
"Yunji, dia amnesia! kamu gak tahu?" ucap Seorin ketua kelas begitu juga teman Yunji.
Duar! Suara retak di Hati pun terdengar. Percayalah, baru kali ini Yunji merasakan Sakit Hati. Belum menjadi kekasih, tapi sudah menangis rintih. Andai saja waktu bisa diulang, begitu harapannya.
.
.
.
"aku gak tahu"
"aisssshh udah lama tahu.... eh gak deh. kayaknya baru seminggu yang lalu" Ucap Seorin menjelaskan.
.
.
.
Begitu mendengar penjelasan Seorin, Hatiku tak sanggup berkata kata. Padahal kita baru bertemu, sekarang sudah menjadi jauh. Dia Sudah pindah.
Aku berusaha dekat dengannya. Tapi apa daya, ingatannya belum terbuka. Andai Aku bisa meneriakkan di telinganya, sambil Meneriakkan "Aku mau jadi pacarmu"
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku menuangkan 3 sendok gula sekaligus beserta Buah Leci yang sudah dikupas ke dalam gelas plastik medium size di hadapanku.
Lantas mengaduknya perlahan-lahan hingga sempurna bercampur dengan aroma teh yang menyengat. Jam di dinding masih menunjukkan pukul 6.15. Memang masih terlalu pagi, untuk memikirkan Kenangan masa lalu.
"hmmm asem"
Yunji kaget dengan teh buatannya. Asem Leci itu membuat dirinya mendapat kesialan. Ternyata, ia salah memilih buah Leci. Yang masih muda, ia ambil. Yang sudah matang , ia diamkan di dalam kulkas menunggu matang.
"ampun dah. malu maluin aku nih"
Yunji merusak citra Rambutnya dengan mengacak - acak kekesalan. Ia baru menyadari, mengapa dirinya harus 1 universitas dengan pria amnesia itu? ia sangat menyesal ketika mereka berpapasan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.....
Bel istirahat kampus pun dimulai, Aku menaruh semua barang barangku di tas. Aku mengambil tempat makan dan membawanya ke kantin.
Pandangan menjijikkan dari orang orang terhadapku. Terpikirkan sekali kalimat "sudah cacat, sombong, anak manja lagi". Apa, aku yang terlalu berlebihan?
.
.
.
Yunji duduk sendirian hari ini. Sahabat SMP nya tidak hadir menemaninya. Mungkin sibuk bermain teman sejurusannya. Yunji memandangi sekitaran Kantin dan berharap Jisoo tidak menghampirinya.
.
Yunji pun membuka tempat makan. Di kantin sudah tersedia, makanan gratis untuk para mahasiswa. Biasanya mahasiswa yang piket yang menjaga Makanan itu. Ketika Yunji siap menyantap, tiba tiba...
"ya maaf , makanan nya habis"
"tapi aku hanya mendapat setengah porsi"
"maaf sekali lagi, kami sangat minta maaf"
Melihat hal itu Yunji berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya. Sendok yang berisi Nasi serta Bulgogi diatasnya, terhentikan oleh Yunji disebabkan Rasa kasihan yang menggebu-gebu.
.
.
ingin memberi pertolongan, tapi apa daya. Yunji sangat Introvert. Teriak di depan umum pun, bakal malu dan di ingat oleh nya seumur hidup. Tapi keseriusan Yunji ini, membuat semangat Pahlawan kesiangannya membara.
.
.
Yunji berdiri dan menghampiri orang yang kehabisan makanan itu "maaf, aku masih ada sedikit makanan untuk mu. Kamu mau?"
Orang itu menatapku tertegun dan bingung. Di Korea Hal berbagi itu sangat jarang sekali. Bisa karena ia pelit, Gengsi, atau Karena tidak peduli.
"bolehkah?"
Yunji dengan semangat menjawab "boleh kok, karena makanan ini terlalu banyak bagiku. Oh ya, sekalian kita duduk bareng ya, aku takut makanan ini berceceran mengotori lantai, kalau membagikannya sambil berdiri"
.
.
.
.
.
Yunji memberikan nasi serta bulgogi dengan dibagi setengah. Pria berambut kuning itu sangat bahagia. Mereka berdua pun makan. Pria yang baru saja dikasih makanan gratis oleh Yunji pun menatap Yunji keheranan. Ia merasa, dirinya pernah kenal dengan orang ini.
"maaf, apakah namamu Yunji?"
*gleek
Kegugupan Yunji membuat ia keselek, Pria itu langsung membantu ia dengan menepuk punggung belakang untuk memudahkannya menelan makanan.
"kamu tidak apa apa?" ucap pria berambut kuning itu yang baru saja yujin bantu.
" ohok ohok (batuk), aku tidak apa apa"
Yunji memberhentikan batuknya dengan memukul dadanya menandakan ia tidak ingin sesak dan melanjutkan omongannya "maaf mengagetkan mu, aku sungguh minta maaf"
"tidak, tidak, justru aku yang seharusnya minta maaf"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
5 menit kemudian.....
Wajah Pria berambut kuning itu sepertinya tidak asing. Aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Tapi dimana ya?
"kenapa?" Tanya pria itu sambil memiringkan kepalanya.
"nghh maaf. sepertinya aku mengenal mu"
" ccck ha ha ha" tawa kecil pria itu sambil menutup mulut.
Yunji menghentikkan sendok dari mulutnya untuk kedua kali nya. "kenapa?"
"kita memang sudah pernah kenalan dulu. Ingat?" tanya dia.
"tidak. Tidak sama sekali"
Pria itu membenarkan tempat duduknya serta mengambil posisi. "aiiish itu lho. Anak culun yang di bully di tempat magang" ucapnya tersenyum sambil menopang dagu.
*blussshh
Ucapan pria berambut kuning itu membuat Yunji malu tak berani menatap. Hampir saja terbengong lama, Yunji langsung mengalihkan perhatiannya ke makanannya.
"oh Baekhyun, si Marmut kan?"
"aisssh" ucapan kesal Baekhyun membuat Yunji tertawa.
"maaf maaf, aku masih teringat panggilan mu dari tukang bully itu"
"jangan kau sebut lagi nama itu!" bentak Baekhyun dengan merautkan wajah.
.
.
.
Yunji menunduk sambil memainkan benang celananya yang terurai. Yunji menunjukkan ekspresi menyesal, permohonan maaf, dan wajah tak ingin mengulangi perkataanya tadi.
"aku minta maaf, aku hanya bercanda. Bukan bermaksud membuat kau ingat kejadian itu. Maafkan aku"
Raut wajah Baekhyun berubah drastis. Tadinya serius menjadi sedikit tersenyum.
"ha ha ha aku hanya bercanda tadi. Jangan dibawa serius, ha ha ha ha lucu sekali" ucap baekhyun mengocok perut.
"kau kira ini lucu?"
*hening
"maafkan aku" ucap baekhyun yang langsung menghentikan tawanya.
"ha ha ha aku juga bercanda kok"
Raut wajah Baekhyun yang tadinya menyesal, menjadi terpaksa memasang ekspresi tertawa " oh kau bercanda ya ha ha"
Ya setidaknya mereka menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu lama juga diriku berbincang dengan Baekhyun. Sudah lama juga tidak bertemu dengannya. Masih ada dibenakku bahwa dulu ia, culun dan lemah. Setelah dilihat lihat lagi, ternyata Ia lelaki yang Gentleman.
Sudah memasuki jam pelajaran, saatnya aku kembali ke kelas. Berjalan santai dan berharap aku duduk ditempat dudukku dan membuka Hp ku.
Begitu sampai di kelas, Yang ku harapkan malah berbeda. Harapan yang berujung kebencian.
"Yunji aku duduk di tempat mu ya, soalnya aku mau berbincang dengan mereka" ucap temanku yang tidak begitu kukenal namanya.
"Kenapa? kau berbincangnya bisa lain kali"
"hah? aku kan sekelompok dengan mereka, kau tidak suka?" ucapnya sambil memasang ekspresi jijik.
"oh ya sudah"
.
.
.
Yunji mengambil tasnya. Yunji ditegur oleh teman sebelahnya bahwa kelompok Tugas Jurnal sudah di atur oleh Dosen, dan nama anggotanya ada di depan papan Mading Kelasnya.
.
.
.
Yunji memasang wajah datar "kalau boleh tahu, aku duduk dimana ya?"
"itu, disebelah Ji soo" Ucap nya sambil menunjukkan meja Jisoo.
*degh
"Jisoo?"
"iya Jisoo" balasnya.
.
.
.
KENAPA HARUS BEGINI?!?!?!
.
.
.
#bersambung