
Trella mengajak Sita ke taman belakang keluarganya. Sita sendiri memang nyaman saat berada di sana, terlebih lagi banyak tanaman yang dirawat apik oleh ibunya. Pratista memang tipikal ibu yang digadang-gadang menjadi menantu sekaligus ibu idaman, mungkin itu yang orang-orang pikirkan tentang ibunya. Padahal Sita sendiri sudah sangat muak dengan sikap apatis ibunya.
“Aku ngajakin kamu ke sini bukan untuk ngelamun Sita,” tegur Trella.
Sita mengangguk pelan, lalu menoleh pada Trella. “Hari ini kamu tampak berbeda. Ada yang mengganggu pikiranmu?” Lalu seakan teringat kejadian saat makan malam tadi, Sita langsung menggelengkan kepalanya. “Maksudku, apa ada hal yang membuatmu keberatan dengan rencana keluarga kita?”
Trella lebih dulu berjalan menuju gazebo dan meletakkan tubuhnya pada kursi panjang yang menghadap langsung ke arah kolam ikan. Sita ikut duduk di samping Trella dan mengamatinya seksama.
“Bukan hanya itu aja yang jadi pikiranku saat ini,” keluh Trella dan balik memandang Sita sekilas.
“Kalau kamu udah siap buat cerita, jangan sungkan Trella. Kita tumbuh dewasa bersama-sama,” nasihat Sita.
Trella merasa miris dengan ucapan yang dilontarkan Sita. “Kamu benar, kita dewasa bersama...,” ucapan Trella menggantung, setelah menghembuskan napasnya, Trella kembali melanjutkan kalimat rampungnya. “Tapi jika harus dibandingkan, aku rasa lebih baik kita berada di masa kecil lebih lama dari seharusnya.”
Kepala Sita bergerak menyetujui ucapan Trella. Sita mendongak ke arah langit malam yang ramai oleh bintang-bintang dan bulan sabit yang menemaninya. “Memang, kehidupan masa kecil itu terasa singkat saat kita sudah beranjak dewasa seperti sekarang ini.”
Lampu-lampu temaram dan similir angin menerpa wajah Sita, membuat beberapa rambutnya tersapu sang angin. “Tapi justru dengan melewati fase dewasa saat ini, kita dituntut untuk lebih mengerti lajunya kehidupan yang tampak mengerikan di mata anak kecil.”
Helaan napas yang keluar dari bibir Trella yang terlihat menggigil, menarik perhatian Sita. “Ella, apa sebaiknya kita ke dalam aja? Kamu udah kedinginan gitu.”
Trella menggeleng. Dia lebih baik kedinginan di sini daripada dia merasakan sesak nantinya. Diam-diam, Trella mengamati perubahan signifikan dari Sita. Wajahnya yang dulu sedikit sayu, sekarang tambah sayu. Bahkan jika Trella boleh jujur, penampilan Sita saat ini sangat bertolakbelakang dengan riak wajahnya yang sendu. Hal tersebut sudah mengartikan banyak hal bagi Trella.
“Di sini aja, Ta. Lagian banyak hal yang ingin aku sampaikan ke kamu sebelum kamu mengetahuinya dari orang lain,” jelas Trella.
Mungkin akibat dari terpaan angin malam yang membuat Sita merasakan tubuhnya lebih dingin. Ada sebuah detakan aneh yang tidak nyaman dia rasakan. Sita menantikan hal apa yang ingin Trella sampaikan padanya dengan harap-harap cemas.
Setelah melihat anggukan dari Sita, Trella mulai menjelaskan asal muasal keputusan keluarganya.
Kejadian tersebut bermula dari kesalahpahaman saat Trella mengikuti pesta lajang kenalaannya di salah satu bar ternama di Jakarta Pusat. Trella kira, wiski yang biasa dia minum, meskipun berseloki-seloki sekalipun, tidak akan membuatnya mabuk. Tapi karena saat itu kondisi tubuhnya yang tidak stabil dan kenekatan Trella meminum wiski, akibat tindakan bodohnya tersebut, Trella hampir saja kehilangan kehormatannya. Andai saja tidak ada pria yang menolong tempo lalu, sudah dipastikan Trella akan berakhir dengan keadaan tidak gadis lagi.
“Tapi Mama lebih dulu tahu bahwa aku bermalam di rumah pria itu dan menyangka yang gak-gak.” Trella melirik Sita yang masih diam, tanpa memotong pembicaraannya. “Apalagi setelah Mama dapat sindiran dari teman-teman sosialitanya, kalau anak gadisnya bukan perawan lagi. Makin gencar deh usaha Mama buat jodoh-jodohin,” jelasnya nelangsa.
Sita menepuk-nepuk punggung Trella pelan. Memberikan dukungan moril pada sahabatnya. “Tapi kamu udah jelasin semuanya sama Tante Adira kan?”
Trella mengangguk lesu. “Beberapa kali. Tapi Mama keburu keukeuh apalagi saat tahu laki-laki yang nolong aku itu, calon potensial banget. Katanya itu juga.” Trella meringis saat menjelaskan bagian akhir kalimatnya. Terlihat wajahnya menampilkan ketidaknyamanan.
“Tapi Tante Adira benar. Apalagi di sini, bukan seperti di Jakarta yang lebih banyak menganut kebudayaan barat.” Sita menatap Trella, mencoba mencari-cari hal apa yang sebenarnya disembunyikan oleh sepupunya itu. “Setidaknya, pasti Ibu kamu memilih calon yang terbaik buat kamu.”
Trella hanya membiarkan malam itu berlalu dengan ketidaktahuan Sita perihal pasangan Trella.
...•••...
Libur musiman yang Sita dapatkan di universitas, membuatnya lebih leluasa menghabiskan waktunya di Indonesia. Bahkan tante Adira benar-benar mewujudkan perkataannya dengan mempersiapkan semuanya secara detail. Pernikahan Trella akan berlangsung setidaknya tiga bulan lagi. Sita dapat memahami rona bahagia pada wajah tante Adira yang menular pada Trella.
Pratista yang baru pulang dari pekerjaannya, sejenak melirik putrinya yang mengamati interaksi Trella dan Adira. “Kamu udah tahu calonnya Trella?” tanya Pratista mendadak.
Senyum yang awalnya Sita perlihatkan, mendadak hilang. Dia melihat ibunya dengan tatapan awas. “Aku emang belum tahu. Trella belum ngasih infonya. Tapi melihat rona wajahnya yang bahagia, aku rasa, Ella akan bahagia dengan pernikahannya, bukan?”
“Yakin, itu saja yang kamu lihat dari Trella?”
Mata Sita memicing ke arah Pratista. “Maksud Ibu apaan, sih? Ibu gak seneng lihat sodara aku sendiri bahagia?” sarkasnya.
Pratista menghela napasnya. Dia menatap putrinya dengan prihatin. “Sepertinya kalau kamu tahu Widan yang menjadi calon Trella nanti, apa yang kamu lakukan?” Lalu Pratista menepuk-nepuk kepala Sita. “Ibu harap kamu gak bertindak bodoh setelahnya.”
Pratista berlalu begitu saja. Meninggalkan Sita yang masih diambang kesadarannya akibat informasi yang dia dapatkan dari ibunya itu.
“Trella dan ... Widan? Ini ... benar?” Lalu Sita menatap Trella yang terlihat bahagia mempersiapkan pernikahannya. Sita menahan gemuruh yang terus membentur dinding pertahanannya agar tidak menangis. Hari-hari kemarin sudah banyak Sita habiskan dengan menangis, Sita harus mencari kebenarannya sendiri.