hebat karena orang yang dimarahinya tadi, memakan cemilan manis buatannya. Seperti wanita pada umumnya, Sita juga menahan diri untuk tidak bertanya—walaupun penasaran—dengan cita rasa dari cemilan buatannya.
“Eh, Dan, review dong kue kering yang lagi lo makan itu,” celetuk Trella yang mendadak membuat Sita mendelik tajam padanya.
Di bawah meja, kaki Sita menendang-nendang kaki Trella, sebagai isyarat agar sepupunya itu diam.
Trella yang mendapatkan pertanyaan tersebut tersenyum kikuk. “Nggg...,” Dia melirik Sita yang sudah merenggut padanya. “Lo bisa tanya Sita aja deh. Gue... ada perlu di luar nih.”
Trella bangkit dari duduknya dan menghampiri Sita. “Pulang dulu ya, salam buat Om sama Tante, oke?” Dia mengecup pipi Sita sekilas.
Sita mengerjap mata. Lantas menoleh pada Widan setelah menghembuskan napasnya secara kasar. “Dari mana lo tahu kalau Trella pandai buat kue?”
“Lah, semua teman-teman sekolah kita juga pastinya tahu sama T'Barkery, kan? Kue di sana emang enak-enak,” kata Widan.
“Ah, gitu ya .....”
Suara Sita terdengar lesu, lalu Widan menutup toples tersebut dan melirik pada Sita yang sudah berwajah masam. “Kenapa lo?”
Sita menggelengkan kepalanya. Entah kenapa, pujian yang Widan berikan pada Trella membuatnya bungkam dan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Menurutnya, Widan tidak begitu dekat dengan Trella, tapi setelah mendengar bahwa Widan mengetahui tentang kepandaian Trella membuat kue, Sita merasakan kecemburuan.
Belum lagi, teman-temannya yang berbangga hati karena Trella yang notabenenya berasal dari orang yang berkedudukan tinggi dan masih belia, tapi sudah mampu mengembangkan usaha dari hobi kecilnya. Belum lagi karakter Trella yang cerita dan supel, menjadikannya orang yang menyenangkan. Namun sayangnya, di antara banyak kelebihan yang Trella miliki, dia masih menyandang status jomblo dibandingkan Sita yang pernah menjalin beberapa hubungan. Tentu saja, sudah banyak kaum adam yang berebutan untuk mendapatkan Trella.
Sita mendengkus saat rasa percaya dirinya terasa menurun hanya karena sahabat dan sepupunya itu. “Masa belum apa-apa gue udah nyerah duluan sih,” gumamnya. Sita berjalan ke arah ruang pribadinya dan meninggalkan Widan yang sedang berada di balkon kamarnya.
Setelah melakukan persiapan, Sita duduk di depan kanvas polos dan bersiap melukiskan beberapa garis hingga akhirnya terbentuk sebuah gambar anak laki-laki yang bertelanjang dada dengan hanya memegang pelepah daun pisang agar tidak kehujanan. Meski hanya menggunakan pelepah daun pisang, sang anak tersebut tidak tampak kedinginan dan memiliki tatapan optimistis.
Sita sangat menyukai lukisan yang didominasi dengan aliran naturalis, tidak terlalu mirip dengan Kakaknya, Adya. Dia lebih suka seni lukis abstrak ketimbang naturalis. Sita memejamkan matanya sejenak. Emosinya berangsur membaik setelah dirinya selesai melukis.
“Ehm ...”
Suara deham yang kentara itu membuatnya berpaling ke samping. Sita menemukan Widan yang berdiri tak jauh dari lukisan yang selesai dibuatnya. Keningnya bergelombang, dengan satu tangan bertumpu pada wajahnya, Widan tampak serius saat mengamati lukisan yang baru selesai itu.
Meskipun bukan pencinta seni yang ulung, maupun kolektor seni yang profesional, Widan seringkali dibuat tertegun oleh setiap lukisan yang dibuat oleh Sita. Ketika menatapnya, Widan merasa seluruh perasaannya dan pikirannya seolah-olah ditarik oleh lukisan tersebut.
Ada sebuah proses refleksi dan dialektika antara dunia nyata dan dunia lukisan, sehingga menyadarkannya akan makna kehidupan yang sesungguhnya. Terlebih lagi, Sita cenderung membuat lukisan naturalis yang membuatnya tampak sederhana tapi mengandung makna yang membuat dirinya sadar.
“Gue emang bukan kritikus handal, tapi menurut gue, lukisan yang lo buat ini ... menggambarkan bahwa daun pisang mencerminkan hidup kita yang harus bermanfaat bagi semua orang. Sama seperti pohon pisang yang seluruh bagiannya bermanfaat, seperti buah pisangnya, daun, hingga pelepahnya,” komentar Widan.
Sita tersentak saat Widan menatapnya. Dia seolah-olah bisa membaca pikiran Sita saja. “Dan gue... selalu suka,” ujar Widan tanpa melepaskan pandangannya dari Sita.