
Setelah mengemasi barang-barang dengan terburu-buru dan dipaksa secara tidak langsung oleh ayahnya untuk tinggal di Jepang, bersama keluarga dari pihak ibunya, Sita berangsur beradaptasi dengan baik di lingkungan yang baru baginya.
Kerap kali Sita mendapatkan kesulitan dalam bergaul di lingkungan sekolahnya. Belum lagi bahasa asing yang sekarang ini menjadi kebiasaan Sita saat tinggal di negara bunga Sakura ini.
Selama kurun waktu dua tahunan terakhir ini, Sita masih bersahabat dengan Widan. Bahkan sahabatnya itu telah diterima di Institut Kesenian Jakarta. Widan memang berencana untuk serius pada hobi yang digelutinya sepanjang waktu itu. Sita ikut berbangga diri karenanya. Meskipun saat ini mereka hanya melakukan pertemuan secara daring, tapi Sita mensyukuri hal tersebut.
Setidaknya, Widan tak pernah melupakannya.
Usai menyelesaikan mata kualiahnya siang ini, Sita diajak oleh salah satu teman satu fakultasnya untuk mengunjungi "Museum Seni Tokyo Metropolitan Teien" yang berada di Meguro.
Orang yang mengajak Sita adalah Hideki Yogaswara. Seorang kakak tingkatnya di Fakultas Management yang menyukai seni. Tak jarang pula, Sita dan Hideki mendiskusikan banyak hal tentang seni di waktu senggang yang mereka punya.
"Yuk, Sit," ajak Hideki padanya.
Satu hal yang patut Sita syukuri dari kehadiran Hideki yang terasa seperti seorang Kakak baginya-mengingatkannya pada Adya-juga Hideki merupakan keturunan Indonesia-Jepang, sehingga membuat Sita tidak merasa sendirian saat mengetahui bahwa dirinya memiliki teman yang satu tanah air dengannya saat menempuh pendidikan di Jepang.
Sita menganggut. Dia berjalan beriringan bersama Hideki menuju parkiran kampus. Dering dari gawai membuat Sita merogoh saku celananya dan melihat id call yang menunjukkan bahwa Widan yang menjadi penelepon. Sita menerima panggilan tersebut sambil tetap berjalan mengikuti Hideki.
"Widan! Lo kemana aja sih! Gak tahu apa gue udah kangen berat sama lo!" seru Sita tanpa malu.
Terdengar suara kekehan dari seberang telepon. Sita berdecak malas sekaligus tersipu malu karena dia mengungkapkan rindunya dengan spontan. "Ini kalimat sapaan yang paling gue rindukan dari seorang Sita Parwari," ujar Widan.
Sita masuk ke dalam mobil Hideki dan menggumamkan tanpa suara bahwa yang meneleponnya adalah Widan. Hideki mengangguk, memang laki-laki itu sudah mengetahui hubungan antara Sita dan Widan semenjak mereka akrab menjadi teman.
"Haha, lagian pasti sih, lo bakal kangen berat sama gue. Apalagi di Jakarta gak ada makhluk semenyenangkan gue kan?" canda Sita.
"Yang lebih menyenangkan daripada lo itu banyak. Tapi kayaknya yang lebih menyebalkan bagi gue sih, lo tetep juaranya."
Sita mendesis, tak urung mengembangkan senyumnya. "Lo emang paling bisa ya, bikin mood gue naik-turun," cibirnya.
Di Jakarta, tepatnya di apartemen yang dekat dengan kampusnya, IKJ. Widan tertawa mendengar penuturan Sita yang terdengar merajuk. Andai saja dia memiliki keberanian untuk menyusul gadis itu di negeri orang, sudah dipastikan bahwa dia tidak akan merasakan perasaan sesak akibat merindukan gadis yang terbiasa bersamanya.
"Lo masih aktif berkarya, Ta?"
Sita yang mendapatkan pertanyaan tersebut tersenyum kecut. Jika boleh jujur, Sita teramat merindukan kebiasaannya dalam melukis. Bahkan untuk sekedar melampiaskan perasaannya semata. Dia menghela napas sebelum menjawabnya. "Enam bulan ini, gue belum pegang kuas lagi."
Berapa kali pun Sita mencoba menenangkan diri, kecemasan dan rasa tidak berdaya itu membuatnya lemah. Napasnya jadi memburu.
Hideki menoleh sekilas pada Sita. Dia sibuk membagi fokusnya pada jalan raya dengan Sita di sampingnya. "Jika menangis bisa bikin kamu tenang, luapkan aja. Anggap saja saya tidak melihatnya." Hideki spontan mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap kepala Sita.
Sejenak, Sita tertegun. Perutnya terasa terhimpit. Debaran yang sama pernah dia rasakan dulu, kembali hadir. Namun bukan karena orang yang sama. Apa ... perasaanku telah beralih? Sita menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru. Hideki segera menarik tangannya dan kembali fokus menyetir. Walaupun sesekali, ekor matanya tetap memerhatikan Sita yang menatap ke arah luar jendela.
...•••...
Bagi seniman yang lebih menyukai aliran naturalis dan realita seperti Sita, mendatangi Museum di Taman Jepang ini menjadi daya tarik tersendiri. Museum Seni yaang berada di Meguro ini, memiliki taman tradisional yang sangat dihargai oleh masyarakat Jepang dan warga mancanegara.
Setelah sampai di museum, Sita dan Hideki serta beberapa seniman dan kurator seni lainnya, diberikan pengarahan oleh seorang staf museum.
"Sebelum melanjutkan perjalanan kalimat di Museum ini, saya ingin mengingatkan kembali bahwa kita dilarang berbicara dengan keras dan menggunakan telepon seluler. Anda harus memperhatikan telepon Anda, aturlah mode getar atau silent untuk melindungi karya yang dipamerkan," tuturnya.
Hari ini sedang musim panas di negara Sakura. Oleh karena itu, saat Sita melihat miniatur musiman di sekitar Taman Tradisional Museum ini, indahnya warna hijau daun membuat nuansa nyaman baginya. Dia menyikut lengan Hideki. "Eki, sebenarnya dalam Museum ini, berisi apa saja sih?" tanya Sita berbisik. Dia mengabaikan staf museum yang menuturkan berbagai peraturan di museum yang membuat Sita merasa bosan.
"Di dalamnya, terdapat karya-karya seni buatan manusia yang dipadukan dengan alam. Sehingga memiliki daya tarik tersendiri dan cukup berbeda dari yang jenis seni lainnya," jelas Hideki, balas membisik.
Sita menganggut pelan. Dia menyayangkan pihak museum yang melarang pengunjungnya untuk mengambil gambar dan film serta menyentuh karya-karya yang dilindungi. Bahkan tidak memperbolehkannya untuk membuat sketsa karya seni yang ada. "Mengesalkan," desis Sita. Dia beringsut dari rombongannya.
Setelah menepi sesaat, Sita mencak-mencak kesal. Bibirnya terus menggerutukan kekesalannya. Hideki terkekeh pelan melihat tingkah yang seperti anak kecil. Dia berinisiatif untuk memberikan Sita sebuah es krim matcha yang dijual di ruko, dekat museum.
"Di makan, Ta. Bukan dilihatin aja," ujar Hideki sembari mengulurkan tangannya yang memegang es krim pada Sita.
Sita yang awalnya mendelik karena merasa ditinggalkan di sekitar museum oleh Hideki, langsung mengambil es krim yang diberikan padanya. "Arigato¹," ucapnya lirih.
Hideki mengangguk. Dia kembali Mengacak-acak rambut Sita yang sekarang ini, menjadi seperti kebiasaannya. "Hmm..."
"Gomen², tadi aku sempat berpikiran buruk tentangmu," jujur Sita.
"Iie³, kamu tidak perlu khawatir. Saya senang dapat membantumu merasa lebih baik," ujar Hideki dengan disertai senyuman.