
Sita memilih mengurung dirinya di kamar selama beberapa hari terakhir. Sindrom patah hati yang mengganggunya dua hari belakangan ini memperparah setiap harinya. Sudut kecil hatinya sendiri pun menertawakan kelakukan kekanak-kanakannya ini. Bahkan untuk sekedar beranjak dari tempat tidur pun menjadi hal yang paling berat Sita lakukan.
Kondisinya sungguh memburuk. Apalagi setelah Widan menjelaskan padanya secara gamblang perihal perjodohan laknat yang dilakukan oleh keluarga Adirajada dengan keluarga Agler yang memang sudah direncanakan semasa dulu. Ketika kakek dari pihak Sita dan Widan menjalin persahabatan. Ditambah dengan taktik bisnis yang akan semakin menguntungkan bagi kedua keluarga tersebut.
“Ta? Sita, buka pintunya! Mama mau bicara.” Seruan yang entah sekian kalinya dari Pratista sama sekali tidak digubris oleh Sita.
Pikirannya kosong dan yang Sita rasakan hanyalah kesedihan dan kehampaan. Sengaja pula gorden berwarna biru navy itu tidak pernah Sita biarkan terbuka bersama lampu yang tidak Sita nyalakan. Semuanya senyap, berantakan dan hampa.
Mengetahui kebenaran yang sudah kita elak, terasa sangat menyiksa. Hatinya pilu dengan bibir yang kelu untuk mengeluhkan semuanya. Sita hanya bisa diam membisu dan mengurung diri dalam sunyi.
Sepertinya usaha Pratista berakhir sia-sia lagi. Sita bahkan tidak pernah mendengar ayahnya membujuknya. Bukan dirinya ingin dibujuk oleh Bima, melainkan Sita dapat menyimpulkan bahwa ayahnya memang tidak pernah peduli padanya. Kecuali perihal bisnis keluarga yang mesti Sita tanggung. Cih!
Sambil menelungkupkan wajahnya, Sita mendengar suara ketukan lagi. Kali ini bukan berasal dari pintu, melainkan dari jendela yang dibiarkan tertutup rapat. Kening Sita berkedut. Dengan langkah gontai dia berjalan ke arah jendela. Rasa penasaran membesar, bersamaan dengan pikirannya yang menerka-nerka siapa pelakunya.
Gak mungkin ada penjahat yang sopan kan?
Sita menggelengkan kepalanya. Dia harus menyingkirkan pikiran anehnya. Patah hati tidak boleh sampai menumpulkan akal sehatnya. Meskipun demikian, Sita hampir saja bersikap bodoh.
Tanpa memikirkan persentase penampilannya yang berantakan, Sita sendiri tidak mau melihat wajah mengerikannya lewat cermin. Dia bergidik membayangkannya saja. Lewat sedikit celah, Sita mengintip. Tapi dia tidak bisa melihat apa-apa.
Lalu ketika ketukan itu kembali terdengar, Sita terlonjak kaget. Mata pelaku yang mengetuk jendelanya menatap balik ke arahnya. Sita langsung menutup gordennya dan segera loncat ke tempat tidur sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang.
“Patah hati gak akan bikin aku halusinasi, kan? Sekalipun mungkin, apa ini gak terlalu nyata untuk sekedar ilusi?” Kepala Sita langsung menggeleng. Dia percaya bahwa itu nyata.
Bahkan suara ketukan itu terdengar lagi. Kali ini dengan suara yang dia yakini bahwa Sita tidak halusinasi di siang bolong sekarang ini.
“Sita, gue tahu lo ada di dalem! Buka, Ta! Gue mau jelasin sesuatu sama lo.” Teriakannya bisa saja terdengar oleh orang-orang rumah. Tapi sepertinya Widan tidak peduli akan hal itu. Laki-laki bernekat untuk menemui Sita demi menjelaskan sesuatu yang seharusnya dari dulu saja dia ceritakan. Tidak peduli dengan label persahatan yang telah lama mereka jalin.
Hati Sita merasa meletup-letup. Bahkan dia tidak sadar bahwa dirinya kembali menangis. Banyak rasa yang kini bercampur aduk dengannya. Namun rasa rindu lah yang paling dominan Sita rasakan. “Widan ... kenapa, kamu jahat sih!” lirih Sita sambil terus mendengarkan suara Widan yang terhalang oleh jendela.
“Sita, plis ... dengerin gue baik-baik. Ayo, kita bicarain ini dengan kepala dingin, oke?” tanya Widan yang masih berusaha.
Dibalik kaca jendela yang memisahkan dua insan tersebut, Sita tetap menggelengkan kepalanya. “Gak perlu ada yang kamu jelasin, Dan,” balasnya dengan suara serak.
Widan semakin mendekatkan diri ke arah jendela dan menggedor-gedornya dengan tidak sabaran. “Ta, buka jendelanya! Ini gue, Widan. Ta, jangan bersikap kaya gini!”
Sita berusaha membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak sampai terdengar oleh laki-laki itu. “Gak mau!!!” teriaknya.
Widan tidak menyerah. Dia memelankan suaranya seraya menghela napas. “Oke, kalau lo gak mau keluar. Tapi, dengerin gue baik-baik ya!”
Jangan pergi, aku mohon...
“Oke, aku gak akan pergi. Kamu jangan takut, Tata.” Suara Widan melembut. Bahkan panggilannya sudah menggunakan aku-kamu tanda bahwa Widan memang mengalah untuknya.
Terima kasih banyak, Widan.
“Ta, sebelumnya aku mau jujur sama kamu. Mungkin sedikit ini terlambat, tapi bagiku, lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali. Iya, kan, Ta?”
Sita mulai was-was dengan arah pembicaraan ini. Terlebih lagi suara Widan sangat lemas dan terdengar putus asa. Dia bukan seperti Widan yang Sita kenal.
“Hm,” sahut Sita.
Mendengarkan suara Sita, walaupun sebatas dehaman semata, tidak sama sekali menyurutkan niat Widan. Sebelah tangannya dia tempelkan pada jendela, berharap dia dapat menyampaikan ini sambil menatap Sita dan menggenggam tangannya. Sungguh, dia juga sama kacaunya dengan Sita. Namun, dia lebih ditekankan pada kewajiban yang dia punya.
“Ta ... masih bisa dengerin aku, kan?”
“Iya, ih! Cepet, katanya mau jelasin!”
Widan terkekeh pelan. Meskipun sudah satu tahun perpisahan mereka, tapi sikap Sita tidak pernah berubah. Gadis itu tetap akan penasaran jika dia tidak mendapatkan jawabannya.
“Kamu masih sama kaya remaja labil, ya, Ta?”
Sita mendengkus, masih sempat-sempatnya Widan mengajaknya bercanda di waktu seperti ini. “Widan ... Ih!”
“Oke-oke, serius deh. Aku akan bilang ini sekali dan aku harap, kamu bener-bener dengerin baik-baik.”
Sita mengangguk pelan, walaupun dia tahu bahwa Widan tidak bisa melihatnya.
“Aku tahu, aku memang pengecut. Kamu boleh bilang gitu, jika sudah mendengarkan penjelasan ini. Tapi, aku mohon sama kamu, tolong jangan hindari aku setelah ini.”
Widan melirik arloji pada tangannya. Waktunya sangat tersisa sedikit. “Sita, aku gak tahu harus mulai dari mana buat bilang sama kamu. Semuanya serba mendadak sampai aku gak mau kehilangan kamu atas kejadian itu. Kamu tahu kan, aku—”
“Widan! Apa yang kamu lakukan di sana! Cepat kemari!”
Penjelasan Widan terhenti karena ada suara teriakan laki-laki yang Sita yakini sebagai ayah Widan, Zeron Agler.