Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 9 : New Life



Widan acap kali membujuk Sita agar keluar bersamanya. Bahkan, kerap kali Widan mengajak Sita ke GNI—Galeri Nasional Indonesia—yang sedang menyelenggarakan pameran dan perhelatan seni rupa.


Sita bertingkah aneh dengan menggelengkan kepala dan menunduk lesu. “Kayanya gak buat sekarang. Nanti aja, Dan,” sahut Sita sambil mengulas senyum canggung.


Widan mengerutkan keningnya, menatap Sita dengan bingung. “Tumben, biasa juga suka semangat.”


Sita meresponnya dengan terkekeh-kekeh, padahal hatinya sangat bersimpangan dengan tindak lakunya.


“Dan, kita jalan pake motor lo aja, gak apa-apa, kan?” pinta Sita tiba-tiba.


Alis sebelah Widan terangkat, heran. “Gak takut kena sinar matahari emang?” ledeknya.


Sita berdecak kesal, dia mendelik pada Widan. Tapi tetap memaksa laki-laki itu untuk berjalan ke arah bagasi. Terdapat beberapa mobil mewah serta dua motor sport yang terparkir di bagasi keluarga Agler ini.


Sita menunjuk pada motor sport hitam keluaran tahun lalu. “Pake yang itu aja!” suruhnya. Seperti majikan pada ajudannya.


Widan mendengkus, walaupun tetap menyetujui pilihan Sita. Karena tidak biasanya perempuan itu mau di ajak mengelilingi kota metropolitan yang sedang panas terik seperti sekarang.


“Beneran gak mau pake mobil aja, Ta?” tawarnya lagi, siapa tahu Sita akan merubah pikirannya.


“Gak ih! Buruan, Dan! Jangan banyak omong dulu,” oceh Sita yang tidak sabaran.


Bukannya maksud Sita untuk mengomeli Widan yang sudah berbaik hati menawarinya tumpangan untuk menghabiskan waktu weekend di Dufan. Ini semuanya, murni rencana dadakan dari Sita demi pengalihan perasaannya terhadap GNI di Gambir.


Sita berusaha menekan rasa antusias dan juga keingintahuannya saat mengetahui tentang pameran seni rupa itu. Dia harus menepati janjinya terhadap ayahnya.


Selama perjalanan, Sita lebih banyak diam dan Widan seringkali memergokinya sedang termenung. Dia ingin bertanya, namun keengganan untuk membuat Sita tidak nyaman saat berada di sampingnya, membuat Widan mengurungkan niatnya.


“Mau coba naik wahana apa dulu?” tanya Widan.


Mereka telah masuk ke dalam area Dufan dengan menggunakan tiket khusus dengan harga yang cukup melejit.


Sita menunjuk pada salah satu wahana yang memacu adrenalin, berbentuk seperti kincir angin raksasa. Widan menatap gamang pada Sita yang terlihat datar saat melihat wahana itu bergerak naik-turun dengan memutar baling-baling yang memuat banyak pengunjung di sana.


Widan meraih tangan Sita untuk digenggam dan menuntunnya menuju pintu masuk eksklusif wahana 'Baling-baling' agar mereka menghindari antrian yang lumayan panjang.


Sita menahan lengan Widan yang hendak masuk lewat jalur khusus tersebut. “Kita ikut antri aja, ya?”


“Kenapa? Bukannya lebih enak kalau kita langsung aja, ini kita ada tiketnya, Ta,” jelas Widan mengingatkan.


Sita memandang Widan dengan tatapan memelasnya. Sementara Widan, mengumpat dalam hati. Tatapan Sita yang seperti itu, sukar untuk dia tolak.


“Oke-oke, fine.”


Sita menarik Widan agar ikut bersamanya untuk mengantri. Sebenarnya, Sita juga cukup takut jika mengikuti wahana seperti ini. Tapi pikirannya terlalu kalut saat ini dan butuh pengalihan suasana.


Antrian wahana Baling-baling, juga beberapa antrian dari wahana lainnya yang memacu adrenalin, penuh dengan pengunjung dari mancanegara juga wisatawan lokal. Saat Sita hendak memasuki istana boneka, dering panjang dari ponselnya membuat Sita izin pamit kepada Widan untuk mengangkat panggilan telepon dari ayahnya.


Sita sendiri terheran karena ayahnya mau repot-repot menghubunginya di hari libur seperti sekarang. “Iya, Pa?”


“Harus sekarang banget, Pa?”


“Apa perlu Papa seret kamu dari sana?”


Deg!


Netra Sita diedarkan secara random ke sembarang arah. Matanya melotot tajam pada beberapa ajudan kepercayaan ayahnya yang kerap kali Sita lihat. Dengan terpaksa, Sita menuruti permintaan ayahnya.


“Sita pulang sekarang,” sahutnya tidak bersemangat.


Sebelum menemukan Widan, Sita lebih dulu menghembuskan napasnya secara kuat-kuat. Dia kesal terhadap dirinya sendiri yang dengan patuhnya, mengiakan perkataan ayahnya yang tidak bisa Sita bantah. Meskipun Sita berusaha memberontak sekalipun, rasa sayangnya pada Bima, tidak akan pernah bisa membuat Sita tidak menuruti keinginan sang ayah.


Maka, saat Widan kembali mengajaknya untuk melanjutkan destinasi mereka, Sita menahan lengannya. Berucap lirih dan menatap wajah Widan dengan genangan air mata yang menumpuk di pelupuk.


Widan panik, dia mencangkup wajah Sita dan meniliknya dengan seksama. “Ta, lo kenapa? Ada sakitin lo?”


Ingin rasanya Sita berteriak pada Widan bahwa dirinya memang tersakiti, oleh dirinya sendiri. Tapi yang Sita lakukan hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Pulang ...” lirihnya, namun Widan masih mendengarnya dengan jelas.


Tanpa banyak kata lagi, Widan mendekap tubuh Sita dan mengusap punggungnya lembut. Setelah selesai, barulah Widan menuruti permintaan Sita untuk pulang lebih awal dari jam main yang telah mereka sepakati awalnya.


Gerbang tinggi menjulang milik keluarga Adirajada, menjulang tinggi di depan Sita. Rasanya, membuat tubuh Sita mengecil saat memasuki rumah elit bergaya eksotis itu. Sita berkali-kali mengatur ulang napasnya agar lebih siap untuk menghadapi ayahnya sendiri.


Lantai marmer terasa dingin saat Sita menjejakkan kakinya. Tapi, itu tidak kalah dingin dengan tangan Sita. Dia sudah mempunyai feeling bahwa ayahnya yang menguntit kesehariannya, pasti memiliki skenario lain untuk kehidupan Sita.


Timing yang digunakan oleh Bima juga sangat pas sekali. Karena ketidakhadiran Pratista—orang yang bisa saja menjadi tameng bagi Sita saat melakukan perlawanan terhadap keputusan ayahnya—sedang menindaklanjuti laporan praktek lapangan di luar kota, bersama teman-teman satu penelitiannya.


Sita menghembuskan napas gusar. Dilihatnya dengan teliti wajah Bima yang sedang membaca secarik kertas.


“Akhirnya kamu sampai juga,” ujar Bima.


Sita hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Dia duduk di seberang ayahnya yang terlihat sibuk dengan beberapa kertas itu. Sita memerhatikan ruang kerja ayahnya yang tidak pernah berubah dari pertama kalinya Sita mampir ke sini, gelap dan dingin.


Setelah keheningan yang cukup panjang, sebuah tangan terjulur ke arahnya. Sita mengerutkan alisnya saat melihat nama kop surat yang tertera dari amplop persegi panjang putih itu. Napasnya tertahan, bersamaan dengan penjelasan dari Bima yang lagi-lagi menghantam lubuk hatinya.


“Papa cuma mau yang terbaik buat kamu. Dan Papa percaya, bahwa kamu tidak akan mengecewakan Papa  dan Mama yang sudah mendidikmu sampai saat ini.”


Sita meneguk salivanya, tenggorokannya terasa tercekat. Lidahnya mendadak kelu. Perkataan Bima bagaikan senjata makan tuan, dia tidak bisa berkutik lagi saat Bima sudah berbicara dengan perkataan seperti itu.


Karena bagi Sita Prawira Adirajada, keluarga dan kebahagiaan kedua orang tuanya adalah kemutlakan yang harus Sita jalani. Terlebih lagi, saat Adya Surya Adirajada sudah tidak lagi disisinya.


Dengan bibir yang bergetar, Sita berucap pelan, “Jadi ... kapan Sita harus ke Jepang?” tanya Sita saat melihat kop surat yang memiliki logo Institut sekolah di Jepang.


“Setelah kamu lulus sekolah. Segala kebutuhan paspor dan lainnya sudah Papa siapkan jauh-jauh hari.” Bima mendekap tubuh Sita dengan erat. “Terima kasih, Nak. Terima kasih telah menuruti permintaan keegoisan Papa ini. Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu,” jelas Bima.


Sita hanya bisa terdiam, sambil menahan tangisnya agar tidak pecah saat ini juga.