
"Abang ... Abang ... Tata mau ikut!" rengek gadis kecil terhadap laki-laki yang berusia lima belas tahun lebih tua darinya.
Laki-laki tersebut, berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya agar sama dengan tinggi badan milik orang yang menyebut dirinya sebagai 'Tata', terdengar manis sekali panggilannya.
"Tapi Abang mau pergi jauh," ujarnya penuh sesal.
Sita cemberut dengan penuturan sang kakak. Dia beringsut, memeluk erat leher laki-laki di depannya. Memberikannya beberapa ciuman pada wajahnya, membuat Adya-laki-laki yang beranjak dewasa itu-terkekeh geli dengan kelakukan adiknya.
"Sudah, Tata. Geli ...," ujarnya. Dia meraih tangan mungil adiknya dan mengecupnya singkat. "Tata, kalau sudah besar, mau jadi apa?"
Gadis berkucir dihiasi oleh pita, menyisakan sejumput anak rambut yang agak panjang, menatap serius pada Adya. "Tata mau jadi Abang!" sahutnya dengan bangga.
Adya tergelitik oleh ujaran Sita. Dia mengecup pelipis adiknya. "Masa Tata mau jadi laki-laki, kaya Abang?"
Sita menggelengkan kepalanya. "Ihh, bukan gitu, Bang Ayam! Tata mau jadi orang hebat macam Abang," jelasnya.
Adya mencubit sekelumit hidung Sita. "Bang Adya, Sayang ...," Adya mencoba melafalkannya pelan-pelan. "A-D-Y-A!"
Sita mengikuti pelafalan nama Adya yang susah baginya. "A-D-Y-A!"
Adya tersenyum lebar. Lalu, kembali melanjutkan kalimatnya, "Bang Adya!" serunya. Berharap Sita bisa mengikuti melafalkannya yang benar.
"Bang Ayam! Horeee!" Sita berjingkrak heboh, dia bertepuk tangan senang. Sedangkan Adya tersenyum kecut.
"Adya, Dek. Bukan Ayam, loh," keluh Adya sekian kalinya.
Sita menganggut patuh. "Iya, Bang Ayam!"
Adya geleng-geleng kepala, dia berdiri dan menoleh pada wanita yang memerhatikan interaksi mereka dengan senyum dikulum. Adya menghampirinya, diikuti gadis kecil yang terus saja memegangi ujung kemeja Adya.
"Ma, Adya pamit dulu ya," pamitnya pada wanita yang begitu berjasa sepanjang hidupnya.
"Iya, hati-hati, Nak."
Adya tersenyum sambil mengangguk. Dia berusaha melepaskan jangkauan Sita pada tubuhnya.
Sita merengek sangat keras karena Adya melepaskan pegangannya pada baju. Karena tidak tega, sebelum benar-benar berangkat, Adya menyeka air mata yang sudah membasahi wajah menggemaskan adiknya.
"Tata jangan nangis ya? Tata sudah bisa berhitung, kan?"
Sita menganggut sangat pelan. Adya kembali tersenyum. Jika saja, ini bukan tuntutan yang wajib dia tunaikan, demi menunjang masa depannya, Adya tidak akan pernah tega meninggalkan adiknya seperti sekarang.
"Nah, sekarang, coba setiap harinya, hitung sampai tiga puluh, bisa?"
Dengan lugunya, Sita bertanya, "Sehari itu berapa banyak, Bang?"
"Lalu, Tata tidur, dan bangun di pagi hari. Itu baru namanya satu hari," terang Adya.
Sita melirik pada wanita yang ada dibelakangnya, memeluk Sita dari belakang. "Bener gitu, Ma?"
"Iya, Sayang."
Baru lah setelah mendapatkan konfirmasi dari mamanya, Sita tersenyum senang pada Adya. "Baik, Tata paham."
Adya semakin tidak rela saat dirinya berbalik badan dan pergi meninggalkan adiknya jauh dibelakangnya. Karena entah kapan hari, dia dapat menatap wajah menggemaskan adik tersayangnya setelah keberangkatannya ke Berlin, Jerman.
Kota Berlin, menjadi rumah bagi 400 galeri seni sekaligus menjadi pusat perkembangan seni lukis grafiti yang kini tengah populer di berbagai negara. Menjadi tempatnya mulai berbaur dengan orang-orang dari mancanegara.
Tapi sungguh disayangkan, kenangan indahnya di kota yang sudah sejak dahulu menjadi kota berbagai jenis karya seni berkembang pesat, harus dibayarkan oleh kejadian naas yang membuatnya tidak bisa melihat adiknya selamanya.
Perpisahannya dengan sang adik, merupakan pertemuan terakhir sekaligus dari seperkian memori yang sampai akhir hayatnya, tak akan Adya lupakan. Karena itu adalah janjinya sebagai seorang kakak laki-laki, Adya Surya Adirajada kepada Sita Prawira Adirajada, yang sudah Adya abadikan-sehari sebelum kematiannya- pada kanvas lukisan yang dia beri nama : My Little (Forever) Sister.
...•••...
Sita mengerjap bingung, dia terengah-engah dalam mimpinya. Di sibak selimut tebal yang menyelimutinya, Sita berjalan lunglai ke arah wastafel dan mengeluarkan sebagian isi perutnya. Bunga tidurnya, berupa kenangannya tentang Adya, membuat gejolak tidak nyaman pada perut dan hatinya.
Melalui pantulan cermin, Sita menggertakkan giginya. Wajah kuning langsatnya, mendadak menjadi pucat pasi, bahkan dia melihat bibirnya sedikit keunguan. Pantas saja udara terasa sangat dingin, dia mungkin lupa untuk menurunkan suhu AC pada kamarnya. Sambil berpegangan pada wastafel, Sita mendesis karena perasaan tidak nyaman yang masih bercokol dalam hati.
"Kenapa Bang Adya milih pergi ke Berlin sih!" geramnya.
Sita memukul beberapa kali ujung wastafel dengan keras. Dia tidak bisa menahan sesak pada hatinya, berharap rasa sakit fisik yang dia terima dapat memulihkan kondisi hatinya.
"Karena luka fisik dapat diobati dengan obat-obatan, sedangkan obat untuk hati yang sakit adalah kasih sayang dari orang lain."
Sepenggal ucapan Adya ketika Sita masih kecil, begitu terpatri dengan jelas pada benaknya. Sekuat apapun Sita berusaha menghalau rasa sakit pada hatinya, tetap saja, kepergian Adya selalu menjadi kelemahan bagi pertahanan Sita untuk tidak menangis.
Tubuh Sita melorot ke bawah, dia meringkuk seperti anak kecil dengan menenggelamkan wajahnya pada kedua lutut yang ditekuk. Isaknya mulai terdengar, bersamaan dengan bahunya yang kempas-kempis. Sita semakin bersendu pilu saat mengingat Adya.
Kemarahan Bima sewaktu malam, membuatnya memikirkan Adya, hingga akhirnya membuat Sita terpuruk dalam diam. Karena mengingat sesuatu yang tidak bisa kita genggam lagi, tidak bisa kita lihat perkembangannya ataupun melihat senyum yang selalu membuat kita turut serta tersenyum, sangatlah menyesakkan dada.
Ketukan pintu kamar mandi Sita terdengar, walaupun sayup-sayup, tapi Sita mendengarnya. Setelah dia membereskan penampilannya agar terlihat lebih normal dengan mata merah yang sembab, bukanlah perkara mudah. Apalagi orang yang Sita temui di balik pintu kamar mandinya adalah wanita berjasa yang telah berjuang hidup-matinya untuk Sita.
Bahkan tanpa Sita bercerita pun, naluri seorang ibu tidak akan pernah salah. Pratista, walaupun selalu tegas padanya, tidak pernah untuk tidak memperhatikan Sita sedikitpun. Tepat ketika Sita menyembulkan kepalanya, Pratista langsung mendekap tubuh mungil putrinya yang masih berada sebahunya.
"Udah, Sayang ... gak apa-apa, Abang pasti gak apa-apa," ujarnya menyabarkan.
Jika saja Pratista tidak ingat dia memiliki anak, sudah dia pastikan bahwa dia pun, akan serapuh Sita saat kehilangan anak sulungnya. Sita adalah hartanya yang tidak bisa ditukarkan dengan apapun.
"Sekarang, kamu mau tetap mengikuti seperti Abang Adya, Nak?"