
Sita berbaring di atas kasurnya sambil membuat list kegiatan yang akan dikerjakannya selama sepekan nanti. Kebiasaannya ini sudah diterapkan oleh ayahnya sejak Sita masih kecil. Sita melirik ponselnya yang bergetar, terdapat pesan singkat dari media sosial dan juga dari banyaknya iklan barang-barang oleh berbagai media online shop. Sita mengabaikan notifikasi iklan tersebut dan memfokuskan atensinya pada satu pesan dari Hideki.
Hideki
Mau mencoba mengunjungi Tokyo Disney Sea? Mungkin tempat itu bisa membuat kamu lebih tenang.
Senyum Sita terukir walaupun sekilas. Di saat dia gamang tentang keadaan Widan yang berbeda ribuan kilometer dengannya, Sita menghela napasnya. Dia mengetikan pesan singkat pada Widan dan berharap bahwa sahabatnya itu segera memberikan kabarnya. Walaupun hanya sebatas pesan singkat.
^^^Sita^^^
^^^Wi? Kemana aja? ^^^
^^^Gue cemas dan berhenti bikin gue khawatir, Dan :(^^^
Sita beranjak dari kasurnya. Dia berjalan ke arah lemari dan terkejut saat melihat ke arah cermin-yang menjadi satu dengan lemari pakaiannya-rambutnya berantakan tidak karuan. Belum lagi matanya yang terlihat kuyu dan wajahnya yang kusam. Sita cemberut melihat pantulan dirinya yang terlihat menyeramkan.
"Kalau aja di Indonesia ada casting untuk film horor, kayanya aku bisa lolos tanpa seleksi saat mereka melihat keadaan wajahku seperti ini." Sita yang geram, langsung memberantakan rambut panjangnya. Keadaan rambutnya sangat kusut dari sebelumnya. Dengan malas, Sita meraih gawai yang masih ramai dengan notifikasi.
^^^Sita^^^
^^^Eki, chotto matte kudasai(1). ^^^
Setelah mengklik item send, balasan dari Hideki datang tak lama kemudian.
Hideki
Mochiron(2), santai aja kali.
Sita hanya membacanya tanpa berniat membalas.
"Musim panas emang harus dinikmati, gak boleh sedih-sedih terus!" ucapnya, menyemangati diri.
Baru saja Sita hendak ke kamar mandi, seruan dari neneknya membuat Sita mengurungkan niatnya untuk mandi.
Setelah menuntaskan permasalahannya dengan sang nenek, Sita memilih merendam dirinya dalam air hangat. Ucapan neneknya kembali terngiang dalam benaknya.
"Tata-chan, sekarang sudah dewasa ya. Sudah hebat dan bisa mengerti permasalahan keluarga, bukan?"
Sita yang ragu dengan maksud perkataan neneknya hanya mengangguk sopan. Setidaknya, dia tidak mempunyai prasangka buruk dengan yang dimaksudkan oleh neneknya.
Neneknya tersenyum kepada Sita sambil memeluknya dengan tiba-tiba sekali. Dalam suara batuk yang Sita dengar, neneknya itu berucap lirih dengan penuh pengharapan padanya.
"Nenek harap, kamu akan tumbuh menjadi gadis yang kuat. Bukan hanya memiliki kecantikan fisik semata, tapi hati serta nenek harapkan kamu dapat meneruskan usaha keluarga kita, ya?"
Saat itu Sita hanya bergeming tak tahu arah. Dirinya membisu, seperti sebilah pedang yang menyayat ulu hatinya. Perkataan atau bisa disebut sebagai permohonan itu, secara tidak langsung menjadi ultimatum padanya. Menghalangi Sita untuk meraih kebahagiaan lewat mimpinya.
Dia berharap, gelegar aneh yang terus menyesakkan di dadanya, dapat berkurang seiring dengan tangisan pilu yang tidak dapat Sita bendung lagi. Sejenak, Sita kembali merindukan sosok Adya di sampingnya. Kakaknya itu adalah orang paling penting bagi kehidupan Sita. Bahkan setelah ketidakhadirannya di dunia, Sita masih saja menganggap bahwa Adya hanya sekedar tidur di dalam tumpukan tanah. Bukan benar-benar pergi seperti yang dikatakan banyak orang padanya.
Rasa sesak itu menyeruak pada dadanya. Bahkan untuk mengeluarkan air matanya, Sita tak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Seolah-olah ada hal yang mengganjal dalam hatinya dan membuat Sita tidak bisa menangis meskipun sesak di dadanya terus menggerogoti jiwanya.
"Karena kenangan itu yang membuat kita tidak menangis. Kenangan itu semakin membuat kita sadar, bahwa kita adalah orang yang paling sedih saat mengetahui kenangan itu tidak dapat kembali terulang."
Sita memejamkan matanya. Dalam guyuran shower, Sita kembali membayangkan kenangan yang terjadi di antara dia dan Adya hingga membuatnya tersenyum kecut.
...•••...
Sesuai dengan janjinya dengan Hideki, kini mereka sudah berada di depan taman akuatik yang menjadikannya sebagai tempat sempurna untuk dikunjungi selama musim panas. Banyak orang menyebut Tokyo Disney Sea sebagai "Taman Hiburan Terbaik Dunia".
Sita baru benar-benar merasakan dirinya seolah-olah berjalan di sekitar kota Agrabah. Ada juga seluruh area yang didedikasikan untuk Aladdin yang disebut "The Arabian Coast". Tempat ini menampilkan banyak film bertema air Disney seperti The Little Mermaid, Finding Nemo, dan 20.000 Leagues Under the Sea, serta beberapa film remaster, seperti The Tower of Terror.
Hideki membawa Sita mengelilingi Disney Sea. Tak hanya menikmati banyak wahana, Sita juga dapat melihat adanya akomodasi taman sangat rinci, seperti Hotel Miracosta, yang merupakan rekreasi pelabuhan Mediterania.
"Kamu sering ke sini?" tanya Sita.
Hideki menoleh pada Sita dan tersenyum tipis. "Iie, di waktu senggang. Itu pun kalau jadwal kuliah saya tidak sedang padat." Di akhir kalimatnya, Sita dapat mendengar suara lirih. Entah karena Sita yang terlalu melow atau karena dia yang terlalu terbawa suasana.
Atensi Sita teralihkan pada langit Kota Tokyo yang tampak cerah. Senyumnya terukir sempurna. Jika mengingat masa lalu, Sita biasanya sedang merecoki Widan yang mengajaknya untuk hunting foto. Bahkan, Sita kerap kali menjadi model dadakan bagi laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya itu.
Sita mengecek gawainya. Berharap ada notifikasi dari orang yang sedang dia pikirkan. "Huftt ..." Helaan napas yang keluar dari mulutnya, terasa berat. Sita memandang kecewa gawainya.
"Kenapa?" Hideki menilik ke arahnya yang tampak cemberut.
Sita menggelengkan kepalanya, lalu menyimpan kembali gawai pada tas selempang yang disampirkan di bahu. "Kita pergi ke sana?" Sita menunjuk pada pelabuhan Mediterania yang ramai oleh wisatawan mancanegara.
Hideki menghembuskan napasnya. Dia membiarkan Sita untuk mengelak dari perasaannya. Meskipun tanpa Sita jelaskan, wajah cemas yang Sita tunjukan cukup bagi Hideki untuk menebak perihal hal apa yang terjadi pada Sita. Mungkin tebakannya segera terealisasi saat mendengar suara dering dari ponsel Sita. Begitu melihat id call, Sita langsung berjingkrak girang, dia mengabaikan banyak pasang mata yang memerhatikan. Termasuk Hideki yang diam-diam memerhatikan.
"Halo, Dan?"
"Sori, Sit. Ini gue, Trella. Widan ...."
Jantung Sita bergemuruh kencang. Keringat dingin mulai bermunculan dan Sita takut akan kemungkinan terburuk dari absennya Widan beberapa hari ini.
"Widan ... kenapa?"
"Widan ..."
Kabar dari Trella bagaikan anak panah yang menancap tepat pada relung hatinya. Darahnya terasa berhenti mengalir dengan keringat dingin mengucur dari dahinya. Ketakutan yang selama ini Sita coba padamkan, nyatanya tak bisa membuatnya mencegah takdir yang menimpa Wildan. Sekali lagi dalam hidupnya, Sita harus menghadapi ketakutannya dengan segenap hatinya.