Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 32 : Last



Hideki menatap gamang pada secarik kertas yang sudah lusuh tersebut. Diliriknya Sita yang sudah tertidur pulas di samping perjalanan menuju asrama mereka. Hatinya seolah meragu jika menjatuhkan pilihan untuk memberikan surat tersebut pada Sita. Dia takut, apa yang selama ini menjadi ketakutan dalam angan-angannya, mendadak menjadi kenyataan yang tidak dia inginkan. Tapi sebenarnya, tindakan dalam menyembunyikan surat ini pun turut menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja.


Dihelanya napas sepanjang yang dia bisa. Keningnya saja sudah berkerut, apalagi kepalanya yang terasa dipukul oleh godam berkali-kali memikirkan tindakannya ini. Saat Hideki merasakan pergerakan jemari Sita di samping jok pengemudi taksi, dia segera melipat kertas tersebut menjadi bagian kecil dan menyisipkannya di saku ******.


***** tidurnya, Sita menggeliat. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Baru setelah sadar bahwa dirinya berada dalam mobil, segera dia meminta maaf karena canggung tertangkap basah oleh supir taksi yang melihatnya sedang menggeliat.


“Muka kamu habis bangun tidur, emang bisa selucu itu ya?”


Candaan Hideki membuat bibir Sita mengerucut. Dia tidak punya muka untuk membela diri, ketika supir taksi tersebut diam-diam tersenyum jenaka ke arahnya.


“Aish, malu-maluin diri sendiri aja,” gerutu Sita dalam hati.


Demi menyelamatkan harga dirinya yang tersisa dari rasa malu tersebut, Sita melihat ke samping. Berderet gedung-gedung yang tertata rapi, serta puluhan orang yang berjalan di sisi jalan tampak teratur. Bahkan sejauh matanya memandang, tidak ada sebiji pun sampah yang mengotori jalan kota. Semuanya telah ditata sedemikian rupa sehingga enak dipandang.


Sayang sekali, jika membandingkannya dengan kota kelahirannya, jelas jauh beda. Ada sedikit rasa iri yang terselip dan Sita berandai, jika saatnya nanti Jakarta dapat mencontoh kehidupan di Jepang. Tentu saja mencontohnya yang baik-baiknya saja.


Puas dengan pemandangan di sisi jalan raya yang menuju asramanya, Sita melirik pada arloji di tangan yang menunjukkan pukul dua siang. Masih tersisa sejam lagi perjalanan mereka untuk sampai di tempat tujuan. Sita juga masih sempat menguap lebar karena sisa-sisa perjalanan tujuh jam mereka melintasi lautan.


“Setelah kamu tinggal lama di sini nanti, kamu bakalan kangen rumah gak?”


Pertanyaan random dari Hideki, berhasil membuat Sita menoleh sepenuhnya ke arah laki-laki itu. Sita terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya.


“Sudah pasti kangen sih, tapi untuk saat ini, aku sama sekali gak kepikiran buat balik dalam waktu dekat,” ucap Sita dengan pandangan lurus ke depan, kepada lalu lintas kota Tokyo.


Hideki terlihat manggut-manggut paham. “Bukannya sebaik apapun negeri orang, masih bagusan negeri sendiri?” argumennya.


Untung saja mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. Kelihatannya supir taksi ini pun tidak keberatan dengan perbincangan mereka. Sita pasti akan tak enak hati jika supir tadi mengetahui bahwa Hideki secara tak langsung menyampaikan argumennya yang membanding-bandingkan negara asalnya dengan negara ini.


“Itu semua tergantung asumsi pribadi. Sejauh negeri orang itu dapat membuat kita nyaman dan aman, kenapa gak lebih baik dari negeri sendiri yang suka membuat kepedihan?”


Hideki tersenyum mafhum saat secara tersirat, Sita mengungkapkan keengganannya untuk kembali ke negera asal mereka adalah dikarenakan kenangan tak mengenakkan tersebut.


“Lagipula, kita baru aja sampai. Kayaknya gak etis deh udah ngomongin pulang lagi,” sambung Sita.


...•••...


Pemerintah Jepang begitu peduli dengan pendidikan di negaranya, sehingga mereka benar-benar menggalakkan sistem pendidikan yang modern dan membuka peluang mahasiswa asing untuk berkuliah di Jepang. Tidak hanya itu saja, pemerintah Jepang juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing mendapatkan beasiswa dari pemerintah langsung, di mana hal ini menunjukkan salah satu bentuk kepedulian mereka terhadap kemajuan pendidikan dunia.


Meskipun Sita sempat mengalami culture shock, untung saja ada Hideki yang entah bagaimana caranya, senantiasa membantunya. Selepas menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa di Chiba University, Sita yang kini tengah merenung, membolak-balikan catatan hariannya. Tak banyak yang dia tulis selama hampir lima pekan kembali ke Jepang. Hanya beberapa ungkapan perasaan yang tidak bisa dia jabarkan pada siapapun. Termasuk pada Hideki yang selalu menjadi "tempat sampah" emosinya.


Sita juga sangat bersyukur, karena meskipun belum menyusul Trella di Kanada, gadis itu kembali memulai membangun komunikasi yang sempat terputus dengannya. Awalannya Sita juga tidak percaya saat mendapatkan email dari nama lengkap Trella itu.


From : adirajadatrella@gmail.com


To : sitaperwariadiraja@gmail.com


Bagaimana kuliahmu kali ini? Menyenangkan bukan? Jujur saja, aku kadang merasa kesepian hingga merasa tidak memiliki teman sebaik dirimu.


Email tersebut terkirim saat jam 6 pagi, itu berarti saat Sita sedang bersiap-siap dengan kegiatan perkuliahan dan baru saja Sita baca di saat malam hari. Sudah dipastikan, jika saat ini di Kanada, memasuki waktu siang hari. Di mana kegiatan perkuliahan sedang sibuk-sibuknya. Sita memutuskan untuk membalasnya besok saja. Matanya sudah tidak bisa dia paksakan untuk tetap terjaga di malam ini.


...•••...


Sewaktu Sita dengan pergi ke kantin, diam-diam Hideki menyelinap ke mata kuliahan Sita. Tak banyak orang yang tahu perihal kedekatan mereka. Selain bukan dari kalangan orang-orang populer, baik Hideki maupun Sita paling anti jika harus menjadi pusat perhatian banyak orang.


Hideki secara sengaja menyelinapkan surat lusuh tersebut di dalam ransel Sita. Dia sudah berulangkali memikirkan resiko serta segenap praduga yang mungkin saja menjadi penyebab ketakutan yang selama ini dia jaga sendiri akan terjadi. Tapi setelah Hideki hitung pasca kejadian dirinya yang meninggalkan surat tersebut, sampai sekarang Sita bertindak seolah tidak terjadi apapun.


Atau mungkin, dia belum membacanya?


Pemikiran itu terlintas begitu saja. Buru-buru Hideki menyamakan langkahnya dengan Sita yang berada di koridor kampus. Persetanan dengan jarak fakultasnya yang berseberangan arah dengan jalan yang dilalui Sita.


“Tunggu, Ta!” seru Hideki berhasil membuat Sita menghentikan langkahnya.


Sita berbalik dan menyatukan kedua alisnya. “Loh, bukannya kelas kamu bukan berada di gedung ini ya?” tanyanya terheran


...Hideki mengangguk pelan. Waktu yang tersisa sebelum kelasnya dimulai tidak banyak. Dia harus memastikannya sekarang ini ataupun tidak sama sekali....