OPPA ?

OPPA ?
Konflik Tugas



“aisssh seharusnya Aku gak usah mikirin itu lagi”


Keluh Yunji pulang kerumah sehabis kerja kelompok. Ia terus ngedumel, Hati nya masih berdegup kencang. Andai saja, ia tidak berkelompok, Mungkin Flashback nya tidak balik lagi.


.


.


.


“kamu pulang-pulang ngedumel, emangnya ada apaan sih?” tanya mama Yunji sambil membawa Semangkuk Sop hangat yang baru selesai dari kompor.


“hmmm ( mencium wangi Sop) enak banget wanginya ma”


“ha ha ha iya dong. Siapa coba yang buat? Ya mama lah” ucap mama Yunji menyombongkan diri.


Yunji bergegas ke kamar dan mengganti baju nya. Selepas membuka pintu kamar, ia memakai celana pendek di luar kamar. Sudah seperti biasa Yunji tidak malu berpakaian di luar.


“kamu (memantau orang dari luar) bukannya pakai celana di dalem kamar saja. Kalau ada yang lihat gimana?” ucap mama Yunji menatap marah Yunji.


“he he he maaf, aku udah keburu lapar”


“lapar? Bukannya tadi kamu ke Café? Kerja kelompok? Emangnya kamu tidak makan disana?” tanya mama keheranan.


.


.


.


.


.


Yunji terhentak dan terdiam. Ia masih kesal dengan kejadian tadi. Bagaimana bisa ia makan disana dengan suasana canggung? ditambah uang Yunji yang tidak cukup untuk membeli makanan disana. Ia merasa baru pertama kali menemukan Pria yang tidak Peka terhadap perutnya.


“hhmmm tadi, (terdiam) duit ku ketinggalan. Yaaaa duitku ketinggalan he he”


“ya sudah. Makan dulu sana, nanti mandi. Badan mu bau sapi” ucap mama meledek.


"issh mama jahat banget ucapannya. Nanti mama jadi sapi beneran lho"


"nih anak pinter nge ledek ya" ucap mama mengelitik Pinggang Yunji.


"ah mama (memegang tangan mama) geli tau!"


Ya begitulah keharmonisan keluarga Yunji. walaupun kadang serba kekurangan, tapi mereka menutupi kekurangan itu dengan canda tawa.


.


.


.


.


.


Bagaimana ini? Aku malu banget buat masuk kampus besok!


.


.


Mau dilupain juga susah, itu anak benar-benar keterlaluan!


.


.


.


Keesokan hari kemudian….


Yunji berangkat dengan membawa Donat Kacang Almond dimulutnya. Matanya tak bisa menghindar dari Handphone harta benda miliknya.


.


.


Sebelum sesampai di kampus, seperti biasa Yunji menyempatkan diri lari pagi, walaupun hanya sekedar berlari kecil. Tapi setidaknya agar ia terlindungi dari berbagai penyakit.


.


.


.


.


.


Sesampai di Kampus. Diriku disambut oleh Pak Taehoon selaku Dosen kampus ku. Badan ku sudah banyak mengeluarkan keringat. Bagaimana bisa diriku berhadapan dengan orang penting pada keadaan tidak memungkinkan seperti ini?


“Yunji” tegur Pak Taehoon.


“iya pak, selamat pagi. Ada apa ya pak, anda berkenan memanggil saya?”


“kemarin kamu belum membuat tugas?” tanya Pak Taehoon dengan serius.


“eh ( mengecek Hp) perasaan kemarin malam, saya sudah kirim ke Email bapa”


.


.


Oh my God! Bagaimana bisa? Padahal tadi jaringan di rumah ku sangat cepat. Tapi kenapa sampai sekarang belum sampai ke dia? Apa tadi aku lupa nyalain data seluler ya?


.


.


Perasaan udah aku nyalahin. Eh udah ke kirim kok, kenapa belum sampai ya? Aduuuuh aku panic banget sumpah! Si Jisoo belum datang lagi.


.


.


“Yunji” tegur Pak Taehoon.


“ya pak? Aduuh maaf pak, sudah saya kirim kok pak”


.


.


.


.


.


Yunji mengirimkan bukti bahwa ia sudah mengirimkan. Dilihat dari waktunya, Yunji berhasil mengirimkan pada kemarin malam pukul 20.00. Pak Taehoon kebingungan dan melihat kembali isi ponselnya.


.


.


Tugas Kelompok Yunji dengan Jisoo baru sampai sekarang. Pak Taehoon menyadari bahwa yang salah adalah ia karena ia lupa menyalakan data selulernya. Tetapi, karena keras kepala tidak ingin disalahkan. Pak Taehoon langsung pergi begitu saja tanpa berbicara apapun pada Yunji.


.


.


.


.


.


Kok pergi?


.


Apa jangan - jangan dia yang salah?


.


Aku yakin banget kok, udah kirim tugas itu ke dia


.


.


.


.


.


.


.


.


Waktu isitirahat pun dimulai. Anak anak di kelas Yunji bergegas keluar ruangan untuk pergi ke Kantin Kampus. Sedangkan, tiba – tiba saja Pak Taehoon memanggil Yunji dan Jisoo ke ruangannya.


.


.


Jisoo kaget, dan Yunji bingung karena ia merasa ia tak punya masalah padanya. Anak – anak yang masih di sekitaran kelas, berbisik membicarakan mereka berdua. Kondisi salah paham pun dimulai.


.


.


.


.


.


Sesampai di Ruangan Pak Taehoon….


“karena kalian telat mengirimkan tugas. Saya kasih kalian nilai B” ucap Pak Taehoon jutek sambil membenarkan dokumen yang ada di meja nya.


“apa? Telat kirim tugas? Bagaimana bisa?” tanya Jisoo panic.


Semua mata mengarah pada Yunji. Yunji pun kaget. Ia marah, karena mengapa tiba – tiba saja Pak Taehoon memojokkan ia. Padahal sudah dengan dikirimnya bukti Screenshot, Pak Taehoon masih bersikeras bahwa ia tidak bersalah.


.


.


.


“lagian siapa suruh, jaringan lemot” ucap Pak Taehoon meledek.


“Pak, saya yakin sekali jaringan saya tidak lemot. Ini lihat (memberi gambar Screenshot Tugas yang dikirim lewat Email). Di waktu tertera kemarin kok pak, pukul 20.00”


“iya pak, mungkin anda belum menyalakan data seluler atau mungkin jaringan anda” ucap Jisoo membela Yunji.


“ ya saya tidak peduli. Salah siapa kirimnya telat? Jaringan? Salah kalian lah yang tidak disiplin waktu. Lagian kamu tinggal dimana? Seperti di kampung saja jaringan internet tidak tersedia” ucap Pak Taehoon egois.


.


.


.


Mental Yunji menjadi Down. Ia tidak berani berbicara lagi. ia tidak berani membalas. Jisoo yang masih panik pun bingung ingin menyalahkan siapa. Yunji memang tinggal di daerah perumahan kecil, tetapi untuk jaringan belum tentu benar jika tidak tersedia. Yunji Down karena Perekonomiannya menjadi bahan ledekan.


.


.


.


.


.


Yunji membuka pintu untuk keluar ruangan Pak Taehoon. Jisoo yang mengikutinya di belakang langsung membuka pembicaraan.


“kamu yakin, ini bukan salah kamu?” tanya jisoo.


“(menoleh) yakin. kamu gak liat aku kasih bukti tadi? Pak Taehoon egois sekali. Padahal jelas – jelas ia yang bersalah. Tapi, mengapa gue yang disalahkan?”


“mungkin benar itu salah kau?” ucap Jisoo memojok Yunji untuk kedua kalinya.


.


.


.


.


.


.


“aku gak mau tau itu salah siapa? Pokoknya aku benar – benar gak iklas, nilai yang sudah kita kerjain bareng dapat B “ ucap Jisoo sambil mengacak – acak rambutnya.


Yunji masih diam, ia bingung. Pada kejadian ini tidak ada yang patut disalahkan. Ia merasa memang ini salah dirinya karena tinggal di Pemukiman sempit dan Kampung.


.


.


“tapi, aku bingung ini salah siapa. Aku gak bisa juga sepenuhnya membenarkan bahwa kamu benar. Apa benar kau tinggal di kampung? Sampai jaringan se lemot itu ngirim tugas?” tanya Jisoo yang membuat Yunji atas ucapannya.


Tetapi ketika mendengar pertanyaan Jisoo, ia naik darah.


“Berisik”


.


.


.


.


.


“eh?” tanya Jisoo bingung.


“Baru kali ini ngeliat orang, sibuk mencari kesalahan orang lain. kalau kamu gak tau rumah ku seperti apa dan dimana , gak usah asal ambil kesimpulan. Mentang – mentang Aku miskin dan ambil beasiswa disini, bisa – bisa nya kamu nginjek harga diri seseorang”


“maksudnya?” tanya jisoo yang heran dengan perubahan ekspresi Yunji begitu cepat.


“kalau Aku bener tinggal di kampung, emangnya kenapa? kamu gak suka punya teman anggota yang miskin? kamu jijik? Ah aku jijik berteman dengan rakyat jelata. Gitu!”


.


.


Orang – orang pada menatap mereka berdua bertengkar. Yunji dan Jisoo menjadi perbincangan hangat di kelas mereka. Orang – orang pada berbisik, bercerita asal tanpa mengetahui kebenarannya.


“yunji, maksudku bukan begitu” ucap jisoo yang langsung paham dengan situasi.


“sudah”


“ya?” tanya jisoo.


“Aku minta maaf (membungkuk) Maafin aku. karena aku, kamu mendapat nilai jelek”


.


.


.


Yunji langsung pergi dengan situasi itu dengan cepat. Sepertinya Yunji yang tiba – tiba saja berbicara sopan kepada Jisoo, niatnya ingin cari perhatian agar orang – orang membicarakan kejelekkannya.


.


.


Jisoo yang kaget dengan pernyataan Yunji, terdiam tidak berkata. Dalam pikiran Jisoo, terngiang – ngiang apakah ini semua salahnya?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#bersambung