OPPA ?

OPPA ?
Sebangku dengan Jisoo



Yunji menoleh ke arah meja Jisoo. Terlihat ia sedang sibuk bermain dengan Handphonenya. Sepertinya Jisoo sedang bermain Game Mobile Legend.


Yunji yang malu dan bingung apakah harus duduk disana atau tidak, terpaksa berdiam diri. Teman-temannya yang menempati duduknya, berbisik.


"ck kenapa harus begini?


.


.


.


Aku kesal sekali. Mereka membicarakanku. Aku tahu diriku aneh. Setidaknya berbicaralah di depan ku, Akan ku maklumkan dan akan aku perbaiki diriku ini.


Karena muak dengan orang-orang di belakang membicarakannya, Yunji memberanikan diri untuk berjalan menuju Meja Jisoo. Yunji memakai maskernya, dan ketika sampai Yunji duduk tanpa mengeluarkan kata apapun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ketika Yunji duduk, Jisoo baru menyadari bahwa yang duduk disampingnya adalah orang yang disukainya. Jisoo yang menyadari bahwa orang ini memakai masker untuk menyembunyikan identitas, Jisoo diam dan tak berkutik.


.


.


.


.


.


Selama pelajaran, Yunji memakai masker. Ia mengerjakan Jurnal penyesuaian yang diberi tugas oleh dosennya. Disaat mengerjakan, tiba tiba..


"Yunji" Terguran dari Dosen kepada Yunji.


"iya"


"kenapa kamu memakai masker di dalam ruangan?" tanya dosen dengan nada lembut.


"maaf bu, hari ini saya lagi sakit flu. Saya takut teman teman saya tertular"


"ouh gitu ya. Kamu perhatian sekali" ucap dosen dengan tertawa kecil.


"iya bu"


"ok, silahkan duduk" seru dosen mempersilahkan Yunji duduk sehabis berdiri.


"terima kasih bu"


.


.


.


.


.


.


.


Ketika Yunji duduk ditempatnya kembali, Suara lelaki dari samping tiba tiba terdengar..


"tidak usah kau tutup-tutupi. Aku sudah tahu semuanya" Ucap jisoo memandangi Jurnalnya sambil memegang kalkulator.


Dari sekian lama, aku menyembunyikan wajahku. Dudukku di belakang, tak mungkin juga ia menoleh ke belakang padahal ia fokus nge game. Bahkan Sampai pulang ke rumah, masker ini belum terlepas. Bagaimana bisa, ia tahu diriku siapa?


"maksudnya?"


"Yunji, namamu Yunji" ucap Jisoo menoleh sedikit ke hadapan Yunji.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pupil mata Yunji membesar, Hati berdetak tidak karuan, Yunji menatap lantai ruangan yang bersih tanpa kotoran, Ia masih berpikir dimana dan kapan ia bisa ketahuan.


"bagaimana kau tahu?"


"kau mantan teman SMP ku. Kau dulu pernah ingin dekat denganku, tapi saat itu aku amnesia dan aku mulai menjauh darimu" ucap Jisoo sambil berbisik.


*degh


"Aku juga, orang pertama yang menembakmu tetapi belum mendapat jawaban sampai sekarang" ucap jisoo.


*degh


.


.


.


.


.


.


"ya kalian semua, ngumpul sama kelompoknya. Anggota sudah ibu susun, di mading" Teriak bu Dosen sambil merapikan buku agendanya.


Yunji berjalan menuju mading. Akhirnya ia bisa memotong suasana menusuk itu. Bisa bisa nya Jisoo bilang seperti itu, padahal dulu Yunji sangat mengharapkan kehadirannya.


Aku berusaha tenang dan tidak menjawab soal pernyataan yang disampaikan jisoo. Berjalan menuju mading, sudah bersyukur bagiku. Hatiku tiba tiba berdetak kencang, karena mengetahui...


JISOO ANGGOTA KELOMPOK KU!


.


.


.


.


.


.


.


.


"ibu sudah membagikan menjadi 20 kelompok dengan 2 anggota. Tugas kalian adalah membuat Neraca lajur dan Laporan keuangannya. Serta surplus defisitnya" Ucap dosen sambil pergi meninggalkan ruangan Karena jam nya sudah berakhir.


Melihat Namaku dengan Jisoo atas bawah, membuatku berkeringat. Orang orang pada berdiskusi dengan anggota nya masing masing. Dalam sekian lama, jam kuliah pun berakhir.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yunji mengambil tas, hendak keluar dari ruangan. Tiba tiba saja, Jisoo mengikutinya dan menarik lengannya dari belakang.


"kenapa kamu pergi? kita aja belum berdiskusi" ucap jisoo menyipitkan mata.


"lepasin dulu"


"kalau ku lepaskan, nanti kamu kabur" ucap jisoo tidak percaya.


"iya. Lepasin dulu. Akan kujelaskan"


.


.


.


.


.


.


.


Pria berambut merah berkacamata datang. Ia memegang lengan Jisoo yang sedang menahan Yunji untuk pergi. Jisoo menatapnya, dan dibalas dengan tatapan sadis.


"lepasin tangan anak ini" ucap pria itu.


Terdengar suara teriakan dari teman Pria itu..


"kak senior?"


"hey, siapa juga yang berantem. Kan kita kenalan ya, ya kan?" Ucap kak Jihoon menatap sadis Jisoo dan tersenyum kepadaku.


Temannya membalas Ucapan Jihoon sambil membawa gitar di genggamannnya.


"ouh gitu ya. Ya sudah, Aku balik duluan ya. Bye"


.


.


.


.


.


.


"Yunji" ucap Jihoon lembut.


"iya, ada apa kak?"


"kok kamu tumben jarang ke perpustakaan?" ucap Jihoon dengan menarik Yunji pelan pelan menjauhi Jisoo.


"Tumben kakak bertanya seperti itu, aku kira kakak sinis dengan ku"


Jisoo menghampiriku


"maaf kak senior, kalau tidak ada yang perlu di omongin lagi dengan Yunji. Izinkan saya dengan Yunji berdiskusi. Kami ada tugas kelompok, bukan main main" Ucap Jisoo berbicara di belakang ku.


Ekspreksi Kak jihoon berubah menjadi mode serius. Ia tidak ingin emosional, tetapi juga tidak ingin menyakiti Yunji. Tapi, Karena mereka berkelompok, dengan terpaksa Jihoon mengurungi niatnya.


Jisoo menarik lengan Yunji menandakan bahwa mereka berdua harus berdiskusi. Jihoon yang melihat, memberi kode hati hati pada Jisoo. Yunji hanya menatap terbengong memahami maksud kakak seniornya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kita berdua duduk di bangku taman depan kampus. Aku sama sekali belum menelpon ayah ku untuk minta dijemput. Aku terdiam, tak bisa berkata kata disamping Jisoo yang sudah mengeluarkan bukunya.


"jadi, bagaimana cara mengerjakan neraca lajur?" tanya jisoo serius.


"mengapa kau tanya padaku? aku tak tahu apa apa"


"tak usah bohong. Kau lulusan SMK jurusan Akuntansi. Sangat lucu sekali bahwa kau tidak tahu neraca lajur. Padahal kelas 1 SMK, materi itu sudah ada di Kurikulum" Ucap Jisoo serius menatap Yunji.


"itu kau tau kurikulumnya, bagaimana kau bisa tak tahu neraca lajur?"


Ucapan Yunji membuat Jisoo tak berani bicara lagi. Semburat cahaya matahari menambah hening suasana. Jalanan mulai ramai, Orang lewat berlalu lalang. Mereka berdua terhening, hingga hembusan angin pun terdengar.


Tiba tiba saja, Jisoo turun dari bangku. Ia tunduk terhadap Yunji " tolong ajari aku" Ucapnya.


Lemas tangan Yunji yang tadi sempat gemetaran. Tingkah Laku Jisoo membuat luluh hatinya. Yunji terlalu malu mengungkapkan dan hatinya berdegup kencang.


"ya sudah, aku akan mengajari mu"


Jisoo bangun dari tunduknya "benarkah? kau serius?"


"(tersenyum) benar, aku serius"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"dek, kok tumben kamu pulang telat" Ucap mamaku yang sedang sibuk bermain Sudoku di Handphone nya.


"maaf ma, Ada tugas yang harus ku kerjakan bersama teman baru ku"


"teman baru? akhirnya kau punya teman juga ya" Ucap mamaku.


Yunji terpaksa tertawa " ha ha ha"


Menaruh Tas dengan kencang diatas kasur hingga berbunyi. Mencari cermin untuk mengaca diri. Tiba tiba Yunji tersipu malu. Entah dia guling gulingan di atas kasur.


Kenapa diriku hari ini senang sekali. Padahal sudah tujuanku untuk Move on darinya. Tapi, mengapa hati ini tak berhenti terus membicarakannya.


1 jam yang lalu...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"aku tahu kau benci padaku, jadi tolong maafkan aku" ucap jisoo menunduk.


"tidak semudah itu. Kau kira aku kucing, yang sekali diberi makan, langsung menuruti majikannya"


*hening


" ya sudah, besok aku traktir kamu" ucap jisoo sambil menaikkan tas ke punggungnya.


"hah? kau menyuapku?"


"sekalian saja kita berdiskusi disana. Akan ku beritahu nanti tempatnya" Ucap jisoo meninggalkan Yunji.


.


.


.


.


Apakah ini kencan?


.


.


Apakah ini hanya berkumpul membahas tugas?


.


.


Apakah aku yang terlalu percaya diri?