
Sita merasakan napasnya memburu sangat cepat. Belum selesai dengan peluh keringat pada dahinya, amarahnya kian menumpuk. Setelah membuka pintu kamarnya, Sita dikejutkan oleh keadaan kamarnya yang berantakan. Palet-palet yang dia susun di rak khusus dengan cat-cat dan kanvas primer lainnya berhamburan kemana-mana. Bahkan sebagian dari cat tersebut telah mengotori lantai kamarnya.
Sita menahan napasnya sejenak. Pasti ulah mereka. Pikirnya, berprasangka.
Sita segera merapikan barang-barang yang berceceran tersebut. Berbagai lukisan yang telah dia buat, Sita jauhkan dari jangkauan sinar matahari. Dia juga menaikkan suhu AC sesuai dengan temperatur yang bisa menjaga keawetan lukisan yang berada dalam ruangan khusus-di dalam kamarnya-bisa terjaga apik.
Tangannya terulur, menyentuh cat berwarna merah yang telah mengering di lantai kamar. Senyuman yang terpatri pada wajahnya, menyiratkan kesenduan. Sita tersenyum masam. Dia segera berbenah kembali sebelum melanjutkan sisa-sisa pertengkarannya di tengah rumah.
Ponselnya berdering cukup lama, Sita membiarkan dulu seseorang yang berusaha menghubunginya. Dia harus secepatnya membereskan kekacauan pada kamarnya.
Setelah selesai, Sita merebahkan diri di atas kasur. Tangannya sibuk membuka password pada gawai yang ramai oleh notifikasi.
Setidaknya aku harus refreshing dulu sebelum mulai berdebat nantinya, pikir Sita.
Sita memilih membaca satu pesan yang berasal dari sahabatnya itu.
Widan
Masih selamat, kan?
Gue punya feeling yang gak enak.
Sejenak, Sita menghela napasnya. Widan yang mengetahui kehidupannya, sudah dipastikan akan mencaci makinya karena tidak berkata jujur, but ... who's care? Sita hanya sedang malas membahasnya.
Fokusnya teralihkan karena suara teriakan dari luar kamarnya, membuat Sita harus menahan kesabarannya.
"Sita, keluar!"
Suara bariton itu adalah milik ayahnya, Bima Adirajada. Kepala keluarga yang harus Sita hormati, apapun keputusannya.
Dengan langkah terpaksa, Sita berjalan mendekati pintu kamar dan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah berkumpul di ruang makan.
Wanita yang memakai daster batik yang dibuat dengan corak dan gaya Sala-batik Solo-yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya, terlihat begitu anggun dan telaten, mengurusi penjamuan keluarganya yang telah usai sejam yang lalu.
Sita duduk dengan canggung, di sisi sebelah kanan kepala keluarga Adirajada. Wanita yang merupakan ibunya itu-Pratista Abriana-duduk di samping kiri Bima dan menghadap ke arah Sita, tersenyum hangat. Sita yang mewarisi keanggunan dari sang ibu-jika saja kalimat pembuka yang Pratista ucapkan tidak dia dengar-sudah pasti Sita akan sangat mengagumi wanita yang menyandang gelar Nyonya Adirajada generasi kedua dari keluarga Adirajada.
"Kamu semakin hari, semakin gendut Mama lihat, loh. Makan yang aneh-aneh karena sibuk melukis itu, kan?"
Sita hanya bisa menelan makanan rendangnya dengan susah payah. Selera makannya sudah menguap. Padahal masakan rendang khas Suku Minang ini, menjadi makanan kesukaannya. Apalagi jika dibuat oleh Pratista, wanita yang menjadi taksiran wanita karir yang sangat diidam-idamkan karena kepiawaiannya dalam mengurus karir dan rumah tangganya. Perfect.
"Aku gak pilih-pilih makanan, Ma," ujar Sita, berusaha setenang mungkin.
Pratista menghela napasnya, tentu saja sebagai salah satu anak keluarga Adirajada, Sita harus memperhatikan setiap tingkah lakunya. Salah sedikit saja, media masa akan dengan cepat menyebarluaskannya.
"Terserah kamu saja."
Akhirnya Pratista memilih mengalah, toh anaknya ini terlalu sukar untuk dinasehati, tangguh. Sangat mirip dengan makna namanya.
Hingga akhirnya, suara dari Bima, menambah kemuraman pada wajah Sita yang dia tutup-tutupi sejak memasuki ruang makan.
"Seharusnya dari dulu, Papa buang alat tidak berguna dikamar kamu itu!" sahut Bima dengan tegas.
"Itu mimpi aku, Pa!" balas Sita.
Cukup sudah, keinginan untuk melanjutkan makan, bukan lagi seleranya. Perutnya tiba-tiba saja sudah merasa kenyang dengan gertakkan dari ayahnya sendiri.
"Mimpi kamu gak akan pernah bisa membuat kita bangga!"
Perkataan itu terucap dengan jelas, menohok telak pada hati Sita.
"Tapi itu bisa buat aku bahagia, Pa ...," lirih Sita. "Dan aku juga yakin, bahwa aku bisa membuat Papa sama Mama bangga!"
Bima menatap datar pada Sita. "Sejak kamu mulai menyukai kegiatan tidak berguna itu, kamu semakin lancang!"
Sita melirik pada ibunya yang tidak menjadi penengah berdebatan ayah-anak itu.
"Aku juga berhak memilih kebahagiaan ku juga, Pa," rengeknya.
Bima menyudahi acara makan malamnya. Beliau beranjak pergi dari kursi tempatnya beradu argumen dengan sang anak. "Jangan egois, Sita! Kamu tetap harus melanjutkan perusahaan keluarga kita," tegas Bima.
Sita berdecih pelan, tapi cukup jelas terdengar oleh Pratista. "Jangan bertindak seperti itu, Sita. Kamu harus sopan santun terhadap orang dewasa," nasihatnya.
Pratista mengikuti suaminya yang sudah pergi dari ruang makan. Meninggalkan Sita dalam kebisuan yang membuatnya ingin menenggelamkan diri. Sita menatap gamang pada makanannya yang tersisa, suara Pratista kembali terdengar dari kejauhan.
"Habiskan makananmu, lalu cepat tidur!"
Perintah, larangan, perintah, larangan lagi!
Sita mendengkus tidak suka, dia menyudahi acara makannya. Lagipula, dia sendiri sudah tak berminat lagi memasukkan makanan pada perutnya.
Siapa juga yang mau makan malam sendiri dengan keadaan seperti ini?
Sita memilih membaringkan tubuhnya di kasur dan menelusuri alam mimpi, daripada harus berdebat pelik dengan keluarganya sendiri.
Mereka sama sekali tidak pernah membuatnya memilih keputusannya sendiri. Terlahir dari salah satu anak konglomerat, ternyata bukan sesuatu yang mengenakan juga.
Dalam sunyi malam, Sita tersenyum culas. Getir tangisnya yang tertahan, tak mampu membuatnya merasa kuat. Dia tetap perempuan remaja yang masih labil oleh perasaannya, mudah terluka tapi dipaksa untuk tetap teguh. Berdiri sendiri.
Sita menyeka wajahnya perlahan dengan tisu yang tak jauh berada di dalam laci. Setelah meremukkan tisu tersebut menjadi gumpalan, Sita membuangnya ke tempat sampah yang berada di sudut kamarnya. Netranya menyipit, saat dia menemukan beberapa kuas yang seingatnya baru saja dia beli minggu kemarin bersama Widan. Dia memungut kuas tersebut dengan wajah yang kembali basah oleh tangisnya.
Bukan hanya satu kuas saja, melainkan kuas-kuas lainnya pun berada dalam tempat sampah. Satu hal yang perlu Sita syukuri adalah, tempat sampah di kamarnya, tidak mengandung sampah organik atau media basah lainnya. Hanya terdapat beberapa benda padat kering, seperti rautan pensil, kertas-kertas yang telah koyak, gumpalan tisu dan sejumlah bungkus permen bekas.