
Hideki benar-benar menepati janjinya untuk hanya menemani laki-laki itu. Sita bahkan bisa melupakan kejadian lampau yang menimpanya walaupun saat perjalanan pulang, dia termenung lama di mobil. Hal tersebut membuat Hideki penasaran.
Saat mobil berada di perempatan jalan dan lampu traffic light menunjukkan warna merah, Hideki menyerukan rasa penasarannya itu. “Apa malam ini tampak membosankan, hingga kamu melamun seperti itu?”
Sita segera mengedipkan matanya. Dia menggeleng pelan dan menatap pada Hideki. “Gak kok, justru sangat menyenangkan! Kamu berhasil membuatku terhindar dari situasi yang pelik,” ungkapnya jujur.
Alis Hideki menukik tajam, tanpa mengalihkan perhatian dari jalan raya, dia bertanya lagi, “Masalah pelik di keluarga?” tebaknya. Karena Hideki pun punya problem yang demikian.
Tanpa berniat menutupi, Sita mengangguk. “Iya ... gitu, deh. Mereka bikin semuanya jadi ribet dan susah.” Sita menghela napasnya, segelintir perasaan sesak itu kembali meniupkan rasa perih dalam hatinya.
Spontan saja, tangan Hideki mengusap lembut punggung tangan Sita. Awalnya Sita tidak mengira reaksi dari Hideki, matanya sempat melotot. Namun perkataan Hideki selanjutnya, kembali membuat Sita merasa rileks. Walaupun tautan tangan mereka tidak kunjung Hideki lepaskan.
“Setidaknya kamu hebat karena udah melalui itu semua. Meskipun berat, kamu telah berusaha sampai sejauh ini,” ujar Hideki.
Saat mereka sudah sampai di komplek perumahan keluarga Adirajada, Hideki mengacak-acak karena gemas. “Gak usah cemas, saya antar kamu ke depan.”
Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Sita mengedikkan bahunya. Terserah saja lah. Dia berjalan mendahului Hideki dan terlihat kedua orang tuanya menunggunya di teras rumah.
“Tumben,” gumam Sita.
Melihat wajah geram yang ditunjukkan oleh Bima, terbesit dalam pikiran Sita bahwa malam ini, akan menjadi malam yang panjang untuknya. Pratista bahkan melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Sita dengan culas.
Saat Sita hendak berkata-kata, otaknya berpikir keras supaya dia bisa menyusun ribuan opini yang mengalahkan argumen orang tuanya yang selalu ingin menang sendiri. Hideki tiba-tiba menyalimi Bima dan Pratista tanpa menghiraukan wajah tidak bersahabat yang mereka tunjukkan.
Hideki juga sepertinya tidak menyadari kekagetan yang dialami oleh ketiga orang di sana. Dia malah tersenyum ramah pada orang tua Sita. “Malam, Om, Tante. Maaf tadi saya bawa Sita tanpa izin, tapi kami hanya berkeliling Jakarta dan mampir sebentar di lapangan dekat perumahan saya,” jelas Hideki.
Riak wajah Bima yang awalnya mengeras, terlihat lebih melunak. Bahkan Pratista sendiri mengalihkan atensi sepenuhnya pada pria di sampingnya. Sita juga terkejut akan reaksi orang tuanya. Dia menatap sekilas pada Hideki, memang yang dikatakannya itu benar. Tidak melebih-lebihkan. Tapi ... melihat perubahan drastis dari orang tuanya, membuat Sita penasaran.
Terlebih lagi, saat Bima menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam rumah, sedangkan beliau akan ada urusan sebentar dengan Hideki, begitu katanya. Sita kembali melirik ibunya yang sepertinya menaruh minat pada Hideki. Apalagi Pratista terus melirik ke arahnya dan ke arah Hideki yang tengah berbicara dengan ayahnya secara bergantian.
“Mama sama Papa kenapa, sih? Sikap kalian, tidak seperti biasanya,” tanya Sita sebelum benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Dia mencuri-curi dengar percakapan Bima dan Hideki, namun nihil. Jarak di antara mereka terpaut jauh dan Sita sangat menyayangkan itu.
Pratista lalu menilik dirinya. “Pilihan bagus, Ta,” ujarnya. Lalu mengusap rambut Sita dan melenggang pergi dengan meninggalkan sebuah tanda tanya besar di kepala Sita akibat senyum yang Pratista berikan padanya.
“Mama, kenapa sih!” gerutunya. Sita mengikuti Pratista yang sudah ke dalam rumah.
...•••...
Mungkin sisa-sisa waktu yang Sita habiskan dengan Hideki tempo lalu, masih membekas dalam ingatan. Hingga pada pagi harinya, Sita terbangun dengan mood ceria. Sinar matahari yang menghalau pandangannya pun, dianggap sebagai penyemangatnya saat berjemur sebentar di halaman rumah.
Sita mengambil tempat duduk di samping Bima. Dia kira, Bima tidak menyadari kehadirannya. Namun ternyata Sita salah. Ayahnya itu menghentikan kegiatannya dan bahkan menyimpan laptopnya di atas meja. “Eh?” Sita kaget, padahal biasanya Bima lebih mengutamakan pekerjaan daripada keluarganya sendiri.
“Kenapa kamu kaget seperti itu?” tanya Bima pada anak gadisnya.
Sita berdecap bingung. “Hmm ... gak biasanya Papa biarin pekerjaan gitu aja.”
Bima melirik laptopnya sekilas, lalu tertawa kecil. Sita kembali terperangah. Ayahnya ini beneran kesambet apaan, sampai-sampai berperilaku berbeda? Dia buru-buru menggelengkan kepalanya. Mungkin ayahnya itu kelelahan, hingga membuatnya bertingkah laku berbeda.
“Ternyata penilaian kamu tentang Papa, tidak pernah berubah ya, Ta?”
Sita kembali dikagetkan lagi oleh pertanyaan ayahnya. Karena bingung harus menjawab seperti apa, Sita akhirnya menganggukkan kepalanya.
Suara helaan napas dari Bima membuat Sita memerhatikan pria itu dengan seksama. Sudah berapa lama, ya, aku gak bisa sedeket ini dengan Papa? Mungkin, sejak Abang Adya pergi. Sita tersenyum miris kala memori lamanya terkenang.
“Gimana sekolah kamu di Jepang, Ta? Bukannya liburannya hampir selesai?”
Sita masih tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya ini. Dia memilih menjawab seadanya saja. “Iya ... gitu deh. Papa sendiri tahu, gimana rasanya ngelakuin hal setengah hati,” sindirnya dengan sengaja.
Sita kira, Bima akan mengamuk seperti biasa atau paling tidak, Bima akan memakinya karena menjadi anak yang kurang ajar. Tapi lagi-lagi perkiraannya meleset. Bima malah membahas topik lain dan terdengar mencurigakan.
“Kamu di sana, sudah lama mengenal Hideki?”
“Dia Kakak tingkatku, sama-sama pelajar dari Indo dan suka seni.”
Bima terlihat agak muram saat Sita menyebutkan kata seni. Sita sendiri tidak paham jalan pikir ayahnya yang seperti membenci seni. Lara akan kehilangan kakaknya mungkin saja menjadi salah satu penyebab kebencian ayahnya.
“Papa lihat, dia orangnya dewasa, bertanggung jawab dan berani,” komentar Bima mengenai Hideki.
Bukannya Sita tidak peka dengan arah pembicaraannya, tapi dia masih syok saja. Alis matanya menukik. Dia melihat ayahnya dengan kening berkerut. “Jangan bilang kalau Papa mau jodohin aku sama Hideki!” tuduh Sita.
Bukan sembarang menuduh, hanya saja, Bima tidak mungkin memuji-muji orang tanpa alasan. Apalagi melihat interaksi mereka semalam, Sita jadi tambah curiga.
Ayahnya itu hanya mengedikkan bahunya. “Kalau berpotensi, kenapa, gak?”
“PAPA!”