Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 6 : Illusion



Minggu lalu, Widan sengaja mengantarkannya ke tempat perlombaan seni lukis yang diadakan di salah satu sanggar lukis di Jakarta. Tentu saja, Sita membawa peralatan yang sempat dia titipkan di rumah Widan. Selebihnya, dia membeli beberapa peralatan di sela-sela perjalanannya.


Sita langsung antusias, meskipun melihat saingannya yang rata-rata sudah dewasa—bahkan Sita dapat melihat ada anak kecil yang lihai dalam mempraktikkan lukisannya pada kanvas dengan teknik pointilis—sedangkan Sita memilih menggunakan aliran naturalis dalam perlombaannya.


“Orang tua lo udah tahu, Ta?” tanya Widan di waktu senggang mereka saat istirahat pertama di sekolah.


Sita yang masih mengunyah makanannya, mengernyit bingung. “Tahu, apaan?”


“Soal yang ikut lomba.”


Sita hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mie bakso yang dipesannya sudah tandas, Sita mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Lalu menatap Widan yang menanti jawabannya.


“Lo gak usah khawatir,” sahutnya dengan disertai senyuman.


Widan menghalau rasa khawatirnya, berusaha percaya dengan penuturan Sita, walaupun dia yakin ada yang tidak beres dengan perkataan Sita barusan.


“Lo mau di sini atau ikut gue?” tanya Widan, mengalihkan pembicaraan mereka.


“Emang lo mau ke mana?”


“Toilet,” sahut Widan asal.


Sita membelalak kaget, dia segera menggeleng. “Gak mau lah! Kurang kerjaan banget gue ikut lo!” balas Sita tak kalah sengit.


Widan terkekeh pelan. “Ya ke kelas lah!” Dia menyentuh kening Sita dan mengetuk-ngetuknya tiga kali. “Jangan kebanyakan ngelamun makanya!” tegur Widan.


Sita merengut sebal. Dia segera berdiri dari duduknya dan mencak-mencak kesal. “Tahu ah!” Kemudian Sita memilih meninggalkan Widan di kantin yang sedang menertawakan sikap kekanak-kanakannya.


“Bocah!”


...•••...


Trella menghampiri Sita yang sudah menunggunya di teras kelas. Banyak murid dari kelasnya yang keluar secara tertib, lain halnya yang terjadi dengan kelas pada jurusan IPS. Mereka akan saling sikut ataupun berdesak-desakan saat keluar dari kelas.


Setelah menyalimi Pak Sule, guru Biologi-nya, Trella tersenyum cerah mendapati Sita yang melambaikan tangan padanya.


“Ella!” seru Sita.


Trella dengan semangat memeluk Sita yang sepantaran dengannya. “Lama banget gak ketemu loh! Kemana aja sih?" tanya Trella serius.


Sita memukul pelan bahu Trella. “Kebiasaan banget! Baru aja pagi tadi berangkat sekolah bareng, lagaknya kaya gak ketemu setahun aja,” cibir Sita.


Trella hanya cengar-cengir tanpa dosa, dia merangkul bahu Sita dan berjalan beriringan menuju parkiran sekolah. “Oya, gimana sama doi? Ada kemajuan pesat gak?” goda Trella yang berhasil membuat pipi Sita bersemu merah.


Sita memalingkan wajahnya sebentar dari Trella, lalu berdeham singkat. “Apaan sih, lo! Ngaco banget!” kilahnya, semakin kentara saja.


“Gak usah pura-pura gak paham gitu, deh. Kita sahabatan udah dari orok loh,” jelas Trella yang semakin gencar merecokinya.


“Ella, udah ih! Panas banget, kan, mataharinya? Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti kesambet beneran!” cerocos Sita.


Trella tergelak, dia melepaskan rangkulannya dan memegangi perutnya yang terasa tergelitik. “Sita, lo masih waras, kan?”


Sontak saja Sita membulatkan matanya, enak saja mengejek kewarasannya!


“Ya, iya lah! Aneh lo, kalo ngomong.”


Sita mencebikkan bibirnya, dia mengibas-ngibaskan tangannya pada wajah. Hari ini Sita lupa membawa kipas mini yang sering dibawanya. Itu pasti yang menjadi penyebab dirinya merasa kepanasan saat ini.


“Ish, omongan tuh dijaga kali, La!” tegur Sita, menceramahi.


Saat Trella hendak lanjut berbicara, suara bariton milik seseorang yang sudah dia hapal, membuatnya mengulum senyum.


“TATAA!”


Sita berdecak kesal karena ada yang memanggil nama akronimnya. Tak ayal, Sita pun tahu pemilik suara yang memanggil namanya seperti itu. Meski tanpa berbalik badan, orang itu sudah berdiri di samping Sita—berada di tengah-tengah Sita dan Trella—sambil menggantikan posisi Trella yang awalnya merangkul bahu Sita.


“Apa sih, manggil-manggil?!” sungut Sita karena sebal dipanggil seperti itu.


Orang itu malah tertawa menikmati amukan Sita padanya. Widan menoleh sekilas pada Trella. “La, gue pinjem sahabat lo ini ya?”


Trella pura-pura memasang lakon sedihnya. “Duh, kasian banget sih jadi gue, awalnya mau hangout sih sama Sita.” Trella melihat Sita yang memasang ekspresi cengo padanya. “Tapi karena lo yang minta, gak apa-apa, santai,” sambungnya kemudian.


“Heh! Kita gak ada janji hangout loh!” tegas Sita, mengkonfirmasi.


“Oya? Bukannya ta—”


Perkataan Trella segera di sanggah oleh Widan. Dia tidak ingin membuat keributan. “Udah dulu ya, La. Ini gue ada urusan urgent sama Sita.”


Sita yang merasa namanya dibawa-bawa, apalagi setelah dia tidak mengerti maksud urgent yang Widan tunjukkan, hanya bisa tersenyum tipis. Dia menghela napas dan mengungkapkan banyak kata maaf pada Trella.


“Udah lah, Sita. Lo calm aja. Kita hangout next time aja ya?” tawar Trella, sambil mematut senyum selebar mungkin.


Sita mengangguk singkat saat Trella berpamitan karena ada sopir keluarga yang menjemputnya. Kini, tersisa Sita dan Widan yang menggiringnya ke parkiran.


“Masuk, gih!” titah Widan yang dibalas oleh delikan sinis dari Sita.


“Apaan sih, gabut banget sampai bohongin orang segala,” cibir Sita akhirnya.


Widan mengusap puncak rambut Sita dan membuat wanita itu menepis tangan Widan yang mencoba merusak tatanan rambutnya.


“Gak perlu usap-usap! Fokus ke jalan aja!”


Widan terkekeh kecil dan kembali fokus pada jalanan.


...•••...


Bima menatap murka pada Sita yang kini sudah sesenggukan dalam pelukan Pratista. Ibunya itu kebetulan hadir saat persidangan dadakan keluarga Adirajada ini.


“KAMU TUH, SUDAH PAPA BILANG JANGAN IKUTAN LOMBA ITU LAGI!!” amuk Bima sambil membantingkan beberapa cat lukis Sita.


Pratista semakin mengeratkan pelukannya pada Sita yang semakin menangis tersedu-sedu. “Sttthh ... Gak apa-apa, udah.” Ibunya terus memberikan advis pada Sita, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Sita menggeleng pelan, dengan lirih dan ketakutan yang tersirat pada wajahnya. Sita menengadah, melihat ayahnya yang memandangnya tak sudi. “Emang ... salah, gitu kalau Sita bisa memenangkan lomba lukis itu?” tanyanya mengiba.


Bima mengusap wajahnya kasar, dia membuang muka ke samping. Sebelum akhirnya terdengar suara helaan napas gusar darinya. Matanya menyorot lembut pada Sita, berbanding terbalik dengan kalimat yang terucap dari bibirnya.


“Kamu mau berakhir seperti Abangmu itu?”


Kalimat menohok itu cukup membuat Sita menundukkan kepalanya dan menggeleng lemah. Sita paling tidak suka jika ada yang kembali membahas Adya. Itu semuanya hanya menimbulkan rasa sesak pada hatinya.


“Bagus kalau kamu diam.” Bima langsung mengoyak kertas yang berisikan piagam penghargaan kejuaraan atas prestasinya dari bidang seni lukis yang diberikan oleh Widan tempo lalu.


Napas Sita seolah direnggut, bersamaan dengan puing-puing kertas yang sudah berserakan di atas lantai. Pandangannya lurus menatap ayahnya yang tanpa belas kasihan meninggalkan Sita yang masih terguguk dalam tangis.