
Oh, Tuhan! Batin Sita terus menjerit tiada hentinya. Bahkan semua orang yang melihatnya ikut iba padanya. Sementara Pratista menuntun Sita untuk menjauhi kumpulan dua keluarga tersebut, telinganya kerap mendengar makian dari Adira kepada keluarga Widan perihal kepergian mendadak laki-laki itu.
Sita kenal betul dengan Widan, jadi tidak mungkin laki-laki itu akan pergi tanpa alasan yang jelas. Sahabatnya itu selalu memegang teguh janjinya.
Tuhan, dimana pun dia berada, tolong selamatkan dia.
Banyak uraian kalimat tanya dan keinginan yang dia bicarakan pada Widan, tapi rasanya jiwanya terenggut secara paksa. Hilangnya Widan yang mendadak seperti ini, seperti guncangan besar bagi batinnya.
"Ta, duduk sini dulu," ajak Pratista yang membawa Sita duduk di kamar tamu yang disediakan oleh Adira.
Sita mengikuti titah ibunya, matanya masih menatap ke sembarangan arah. Dia menatap gamang pada ibunya, lidahnya bahkan terasa kelu saat Sita ingin mengutarakan maksudnya.
Pratista tersenyum tipis, dia mengusap kepala Sita begitu pelan. "Gak apa kalau siap. Kamu bisa bicarakan nanti saja." Dan sekian detik setelah ucapan Pratista tersebut, tangis Sita kembali terdengar. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Dalam dekapan Pratista, Sita mengeluarkan segala macam perasaan gulananya. Dia mungkin akan mendapatkan cemooh dari ibunya jika dalam kondisi yang biasa, tapi meskipun saat ini Sita membasahi baju ibunya dengan air mata, dia sangat yakin bahwa Pratista tidak akan memarahinya.
"Ma ... kenapa dia pergi?" tanya Sita dalam lirihnya tangis yang pecah.
"Dia lagi butuh waktu sendiri, Sayang. Percaya sama Widan, bahwa dia pasti kembali," hibur Pratista yang sama sekali tidak berefek lebih banyak bagi perasaannya.
Saking lamanya menangis, Sita tidak tahu detail kejadian lebih lanjut karena seingat dirinya, dia menangis dipelukan Pratista hingga jatuh tertidur.
Tapi, melihat kacaunya ruang keluarga Trella akibat perselisihan tadi malam, hingga menimbulkan banyak pecahan barang-barang yang berserakan. Sita juga dapat melihat beberapa bercak darah yang sudah mengering. Dia tertegun sejenak. Siapa yang terluka? Terlebih lagi, jejak darah itu membentuk jejak kaki.
Karena penasaran, Sita mengikuti jejak kaki yang bercampur dengan darah itu. Seiring langkahnya mendekat, Sita merasakan debaran aneh yang membuatnya mual. Dia juga sampai melupakan niatnya untuk bergegas mandi karena rasa penasarannya.
Jejak kaki yang berlumur darah itu terhenti di kamar Trella. Kerutan pada dahinya membuat Sita berspekulasi bahwa orang yang terluka itu pasti adalah Trella. Dia mencoba membuka pintu, namun macet. Ketukan yang beberapa kali Sita lakukan tidak berefek sama sekali. Meskipun dia terus menyerukan nama Trella, gadis itu tetap diam di dalam kamar tanpa membalas seruannya.
Sita berdecak. Dia mengalihkan pandangan pada area rumah Trella yang hening. Sangat bertolak belakang dengan kejadian malam lalu.
Bruk.
Suara itu kembali menyadarkan Sita bahwa ada sesuatu yang tidak beres di kamar Trella. "Ella! Buka pintunya!!" Teriakannya yang kedua kali itu tidak digubris. Sita tidak punya waktu lebih banyak lagi, dia merasa sangat khawatir dengan keadaan sepupunya itu. Meskipun keadaan dirinya sendiri juga tidak lebih buruk dari yang orang-orang khawatirkan.
Sita akhirnya menemukan salah satu pelayan rumah yang sedang menyapukan halaman rumah. "Mbok, ada kunci cadangan kamar Trella?"
Sita hanya mengangguk dan menunggu kedatangan mbok Yayu untuk memberikannya kunci cadangan kamar Trella. Tak sampai bermenit-menit lamanya, mbok Yayu sudah memberikannya duplikat kunci. "Ini, Non, kuncinya. Saya pamit ke belakang lagi, permisi."
Setelah mendapatkan kunci, Sita langsung membuka kamar Trella yang sudah kosong. Namun, penampakan kasur yang berantakan, baju-baju berserakan di lantai, serta bercak darah berupa langkah kaki memenuhi marmer lantai. Sita melongokkan dirinya ke arah kamar mandi, namun nihil. Tidak ada seorang pun di sana.
"Trella!!
Keringat sudah memenuhi kening Sita. Napasnya memburu. Dia melihat ke sekitar dengan frustasi. Riak khawatir tergambar jelas pada wajahnya. Batinnya tak hentinya melafalkan pengharapan supaya sepupunya itu baik-baik saja. Sita menggeram kesal. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri, hingga akhirnya jatuh terduduk dengan titik-titik air mata. Isaknya sudah tak tertahankan lagi. Dia juga menggigit bibir dalamnya supaya suara tangisnya terendam.
Kesunyian yang menyiksanya itu bagaikan pukulan telak pada relung hatinya. Dengan tangan gemetar, Sita menyentuh bercak darah yang tersisa. Aroma anyir yang pekat, tak dia hiraukan. Air matanya tumpah meruah. Lalu, tangisannya disusul oleh suara tangisan lainnya. Sita tertegun. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sita menyeka kasar air mata yang masih tersisa, juga berjalan tertatih-tatih ke arah jendela luar kamar Trella yang menghubungkannya langsung dengan halaman belakang yang luas.
Walaupun Sita menangis dengan begitu hebat, suara sesenggukan itu bukan lah berasal darinya. Langkah kakinya semakin mantap dan berbagai spekulasi mulai bermunculan. Baru ketika Sita melongok ke jendela, dia menemukan Trella yang mendekap dirinya sendiri sambil menangis tersedu.
"Ella!"
Panggilan Sita menyentak kesadaran Trella. Itu terlihat dari bahu Trella yang awalnya naik-turun, mendadak terhenti. Tapi setelahnya, tangisnya itu kembali pecah.
Sita tak membuang waktunya. Dia melompat keluar. Kakinya berjinjit sebelah karena rasa tusukan pada telapak kakinya. Dia segera mencabut beling yang menancap tidak terlalu dalam, buru-buru Sita mengeluarkannya secara paksa. "Arch...," rintihnya pilu.
Meski demikian, Sita tetap berjalan berjinjit, melupakan rasa sakit yang dideranya dan mengguncang Trella.
"Ella! Setop, jangan berpikir macam-macam dulu. C'mon, look at me, please...,"
Trella dengan wajah berantakan serta mata kecilnya yang sembab adalah hal yang paling menyedihkan yang Sita lihat dari seorang gadis ceria sepertinya.
"Dia udah pergi ninggalin kita Sita! Di-dia... Udah pergi..." Suara Trella semakin lirih disertai dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
Bahkan noda darah pada sebagian wajah Trella dan tangannya membuat Sita tanpa sadar sudah menangis dalam diam. Dia mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya.
Sita menyentuh bahu Trella, hingga memaksa perempuan itu kepayahan untuk mendongakkan kepalanya.
"Ayo, kita obati dulu luka kamu."
Trella menggeleng lemah. Dia menatap nanar kedua tangannya yang gemetaran seperti Sita tadi. "Ini bukan jenis luka yang bisa disembuhkan oleh sejenis antiseptik lainnya," lirihnya dengan kepala tertunduk dan sebulir air mata yang kembali jatuh meluruh.