Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 7 : Choose



Sita mengunci dirinya di dalam kamar selama beberapa hari ini. Ragam cara telah keluarganya lakukan untuk membujuk Sita agar keluar dari kamarnya, bahkan kerap kali Pratista mengambil cuti, demi sang putri kesayangannya. Namun, sayangnya Sita terlalu mewarisi gen Bima, keras kepala.


Ini sudah genap ketiga kalinya dalam satu hari ini, Pratista membujuk Sita agar keluar dari kamarnya. Minimal, dia ingin putrinya itu menjaga kesehatannya.


"Ta ... keluar, yuk? Mama gak mau sampai kamu sakit lagi," pinta Pratista dengan lirih. Berharap Sita mau membukakan pintunya. "Ini masakan khusus Mama buat, untuk kamu loh. Sayang kalau gak makan."


Namun yang Sita lakukan hanya semakin mengeratkan pelukannya pada kedua lututnya. Membenamkan kepalanya pada lipatan lutut. Sudah genap tiga hari ini, Sita mengurung diri dan mogok makan. Dia masih terlampau sakit hati oleh perlakuan ayahnya tempo lalu.


Ketukan yang awalnya pelan, berubah menjadi gedoran tidak sabaran. Sita menarik napasnya dan duduk tegak. Dia sangat kenal siapa pelaku yang bisa saja membuat pintu kamarnya ini jebol hingga tidak berfungsi lagi nantinya.


Memang setelah kejadian itu, Bima Adirajada mendapatkan sebuah projek yang harus diselesaikan di luar kota. Maka dalam jangka waktu itu pula, Pratista mencoba membujuknya. Setidaknya sebelum Bima yang membujuk Sita dengan caranya sendiri.


"SITAAA! KELUAR!!"


Jika stok air mata Sita dapat dihentikan saat ini juga, sudah pasti akan Sita lakukan. Tapi ternyata, hatinya sangat paradoksal dengan pemikiran yang menyuruhnya untuk tegas mempertahankan dirinya agar tidak terlihat lemah di depan ayahnya yang otoriter itu.


Sita berusaha bangkit dari tempat tidur, sambil mengusap air matanya. Dia meraup udara sebanyak yang Sita bisa, lalu mengaturnya dengan menghembusnya beberapa kali. Setelah tenang, Sita berjalan mendekati pintu dan memantapkan hati.


Berurusan dengan seorang autokrat membuat Sita harus memilih dua hal : menurutinya atau mempertahankan keinginannya.


Saat pintu kamarnya terbuka, Sita dapat melihat perawakan tinggi yang ada di depannya. Juga wajah kusut serta mata sembab dari ibunya. Hati Sita tidak dapat dibohongi, ketika perasaan bersalah pada Pratista menguar dalam dada.


"Sitaaa!" seru Pratista.


Ibunya itu langsung mendekap tubuh Sita yang tampak tirus. Pratista mengusap punggung Sita acap kali, memberikan dukungan moril padanya.


Napas Sita tercekat saat manik matanya berpapasan dengan manik hitam kelam milik laki-laki yang berdiri di belakang Pratista-memandangnya dengan raut wajah khawatir serta amarah-yang membuat tekad awal yang sudah Sita kumpulkan, mendadak menciut seketika.


Sita menelan salivanya susah payah ketika Pratista melepaskan pelukannya. Beliau mengecup wajah Sita beberapa kali dan membelai rambutnya. Tatapannya yang lembut, membuat Sita tidak rela saat Pratista malah memberikan kesempatan agar Sita dapat berbicara lebih leluasa dengan ayahnya.


Sita menahan lengan Pratista yang hampir berjarak dengannya. "Ma..." rengeknya.


Pratista hanya mengulas senyum tipis. Dia mengelus rambut Sita dengan sayang. "Gak apa-apa, Sayang. Papa cuma mau bicara sebentar sama kamu," ujar Pratista meyakinkan. Dia meraih kedua tangan Sita dan mendekapnya. "Jangan khawatir, Mama selalu mendukungmu," lanjutnya kemudian.


Pratista berjalan mundur secara teratur, membuat Bima yang awalnya berada di balik punggungnya dapat lawas memandangi putrinya yang tampak kusut itu. Hatinya teriris karena rasa bersalah yang bercokol dalam pikirannya.


Terbesit dalam benaknya, untuk mengatur ulang waktu yang telah lalu dan tidak bertindak sembrono kepada putri satu-satunya ini.


"Kenapa kamu seperti ini, Sita?" tanya sang adikara hidup Sita.


Sita yang masih menuruti pada norma kesopanan, hanya mematut senyum terpaksa. Walaupun tidak melihat langsung mata Bima, karena rasa takut itu masih ada dalam hatinya.


Maka dengan segenap perasaan, Bima menundukkan kepalanya agar dapat melihat jelas wajah putrinya yang terlihat murung.


"Maafkan Papa ya?"


Bagaikan kalimat mujarab yang membuat Sita akhirnya mendongak. Dia mengerjapkan matanya perlahan. "Papa gak usah minta maaf." Suaranya serak saat mengucapkan kalimat tersebut.


Rasanya lebih baik jika Bima memarahinya atas sikapnya yang labil, pembangkang dan tidak penurut. Bukan meminta maaf seperti ini.


"Gak, Sayang. Ini salah Papa. Makanya sekarang Papa minta maaf ya? Sita mau, kan, maafin Papa?"


Karena tidak kuasa lagi membendung air matanya, Sita terisak pelan. Dia memeluk ayahnya dengan erat. Bima pun membalas memeluk Sita. Mencium aroma Sita layaknya seorang bayi. Matanya berlinang air mata, saat diingatnya bahwa dulu Sita tidak setinggi dan sebesar sekarang.


Putri kecilnya telah dewasa rupanya.


"Maafin Papa ya?" ulang Bima lagi.


Sita menggelengkan kepalanya. Dia tidak sanggup lagi, jika ayahnya terus mengucapkan permintaan maaf yang sebenarnya memang Sita tunggu-tunggu.


Bima melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Sita yang terus membasahi pipinya.


"Kalau gitu, jangan nangis ya?"


Sita mengangguk sambil tersenyum tipis pada Bima yang ikut membalas senyumnya.


Pratista yang dari tadi hanya menyaksikan interaksi ayah-anak itu, menghembuskan napas lega. Setidaknya, mereka sudah tidak bertengkar lagi.


"Jangan nangis-nangis terus. Itu masakan Mama gak ada yang mau makan apa?" tanyanya, memecahkan interaksi Sita dan Bima.


Mereka menoleh pada wanita yang terlihat sedang berpura-pura merajuk.


"Iya, Ma. Sita juga udah kangen masakan Mama," tutur Sita membuat Pratista tersenyum puas.


"Waktunya makan!"


...•••...


Suara dentingan garpu dan sendok yang beradu di atas meja makan membuat keluarga Adirajada menikmati masakan Padang yang dibuat oleh Pratista dengan khidmat. Bahkan, Bima sudah menambah porsi makan untuk kedua kalinya.


"Doyan apa lapar, Mas?" goda Pratista yang sibuk menyiapkan masakannya untuk sang suami.


"Lapar," sahut Bima dengan cepat.


Dia sungguh tidak sabaran untuk menyantap makanannya yang kedua kalinya.


Setelah selesai makan, Sita dan keluarga berkumpul di ruang tamu. Televisi sedang menayangkan berita terkini, hanya membuat Sita mengantuk saja. Terlebih lagi, ini sudah jam malam untuknya.


Sita menguap lagi. Dia melirik pada kedua orang tuanya yang khusyuk, menyimak berita. "Ma, Pa, Sita ke kamar dulu ya?" pamitnya.


Bima menoleh pada Sita. "Tunggu dulu, ada yang perlu Papa tanyakan," larang Bima.


Pratista menegur suaminya, karena di rasa waktu untuk membahas perihal itu dapat ditunda lebih dulu.


"Sudah, Mas. Udah malam, biarin Sita istirahat dulu," ujar Pratista. Dia tidak ingin jika putrinya kembali mengurung dan mengisolasi diri di kamar.


Bima menggeleng, dia tidak ingin putrinya mengulangi kesalahan yang sama. Seperti yang dilakukan anak sulungnya dulu.


Sita menghampiri kedua orang tuanya dan menatap Bima dengan penasaran. "Gak apa, Ma. Papa boleh tanyakan saja pada Sita."


Bima mengangguk kepalanya, dia melirik pada Pratista yang sudah memberikan isyarat bahwa jangan dulu mengatakannya. Tapi Bima, tetaplah seorang laki-laki yang dibesarkan oleh keluarga Adirajada, sikap tidak mudah goyah pendiriannya membuat Bima sukar mengganti keputusan yang dirasanya sudah yakin untuk dilakukan.


Sita menunggu pertanyaan dari ayahnya dengan sabar. Kantuknya sudah menghilang entah kemana. Terlebih lagi, saat telinga dapat mendengarkan dengan jelas, perkataan dari Bima yang membuatnya membelalak seketika.


"Kamu masih mau tetap melukis?"


Maka, tanpa perlu pengulangan lagi, Sita mengangguk antusias. Matanya berbinar-binar. "Iya, Pa! Boleh, kan?"


Sita menunggu jawabannya dengan harap-harap cemas. Namun, apa yang menjadi jawaban Bima kembali membuatnya tertegun sesaat.


"Boleh..."


Hampir saja Sita akan berteriak heboh dan mengucapkan rasa syukur pada kedua orang tuanya, tapi dia mengurungkan niatnya saat kalimat yang selanjutnya diucapkan oleh ayahnya kembali mengguncang dunia Sita.


"Kamu tinggal memilih. Mimpi kamu, atau Widan."