Pain(Tings)

Pain(Tings)
Bab 31 : Welcome



Sekiranya ini adalah terakhir Sita bergelung dengan padatnya kependudukan di wilayah ibu kota. Dia pasti akan merindukan kebisingan lalu lintas, polusi udara yang sudah menjadi bagian dari kota ini, jajanan pinggir jalan yang menggugah selera, juga panas terik yang seringkali mengganggunya jika beraktivitas di luar. Tapi satu hal yang paling tidak disukai Sita terhadap metropolitan ini adalah selain tingkat kejahatan yang tinggi, juga tentang kenangan yang akan selalu terpatri.


Bima dan Pratista tak hentinya memberikan wejangan yang isinya itu-itu lagi. Sita sampai merasa bosan menghafalnya.


“Ma, Pa, udah. Sita baik-baik aja. Setop perlakuin Sita kayak anak kecil lagi,” protesnya tak terima.


Setelah masa berkabung juga perasaan bersalah yang mengikat kedua orang tuanya, mereka merasa ikut andil dalam keadaan Widan yang kritis itu. Hanya kata pengandaian yang acap kali sering Sita dengar, terucap dari bibir mereka. Perasaan-perasaan itu juga yang membuat Bima dan Pratista menjadi pribadi yang berubah.


Bukan perubahan yang buruk juga. Mereka lebih memberikan kelonggaran pada Sita terhadap hobinya, dengan catatan tidak sampai pindah kuliah ataupun mengurangi perjanjian yang waktu itu telah disepakati; bekerja di perusahaan ayahnya. Tak lupa juga mereka yang sekarang lebih protektif dan pengertian, mungkin jika dulu hal itu adalah yang Sita nantikan, kini dia merasa risih dengan perubahan sikap kedua orang tuanya itu.


Sita jadi mengerti bagaimana sebuah perkataan memang bisa menjadi kenyataan dikemudian hari. Itu ternyata sangat mengerikan.


“Setelah sampai di sana, kamu jangan lupa temui Paman Rio ya. Di sana, Papa udah siapin orang-orang kepercayaan Papa takut sewaktu-waktu kamu kerepotan di negara orang.”


Sita dengan berani memutarkan bola matanya. Jika sewaktu dulu, Pratista akan menegur akan tindakannya yang tidak anggun, ataupun Bima yang nantinya akan meneriakinya dengan ceramah tata krama, kini kedua orang itu sedang berkomplot membuat Sita kesal sepertinya.


Keberangkatan dirinya yang dulu saja tidak serepot ini, tapi setelah banyak kejadian yang terlewati, mereka tahu betul cara memperlakukan Sita layaknya porselen pecah-belah. Merasa terlalu sensitif terhadap banyak hal.


“Mama juga udah siapin koper tambahan buat perlengkapan kamu selama di sana.” Pratista lalu mendorong koper merah besar yang kini sudah berada di samping koper hitam sedang milik Sita. “Kali ini, mungkin kamu gak akan pulang ke sini, kan? Gak apa, biar nanti Papa sama Mama yang longok kamu ke sana.”


Sita ternganga sekejap. Dia membeliakkan matanya melihat isi koper merah yang baru ditunjukkan oleh Pratista padanya. Akhirnya Sita hanya bisa menghela napasnya. Bagaimanapun juga mereka berusaha membuat Sita agar merasa nyaman dan tidak terus terpuruk dalam kesedihan.


Sita mengulas senyumnya. Dia memeluk Pratista dan Bima secara bergantian. Bima yang Sita kenal, jarang sekali menunjukkan sisi romantisnya, mendadak mendekap kedua perempuan yang dia sayangi seraya mengecup bergantian kening Pratista dan pipi Sita. Sontak hal itu membuat Pratista tersipu malu. Sita pun lambat laun tertawa pelan, diikuti oleh kedua orang tuanya yang sama-sama tertawa.


Walaupun kegiatan itu hanya berlangsung seperkian menit, namun itu sangat berdampak pada perasaannya yang menjadi hangat. Melihat orang tuanya yang bahagia dan saling menunjukkan kasih sayang itu, membuat hati Sita berangsur lega.


Dalam hatinya, dia begumam pelan, “Terima kasih Tuhan, karena telah mengembalikan kebahagiaan mereka. Dan untuk Widan, terima kasih atas perjuanganmu sebagai seorang sahabat dan pujangga cinta sejati.” Sita terkekeh pelan dengan penuturannya diakhir kalimat.


Lalu ingatannya kembali menoleh ke belakang. Saat Hideki mencari-carinya dengan penampilan yang semrawutan. Dia bahkan tidak mempedulikan reaksi orang rumah  saat melihat kedatangannya di kediaman Trella untuk menjemputnya. Sita menarik kedua sudut bibirnya menjadi senyuman sekilas. Terkadang, sikap Hideki itu terlalu mirip dengan Widan. Hingga secara tak sadar, Sita diam-diam mencari diri Widan dalam Hideki.


Namun, sekuat apapun dia mencarinya, sisi lain hatinya terus mengatakan bahwa Hideki adalah laki-laki yang ditemuinya secara sembarang di negeri Sakura itu bukanlah Widan yang sudah menemaninya hampir di setiap perjalanan kehidupannya.


“Eh, ini anak Mama kenapa senyum-senyum sendiri, hm? Ada kabar baik yang gak kamu bagi?” goda Pratista yang semakin gencar menanyai penyebab Sita yang akhirnya terlihat lebih sering tersenyum.


Tak mau kalah dengan istrinya, Bima ikut menimpali, “Seinget Papa sih kelakuan kayak gini tuh, mirip pas Mama kamu lagi kesemsem sama Papa yang keren ini.”


Kakak...


Sita masih sempat mendengar gerutuan ibunya mengenai sikap jahil Bima dalam menggodanya. Tapi tidak berselang lama, karena setelahnya, Sita sibuk dengan segala pemikiran tentang Adya.


...•••...


Sudah hampir genap satu tahun berlalu sejak takziah terakhirnya kepada makam kakaknya itu. Kini makam itu terlihat sedikit tidak terawat karena tamanan liar yang tumbuh disekitarnya. Untung saja Sita sudah mempersiapkan segala keperluannya dalam situasi seperti ini. Dia dengan telaten mencabuti tanaman liar itu dan mengumpulkannya di plastik gelap untuk nanti dibuang di tempat seharusnya. Tak lupa, Sita juga membasahi kuburan sang kakak dengan air yang sudah dipersiapkannya dan menaburkan bunga-bunga beraroma segar.


Usai memanjatkan doa, Sita mengusap kepala nisan yang bertulisan nama sang Kakak, Adya Surya. Seulas senyum tipis kian terpatri, kala mengingat kenangannya bersama Adya.


“Katanya, waktu itu bisa menjadi penyembuh luka. Tapi, kenapa aku merasa bahwa luka itu baru saja menyakitiku lagi?” bisik Sita dengan lirih.


Tidak ada satupun orang yang menjawab dukanya itu. Sita membiarkan angin membawa pergi keresahan hatinya karena mengingat Adya, sama saja dengan menyakiti perasaannya juga. Perasaan tak rela ditinggalkan itu, masih saja membekas. Seolah itu baru saja ditorehkan oleh Adya yang sudah pergi meninggalkannya hampir dua puluh tahun lamanya.


Helaan napas yang Sita keluarkan, terasa berat. Masih ada beban perasaan tak kasat mata yang selalu mengganjal di hatinya, jika bertakziah ke makam Adya. Belum cukup dengan segelintir perasaan yang menyiksanya, Sita dikejutkan dengan kehadiran Widan di sampingnya.


“Wi... dan?” tanyanya dengan bibir bergetar dan mata yang berkaca kaca. Sita tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Widan yang benar-benar berada dihadapannya.


“Kamu... bagaimana bisa?”


Tak kunjung mendapatkan balasan, Sita mencoba menggapai lengan Widan, namun hanya kilasan angin yang dapat dia genggam. Seolah menjadi pengingat bahwa yang dihadapannya sudah tidak memiliki raganya kembali, Widan terlihat bahagia. Dia mengulas senyum yang sangat Sita nantikan. Lalu pandangan Widan teralihkan pada orang yang berdiri tak jauh dari Sita.


Karena penasaran, Sita akhirnya mengikuti arah pandang Widan dan berakhir dengan matanya yang menemukan Hideki dengan pakaian kasual berjalan ke arahnya. Sama seperti wajah Widan yang mengguratkan kebahagiaan, senyum itu juga seolah tidak pernah luntur dari wajah Hideki.


Hingga akhirnya Hideki berada satu langkah lagi dengannya, dia mengulurkan tangannya kepada Sita. “Apa kamu siap buat kembali berpetualang di negeri orang?”


Tawarannya terdengar menggiurkan. Dia menoleh sebentar pada bayangan Widan yang masih berada di sampingnya. Baru, setelah mendapatkan anggukan dari Widan, Sita menerima uluran tangan Hideki. Anehnya, tidak ada keraguan sama sekali dalam pilihannya kali ini. Dia juga merasakan bayangan Widan itu berangsur menghilang selepas kedua tangan mereka saling bertautan.


“Jepang, I'm coming,” teriak Sita dengan lantang.


Hideki pun tertawa karena gemas dengan tingkah Sita.