
Waktu malam menunjukkan pukul sepuluh, Sita sudah bersiap menuju rutinitas tidurnya. Namun, terpaksa dia gagalkan karena ketukan yang mengganggu dari arah jendela balkonnya. Sejenak, dia duduk termangu dengan pandangan lurus ke arah jendela tersebut. Pikirannya berkelana di masa-masa Widan yang sering mengganggunya dengan hal serupa. Secara tidak sadar, memori ingatan bersama sahabatnya itu kembali terngiang dalam benaknya.
Hingga ketukan pada jendela itu berubah menjadi gedoran tak sabaran. Orang-orang rumah pasti akan curiga ada maling atau orang yang berniat buruk kepada Sita. Tapi Sita segera beranjak dari ranjangnya. Dia menarik gorden yang menutupi jendela itu.
Kini terpampang jelas wajah letih pria berumur hampir akhir dua puluh tahunan itu malah menyunggingkan senyuman. Padahal lewat remang-remang cahaya seadanya, Sita dapat melihat gurat keletihan pada wajahnya serta setelan kantorannya yang jauh dari kata rapi. Harus Sita akui, upaya pria ini dalam menemui Sita sampai-sampai harus menaiki balkon segala, cukup hebat dan nekat juga.
Tak tega dengan angin dingin yang bisa membuatnya sakit, Sita membuka jendela kaca yang terlihat seperti pintu kaca yang digeser, Sita mempersilahkan Hideki untuk masuk. Tapi wajah Sita sama sekali belum menunjukkan keramahtamahannya.
“Ngapain ke sini? Gak tahu peraturan tata krama bertamu ke rumah orang?” tanya Sita dengan sinis. Dia bahkan melipat kedua lengannya di depan dada.
Sementara Hideki yang masih kelelahan akibat memanjat, dia masih saja memberikan Sita stok senyuman yang entah kapan akan habisnya.
“Siapa suruh jadi orang yang sulit dihubungin,” balas Hideki.
Sita menoleh malas padanya. “Aku sibuk.”
“Sibuk, tapi seharian berada di kamar? Sibuk apaan, Bu?”
Ejekan dari Hideki mau gak mau membuat bola mata Sita melebar. Dia mendengkus saat punya praduga bahwa pasti Hideki punya mata-mata di rumahnya ini membuat kekesalan Sita berkali-kali lipat bertambah.
“Sok tahu! Lagian kapan kamu pulang sih?!” teriak Sita dengan suara tertahan.
Kalau saja bukan di malam hari, sudah dia pastikan akan menendang Hideki dari kamarnya tanpa berpikir panjang. Atau berteriak di gendang telinga pria itu supaya tuli dan tidak lagi berada di sini.
“Aku baru aja datang, masa main usir,” balas Hideki kelewat santai. Dia bahkan menyelonjorkan kakinya di atas sofa yang tidak jauh berada di samping ranjang kamar Sita.
Sofa itu memang di desain khusus sebagai tempat tidur dadakan ala Sita, sehingga ukuran panjang dengan lebar yang cukup memadai itu bisa menampung seseorang untuk dapat tiduran di sana.
“Aku juga ke sini tidak dengan tangan kosong. Aku bawa sesuatu yang nantinya pasti bakalan kamu suka,” kata Hideki lagi.
Penasaran. Akhirnya Sita menatap Hideki dengan tatapan menyelidik. “Bawa apaan?”
Hideki memberikan plastik kecil berlogo salah satu supermarket padanya. Dengan rasa penasaran, Sita menerima plastik tersebut dengan sumringah. Apalagi saat melihat logo es krim kesukaannya yang berada di balik kantong kresek itu.
Tapi mendadak Sita menampilkan raut datarnya kembali. Dia tidak boleh tergoda oleh sogokan seperti itu. Nantinya Hideki akan besar kepala dan semakin mengolok-oloknya yang gampang dibujuk. Walaupun sebenarnya Sita tidak marah amat kepada Hideki, dia hanya terlalu capek pulang dari dinasnya, tapi malah dibuat seperti orang yang tidak dihargai saja keberadaannya.
“Gak mau, gak suka,” ucapnya tak acuh sambil mempertahankan ekspresi wajah datarnya.
“Lah, biasanya juga langsung luluh. Kenapa? Mau ditambah lagi es krimnya?”
Sialan. Hideki malah membeberkan kelemahannya secara gamblang. “Sudahlah, ini sudah malam. Sebaiknya kamu buruan pergi,” usir Sita.
Hideki malah mengambil kembali kantong kresek yang sudah diberikannya tadi pada Sita. Sontak hal itu membuat Sita secara praktis merebut kembali kantong kresek tersebut.
“Barang yang udah dikasih, gak boleh dibawa lagi,” katanya dengan sok cuek. Padahal sebenarnya dia sudah tidak tahan lagi dengan godaan untuk segera makan es krim.
Tawa Hideki terdengar menyenangkan di telinga Sita. Hal itu membuatnya secara sadar, turut menyunggingkan senyuman walaupun sekilas. Apalagi setelah melihat Hideki yang memandangnya dengan pandangan yang membuat Sita salah tingkah.
“Kamu itu lucu ya, kalo pura-pura marah kayak gini.”
“Ini bukan pura-pura, tapi beneran tahu!”
“Emang gak capek apa harus marah-marah kayak gini?”
Sita membuang muka. “Gak tuh. Biasa aja.”
“Beneran gak mau ngasih tahu aku penyebab kamu marah-marah gini?” pancing Hideki.
Sita menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tanda bahwa dia tidak setuju. “Gak akan. Emang apa pedulimu?” tantangnya.
Namun sepertinya Sita salah strategi. Karena setelah mengatakan hal itu, Hideki malah tersenyum menyeringai ke arahnya. Alam bawah sadarnya juga sudah mewanti-wanti bahwa mimik muka yang ditunjukkan Hideki memang gak baik untuk kesehatan jantungnya.
“Apa ini karena acara makan siang tadi?” tanya Hideki sambil memangkas jarak di antara mereka. Otomatis Sita pun bergerak mundur.
Mati-matian Sita tidak menunjukkan rasa kekhawatiran saat Hideki terus berjalan ke arahnya dengan semakin memotong jarak mereka. Sita pun menggelengkan kepalanya. Berusaha menyangkal pemikiran yang sempat terlintas dipikirannya, namun enggan dia akui.
Selangkah lagi Hideki maju, satu pertanyaan kembali terucap, “Apa ini ada hubungannya dengan aku yang mengangkat panggilan telepon dan menghiraukan kamu?”
Lagi-lagi Sita hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berjalan mundur. Setidaknya tinggal beberapa langkah lagi, hingga akhirnya Sita akan terpojok ke tembok. Matilah aku.
Hideki kembali melangkah. Kali ini dengan langkah yang cukup lebar, hingga Sita harus mundur dua langkah sebagai antipatinya.
“Apa ini karena kamu menyangka bahwa orang yang menelepon aku adalah perempuan?”
Mata Sita membola karena Hideki seperti bisa membaca pikirannya. Tapi Sita enggan mengakuinya. Karena hal itu pasti akan memperjelas semuanya.
Sita kembali memundurkan langkahnya saat Hideki bergerak maju.
“Apakah ini karena kamu ... cemburu?”
“Tidakkk! Buat apa sih, kamu nanya terus kayak gitu!” elak Sita karena dia sudah tidak memiliki ruang lagi untuk melangkah mundur.
Senyum kemenangan terpatri pada wajah Hideki. Bahkan tanpa canggung, Hideki memajukan wajahnya hingga memperpendek jarak di antara mereka. Sita menahan napas saat dirinya mulai mencium harum maskulin yang begitu pekat semakin berada di dekatnya.
Reflek, Sita memejamkan matanya dengan skenario terburuk yang ada dalam benaknya. Namun selang beberapa menit, kejadian itu tidak terjadi. Dia memberanikan diri membuka matanya. Sita mengedipkan matanya saat melihat Hideki yang kembali menciptakan jarak dengan lampu kamar Sita yang kembali terang.
Ternyata dia cuma nyalain lampu! Bodoh! Apa yang kamu pikirkan, Sita!
Wajahnya pasti sudah merah padam. Itu juga pasti yang membuat Hideki tersenyum senang. Sebelum benar-benar pergi, Hideki lebih dulu mengacak-acak rambut Sita.
“Sepertinya ucapan kamu memang benar. Gak baik bertamu malam hari, apalagi ke kamar wanita. Ingat Sita, pria baik itu gak akan menghancurkan wanita yang dia jaganya.”
Usai mengatakan hal itu, Hideki meloncat dari arah balkon kamar Sita. Satu hal yang terlintas dipikiran Sita selain memikirkan keselamatan Hideki yang nekat meloncat adalah, “Seberapa merah wajahku saat ini?!”