
Pengusiran secara tidak sopan yang dilakukan Sita tempo lalu nyatanya tak cukup untuk membuatnya bersama dua orang yang besar bersamanya menjadi menjauh. Mereka juga tidak memberikan alasan yang berarti dan sama sekali tidak membahas masalah tempo lalu secara lebih rinci. Bahkan Sita sempat berasumsi bahwa mereka sama-sama membungkam diri demi menutupi sesuatu yang sama sekali belum Sita sadari.
Dibalik rasa penasaran sekaligus tidak nyaman yang kerap kali Sita rasakan ketika mereka bertiga berkumpul, sering mengusik kecemasan yang tidak berarti. Sita mengatupkan bibirnya saat Trella dan Widan mulai mengoceh sana-sini secara random. Sengaja, memancing Sita untuk turut andil dalam percakapan mereka agar terjalin komunikasi tiga arah.
“Males, lanjutin aja obrolan kalian.” Sita langsung beranjak dari duduknya ketika Trella menanyakan pendapatnya tentang trend fashion yang sedang hits di zaman sekarang.
Karena kamar Sita yang sudah menjadi basecamp mereka bertiga, Sita lebih leluasa untuk menjauh dari kedua sahabatnya menuju galeri mini yang terdapat di dalam kamarnya. Senyumnya turut mengembang sempurna saat melihat lukisan yang sempat dibuatnya tahun-tahun sebelumnya. Bahkan lukisan buatan Adya, masih tertata rapi di samping deretan lukisan miliknya.
Lengan Sita mengusap pelan pada salah satu lukisan yang Sita buat setahun sebelum kepergiannya ke Jepang. Tangannya bergetar saat jemari-jemari lentiknya menyusuri kanvas tersebut. “Abang pasti bangga kan, sama Tata, kalau lihat lukisan Tata yang satu ini?” gumamnya lirih. Tentu saja, Sita tak akan pernah mendapatkan balasan dari gumamannya semata. Sita segera menghentikan laju dari lelehan air matanya.
Dia tidak boleh menangis saat ini.
Sita hanya tidak ingin lagi menyusahkan banyak orang dengan kesedihan yang sebenarnya sudah tidak lagi berarti. Walaupun rasa sesak akibat kehilangan seseorang yang kita cintai itu masih membekas, tapi Sita berusaha untuk tegar.
“Abang pasti bangga sama kamu, Ta,” sahut seseorang di belakang Sita.
Sita langsung memasang ekspresi datarnya. Dia membalikkan tubuhnya menghadap kepada Widan yang berdiri menjulang di depannya. Sudah genap satu tahun berlalu dia tidak bisa melihat sosok di depannya secara nyata, rindu yang dia rasakan sepadan dengan banyaknya perubahan yang melekat pada Widan.
Tapi setidaknya hal yang Sita sukai dari banyaknya perubahan fisik dari Widan adalah pada matanya. Sorot matanya yang kelam, jernih serta memabukkan itu masih menjadi mata favorit Sita untuk menikmatinya berjam-jam lamanya. Bahkan Sita rela menukarkan waktu agar berhenti sejenak saja. Agar dia dapat menyelami lebih lama lagi banyak hal yang terpancar lewat sorot mata yang Widan tunjukan.
Jentikan pada dahinya membuat Sita mengedip-ngedipkan matanya. “Eh, iya?” tanyanya linglung.
“Apa yang membuat kamu menunjukkan wajah serius begitu hm?” tanya Widan sambil mengetuk pelan tempurung kepala Sita.
Sita langsung menepis tangan Widan. “Bukan urusan kamu!” Dengan sisa keberanian yang Sita miliki, tangannya secara asal mengambil peralatan melukisnya di rak ujung dekat pintu galeri mininya.
Sita kemudian duduk di kursi kecil tanpa sandaran dan menyiapkan kanvas putih bersih dihadapannya. Tangannya yang lain sibuk membagi tugas dengan mencampurkan banyak warna demi mendapatkan warna yang inginkan pada palet-palet.
Widan sendiri sudah mengamati Sita yang mulai melukis tanpa memperdulikan keberadaannya. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Widan terus memperhatikan Sita dengan seulas senyum yang terpatri pada wajahnya.
Kejadian tempo lalu yang sempat membuat mereka salah paham—padahal seharusnya tidak pernah terjadi—toh mereka bertiga tidak memiliki perasaan apapun yang mesti dijaga ataupun hubungan spesial melebihi sahabat. Setidaknya, dia tidak harus bertindak ceroboh dan merusak persahabatan mereka demi sebuah rasa yang belum tentu terbalaskan.
...•••...
Trella yang malam ini mengenakan pakaian yang lebih mirip selayaknya pakaian prom night itu duduk lebih kalem di sampingnya. Bahkan tantenya yang sering sibuk dengan berbagai pekerjaannya pun ikut andil dalam acara makan malam yang biasanya tidak dihadiri olehnya.
“Jadi Pa, Ma, ada berita penting apa yang akan kalian sampaikan, sampai-sampai kalian tega membuatku mengambil cuti dari pekerjaanku ini?” protes April, tantenya yang mewakili rasa penasarannya juga.
Adira, Ibu dari Trella tersenyum culas pada adik suaminya itu. “April, kamu jangan biasain terlalu workholic banget loh. Nanti susah dapet jodoh,” nasehat Adira yang Sita yakini akan sepenuhnya tantenya abaikan.
Meskipun kerap kali mendapatkan pertanyaan serupa setiap kali keluarga Adirajada dalam formasi lengkap, April sama sekali tidak pernah berhenti untuk tidak membungkam lawan bicara yang selalu mempertanyakan statusnya dipenghujung umur 20 tahunannya.
“Aku masih nyaman sama karier ku sekarang ini, Mbak. Dan perlu Mbak ingat juga, aku sudah dewasa dalam mengurusi urusanku sendiri. Terima kasih atas perhatian yang Mbak berikan,” balas April, sengit. Sita melihat Ibu Trella itu hendak menyela ucapan tantenya, tapi April lebih dulu mendahuluinya dengan pertanyaan yang membuatnya tercengang.
“Jadi apa ini ada hubungannya dengan penjodohan menjijikkan yang kalian semua rencanakan?”
Kakeknya, Adirajada yang sering dihormati oleh para karyawannya karena karisma yang dimiliki serta keluwesan dalam memimpin perusahaan selama turun temurun itu menggebrak meja cukup keras. “April, hentikan bicaramu itu!!!”
“Apa? Aku gak salah kan, Pa? Pasti ini semua akibat perjodohan yang kalian lakukan itu.” April berdecih tanpa ragu di depan Pratista yang seringkali menuntut keanggunan. Jika Sita yang berbuat demikian, sudah dapat dia pastikan hidupnya tidak akan aman oleh rentetan ceramah Pratista.
April kembali menatap kedua orangtuanya. Lebih mengarah pada wanita renta yang duduk di samping Adirajada. “Kali ini, Mama mau jodohin siapa lagi sih? Gak puas Mama sama Papa jodohin Kak Bima, terus Kak Akhal? Sekarang siapa lagi?” Napas April memburu. Untung saja kegiatan makan malam sudah selesai. “Atau jangan-jangan kalian mau jodohin keponakanku ini ya?”
Semuanya mendadak diam. Sita pun menjadi berdebar-debar menunggu ucapan yang akan dilontarkan oleh siapapun yang menjawab pertanyaan tantenya. Ternyata yang Sita khawatirkan akhirnya terungkap sudah. Ibunya Trella lah yang mengungkapkan kebenaran dari berita tersebut.
“Kamu gak usah panik gitu, Pril. Ini bukan tentang kamu,” jelas Adira.
April terlihat sinis memandang Adira yang kali ini mendominasi ruangan.
“Ini soal Trella,” ungkap Adira menambahkan.
Sita menahan napasnya, dia melirik Trella yang sudah memasang wajah muak.
“Ayo Sita, anter aku keluar,” ajak Trella yang hanya bisa Sita aminkan.