Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 30 : Life



Usai pemakaman dan orang-orang berpakaian serba hitam yang datang silih berganti mulai berkurang, anggota inti keluarga masih berdiam di tempatnya. Mereka meratapi gundukan tanah yang baru saja menjadi pemisah antara alam bawah sana dengan dunia kehidupan. Suara tangisan sudah mulai mereda, namun tak kunjung membuatnya bisa tersenyum ceria kembali. Rintik-rintik hujan mulai berdatangan. Sebagian orang mulai mencari tempat perlindungan, menggiring keluarganya yang lain dari rintik-rintik hujan.


“Ayo, Ta. Jangan sampai kamu sakit di sini. Dia pasti bakalan nangis kalo lihat kamu kaya gini,” bujuk April yang membantu membuat Sita berdiri dengan kepayahan.


Sita hanya diam membisu. Dia enggan beranjak sedikit pun. Air matanya sudah mengering. Berbanding terbalik dengan Trella yang masih menangis meronta-ronta sebelum akhirnya digendong secara paksa oleh ayahnya.


“Hei, Ta! Lihat Tante, sini.”


Tepukan pada pipi Sita membuatnya menoleh dengan terpaksa. Sudah dia pastikan bahwa wajahnya tidak akan jauh berbeda sama menyedihkannya dengan Trella tadi.


“Sita, hei!”


April terus membuat Sita menatapnya. Mengajaknya berbicara menjadi misi pertamanya untuk menyadarkan Sita, bahwa semuanya akan terus berjalan. Sekalipun kita harus kehilangan orang yang kita sayang.


Setelah April paksa Sita untuk sekedar berbicara dan melangkah menuju tempat untuk berteduh. Sita hanya tampak seperti manekin yang tidak bisa berbicara. Bahkan jika tidak merasakan hembusan napasnya yang hangat, April pasti sudah menyangka Sita mati dalam keadaan berdiri.


Dengan amat terpaksa, April meninggalkan Sita bersama keluarganya yang lain. Sebab dia juga harus memastikan keponakan satunya lagi.


Ternyata jauh dari kata baik-baik saja. Trella yang April lihat, justru terlihat lebih ekspresif dalam menyalurkan kesedihannya. Berbeda dengan Sita yang hanya bersedih dalam diam.


“Kalian mau langsung balik aja?” tanya April pada Adira.


Ibunya Trella itu hanya menyetujui usulnya tanpa banyak penolakan. Pastinya, melihat anak semata wayangnya berkabung, meninggalkan juga duka mendalam padanya.


“Oke, biar aku aja yang bawa mobil kalian ke sini dan kalian bisa langsung pulang. Gimana?” Melihat Adira yang kembali mengiakan tawarannya, April menjadi semakin sedih. Keluarganya sudah terlanjur berharap banyak Widan.


Adira memberikan April kunci mobil mereka yang disambut dengan senyum kecut April melihat Adira yang masih menitihkan air matanya.


...•••...


Sita sudah mulai terbiasa dengan keadaan sunyi dan kegelapan. Banyak yang dia lalui dengan tangisan. Mengurung diri ataupun mengambil cuti kuliah merupakan hal yang bisa dia lakukan demi membuat kepalanya menjadi normal kembali. Rasanya mau pecah saja.


Lambat laun, karena tidak ingin melihat Pratista dan Bima mengkhawatirkannya, Sita kembali beraktivitas seperti biasa di rumahnya. Tidak banyak yang bisa lakukan. Hanya melukis dan melakukan kegiatan manusiawi lainnya seperti bernapas misalkan. Sesekali, Sita juga mengunjungi galeri lukisan yang ditinggalkan oleh Widan untuknya.


“Selanjutnya kita mau ke rumah Non Ella, benar kan, Non?” tanya Edi yang merupakan supir yang saat ini tengah mengantarnya menuju rumah Trella.


“Iya, Pak. Lanjut ke rumah Ella aja.”


Pak Edi yang melihat Sita kembali terdiam, tidak bisa berbuat banyak. Selain memastikan bahwa perjalanan mereka tidak mendapatkan bahaya, keluarga Sita juga telah menitipkan Sita padanya saat hendak pergi keluar rumah.


Sekiranya sudah seminggu pasca Sita dan Widan sudah terpaut jarak yang sangat jauh. Diam-diam rasa rindu menyeruak. Bahkan, setelah kepergian laki-laki itu, dia masih mengingat dan mau berkorban demi kebahagiaan dirinya. Sita hanya bisa mengunjungi makamnya seminggu sekali. Setidaknya ini jatah yang baik, yang diberikan oleh orang tuanya.


Sita juga pasti akan kehilangan kontrol dirinya jika lebih sering dari itu mengunjungi peristirahatan terakhir Widan.


...•••...


“Siang, Om, Tante,” sapa Sita seraya menyalimi mereka.


Cekungan samar yang terlihat hitam serta pipi tirus dari Tante Adira semakin memperkuat asumsinya bahwa mereka pun mengalami duka yang cukup serius. Apalagi mengingat pernikahan yang hendak berlangsung sebentar lagi, membuat mereka pasti bersedih kepanjangan.


“Papa sama Mama kamu gimana, Sit?” tanya Adira yang sudah menjamu Sita di dekat ruang keluarga.


“Baik, Tan. Mereka sempat nanyain keadaan Tante sama Om, tapi emang suka jarang di rumah.”


Adira tertawa kecil. Kerutan samar yang berada di keningnya perlahan mulai terlihat. “Mereka itu ... masih saja belum berubah,” ucap Adira dengan suara lirih. Tapi jelas-jelas Sita dapat mendengarnya.


Suasana rumah Trella tampak begitu sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu ramai oleh kegiatan Trella di rumah ini. Kehilangan seseorang, memang dapat mengubah segalanya.


Mereka mengobrol cukup lama. Hingga suami Adira undur diri karena masalah pekerjaan yang dimilikinya. Kini di ruangan keluarga itu, hanya menyisakan Sita dan Adira saja.


Hembusan napas panjang yang Sita dengar itu berasal dari Adira yang menatap lurus-lurus pada pigura yang menampilkan potret lengkap keluarganya.


“Kemarin keluarga Agler ke sini. Mereka beriktikad tentang pernikahan yang batal terlaksana,” ungkap Adira dengar suara yang bergetar. “Padahal seharusnya, keluarga kamilah yang mengunjungi mereka. Tapi, Trella  ... dia sudah tidak bisa lagi diajak ke sana.”


Pernyataan itu menyentak kesadaran Sita. Dia mengelus lembut tangan Adira yang dari tadi menggenggamnya, seolah mencari kekuatan dari Sita.


“Trella, Sita  ... dia  ...,” perkataan Adira terus saja terpotong karena suara tangisnya itu. “Dalam kesedihan itu, Ella pergi  ... Ta, dia pergi ninggalin Tante,” sambungnya kemudian.


Sita tertegun. Bayangan Trella yang bertindak bodoh dengan merenggut nyawanya sendiri dengan paksa, membuat gejolak tidak nyaman pada perutnya. “Tante... Ella...,” napas Sita seolah terenggut. Apalagi Adira menggelengkan kepalanya. Menunjukkan bahwa Trella tidak dalam kondisi yang baik-baik aja.


“Dia... mutusin buat pergi ke Kanada,” jelas Adira yang membuat Sita akhirnya bisa bernapas lega.


Setidaknya sepupunya itu tidak berbuat hal gila yang menyengsarakan keluarganya lagi.


“Tapi, Tan, buat apa jauh-jauh dia pergi ke sana?”


Lagi-lagi Adira menggelengkan kepalanya. “Tante juga kurang yakin. Tapi dalam surat yang tinggalin kemarin malem, dia bilang mau lanjut kuliah di sana.”


Sita menumpukkan tangannya pada Adira yang masih menggenggamnya. “Tante tenang aja, kalo nanti aku udah diizinin sama Mama, aku pasti bakalan ke sana buat jengukin Trella,” janji Sita membuat Adira tersenyum senang. Dia memeluk Sita layaknya memeluk anaknya sendiri.


“Tante yakin, Ella juga pasti merindukan kita semua di sini.”


Sita mempercayai ucapan Adira. Karena sejauh yang Sita tahu, Trella juga adalah tipikal orang yang selalu menyayangi keluarganya.


Dering ponsel Sita, seketika membuatnya menoleh. Nama Hideki yang tertera di bagian ponselnya yang menyala membuat kening Sita berkerut. Mengingat menghilangnya Hideki yang berbarengan dengan Widan, menimbulkan persepsi bahwa laki-laki itu tidak akan kembali datang. Apalagi setelah kekacauan seperti ini.


Akhirnya Sita memilih mengangkat telepon tersebut pada dering keempat. Dia sempat meragu dengan keputusannya sendiri. Tapi setelah mendengar suara Hideki, keraguan itu mulai berangsur berkurang. Seiring dengan sebuah perasaan aneh yang menyelinap dalam relung hatinya.


“Ta, kamu di mana?”