Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 26 : His



Usai kejadian siang kemarin, Sita memilih menginap di rumah Trella. Dia pikir, itu akan lebih baik ketimbang dirinya berada satu atap dengan orang-orang yang membuatnya kecewa. Sekalipun masih tersisa perasaan tak mengenakan pada Trella, tapi itu lebih baik. Setidaknya, begitulah kira-kira pikiran hatinya.


Trella beringsut mendekat padanya yang sedang bergelung dengan ranjang empuknya. "Hayo, ngelamunin apaan sih!"


Sita berpura-pura tidur, tapi nyatanya Trella cukup lihai dalam memahami gerak-geriknya. Dia mengguncang tubuh Sita hingga membuat empunya mendengkus kesal dan menyibak selimutnya. "Apa!" tanyanya garang.


"Muka lo kucel, sana cuci muka dulu," titah Trella kemudian.


Sita mencebikkan bibirnya. Perkataan Trella ada benarnya juga. Dia merasa kulit wajahnya sangat lengket. Apalagi setelah menangis hampir setengah hari. Setelah keluar dari kamar mandi, Sita menghampiri Trella yang sedang mengemil makanan di atas ranjangnya.


"Kebiasaan!"


Trella hanya menyengir saat ditegur seperti itu oleh Sita. "Maklum, gue udah PW buat pindah," katanya.


Mau tidak mau, Sita pun tetap duduk disamping Trella sambil memberi batasan wilayah. Trella melirik Sita dengan alis mengerut. "Tumben amat, napa? Masi sensi? Bukannya lo udah ada doi baru ya?" goda Trella semakin menjadi-jadi.


"Mana ada doi baru, ngaco ah!"


"Bohong lo! Gak asik, ah."


"Ah, terserah kamu mau percaya atau gak juga," balas Sita sekenanya.


Dalam hening, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Trella dengan rasa bersalah yang coba dia tutupi dan Sita dengan rasa penasarannya akan kelanjutan dari penjelasan ibunya. Namun, tiba-tiba pintu kamar Trella terdorong keras hingga menimbulkan suara bedegum yang cukup keras.


Baik Trella maupun Sita sama-sama terlonjak kaget. Kening mereka mengerut ketika melihat Adira memasuki kamar dengan tergesa-gesa.


"Trella, ikut Mama!"


Tanpa tendeng aling-aling, Adira terlihat seperti menyeret Trella. Bahkan, makanan yang menjadi camilan Trella, berceceran di atas kasur dan lantai.


Pasti akan banyak semut nantinya, batin Sita berbicara.


Di ambang pintu, Trella menepis tangan Adira. Tak cukup kasar, namun cukup kuat untuk menghentikan langkah Adira yang terburu-buru. "Ada apa, Ma? Kenapa pake nyeret aku segala, sih!"


Adira berkacak pinggang. Sekilas, Sita melihat mama Trella itu membolakan matanya. Lalu terdengar hembusan napas yang berat. "Kamu beneran gak tahu apa yang terjadi?"


Tentu saja Trella keheranan. Dia hanya menggelengkan kepala. Itu membuat Adira tersenyum sinis sambil menoleh pada Sita. Karena perbedaan pendapat tempo lalu dengan Adira, Sita cukup paham dengan maksud tatapan Adira. Dia meneguk salivanya pelan. "Kenapa ya, Tan?"


Sita berjalan mendekat ke arah mereka, namun yang tidak dia sangka-sangka adalah suara pukulan dari telapak tangan yang memenuhi kamar Trella yang awalnya hening. Mata Trella terbelalak sambil menutup mulutnya sendiri. Sita sendiri menutupi bagian pipi yang terkena tamparan Adira.


"Cukup ya kamu mainin keluarga saya dan anak saya!" ancam Adira dengan menggebu-gebu. Napasnya sudah terlihat kembang kempis.


Trella sendiri menatap ibunya dengan raut heran sekaligus kecewa. "Mama keterlaluan banget sih," katanya dengan parau. Air matanya juga sudah menumpuk pada kedua kelopak mata. Trella memandang Adira dengan tidak percaya. Tawa sinis yang terdengar darinya, membuat Sita yakin bahwa Trella benar-benar sudah kecewa dengan ibunya sendiri. "Cukup, Ma. Sampai kapan lagi Mama bersikap kekanak-kanakan gini ke Sita?"


Merasa tuduhan Trella tidak berdasar, Adira memandang rendah pada Sita yang diam termangu. Dia menunjuk Sita dengan jemarinya. "Dia Trella, wanita yang tahu diri! Dia yang udah bikin ini semua hancur!" Pandangan Adira terlihat bengis kepasa Sita. Tak menutup kemungkinan jika tantenya itu memang memiliki dendam yang teramat padanya.


Tapi, bukannya aku gak ngelakuin apapun kan? Kenapa pula harus disalahkan!


Saat Sita hendak membela diri, Adira mengisyaratkan padanya untuk tutup dulu. "Diam kamu! Gak usah bicara sepatah kata pun lagi!" peringatnya. Lalu, kembali menyeret Trella untuk segera keluar dari kamarnya.


"Mama, apaan sih!"


Bahkan teriakan dan penolakan dari Trella pun sama sekali tidak digubris oleh Adira. Langkahnya besar menuju ruang keluarga yang ternyata sudah ramai oleh keluarga Adirajada dan Alger.


Sita melihat dengan seksama raut gusar pada wajah keluarga besarnya dan keluarga Widan. Mereka seperti diliputi kegelisahan yang entah bagaimana caranya membuat debaran jantung Sita berdetak tak biasa. Mengkhawatirkan sesuatu yang Sita sendiri tidak tahu maksudnya.


"Ke-kenapa ini?" Pertanyaannya mengundang pasangan mata menatap ke arahnya. Terutama sang ibu yang matanya sudah sembab. Jarang sekali Pratista menunjukkan kelemahannya dihadapan banyak orang.


Adira baru saja melepaskan Trella dan kini amukannya tertuju pada Sita. "Lihat kalian semua! Bahkan Sita saja pura-pura tidak tahu kemana dia pergi! Kenapa kalian bungkam saja!" Adira semakin tak terkendali. Pamannya mencoba membuat Adira kembali tenang, namun hal itu percuma saja. Adira terus berontak dan memaki Sita secara terus menerus. Bahkan tidak ada yang membelanya sama sekali. Seolah-olah semua kesalahan dilimpahkan padanya.


Pratista datang mendekapnya. Masih dengan sisa tangisnya, ibunya berujar lirih, "Sayang, tolong katakan pada kita semua kemana Widan. Jangan sembunyiin ini semua, ya?"


"Widan? Kenapa Mama ini ke aku?" Sita semakin dibuat bingung. Terlebih lagi pasangan kedua orang tua Widan sama-sama diam membisu. Seolah apa yang ditundingkan terhadapnya adalah kebenaran. Sita menggeleng pelan. "Aku gak ngerti, Ma."


"Pembohong kamu! Sudah ketahuan menyembunyikan Widan masih mengelak? Dasar jalang kecil kamu!" amuk Adira semakin menjadi-jadi.


"Hentikan omonganmu, Dira!" balas Pratista.


"Mbak, jangan lindungi dia lagi! Dia hanya ingin membunuh kebahagiaan sepupunya sendiri! Dasar pengkhianat kecil!"


Hinaan yang Adira lontarkan, menyesakkan hatinya. Sita yang tak tahu apa-apa, mendadak disalahkan oleh hal yang tidak dia ketahui. Bahkan semua yang hadir di rumah Trella, diam membisu.


Mama Widan, dengan wajah yang sama berantakan bahkan tidak menutupi kantong matanya yang semakin membesar itu, memberikan secarik kertas bertuliskan namanya pada Sita.


Teruntuk Sita.


"Surat ini, dari Widan. Sebelum dia pergi dan menghilang."


Deg!


Demi segala kata yang pernah Sita dengar, entah apa makna kata "pergi dan menghilang" yang dimaksud oleh mama Widan, tapi nyatanya Sita tidak mempunyai keseimbangan lagi untuk menahan bobot tubuhnya usai membaca surat dari Widan.