
“Yunji-ya, kamu sudah bangun?” tanya Yuju sehabis mengucek matanya dan mengulet.
“Yuju? Iya aku sudah bangun”
“bagaimana? oh ya, maafkan perlakuan Yoa ya. Apa kau tidur nyenyak hari ini?” tanya Yuju sambil berjalan menuju kamar mandi.
“nyenyak kok. Bagaimana dengan Yoa?”
“Yoa? Dia nyenyak sekali. Bahkan sekarang ia belum bangun. Hufftt dasar kukang” ucap Yuju.
“pffft kukang”
“kenapa ketawa? Emang ia selalu seperti itu. Aku bahkan kesal dengannya, karena sering tertidur di kampus. Aku yang ditegur sama dosen, karena kata Dosen aku sahabat yang tidak peduli” ucap Yuju geram.
“sabar”
“oh iya, maafkan Yoa ya. Baru kali ini, aku melihat Yoa dengan ekspresi seperti itu” ucap Yuju.
“iya tidak apa – apa. Kau sudah mengucapkan kalimat itu barusan. Mungkin Yoa seperti itu, karena aku teman baru baginya”
“tidak mungkin. Kita kan sudah berteman sejak lama. Sejak kapan ya? Aduuh aku lupa hi hi hi” ucap Yuju menggaruk kepalanya.
“hmmm iya tidak apa – apa, aku juga lupa ha ha ha ha ha”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
3 jam yang lalu...
Waktu Jam masih menunjukan Pukul Pagi hari. Yoa dan Yuju belum bangun kecuali Jihoon dan Yunji. Sebelumnya, suasana Ruang Tamu sangatlah hening dan canggung. Dalam keheningan itu, Tiba – tiba saja Jihoon buka suara.
“aku tidak tahu dia kenapa bisa begitu. Sejak Dia mengenal seorang pria dan berpacaran. Ketika mereka putus, sifatnya yang awal periang menjadi pemurung” ucap Jihoon.
“oh begitu ya"
“sudah kena Bully di Sekolah, Gurunya membencinya, sampai Surat Pengunduran diri pun akhirnya dibuat” ucap Jihoon dengan nada yang berat.
“hmm. Sabar ya"
“tolong jaga hubungan pertemanan kalian ya” ucap Jihoon menoleh ke Yunji sambil tersenyum.
“hmm?”
“aku ingin melihat wajah periangnya serta senyum manisnya itu. Kangen sekali....” ucap Jihoon sambil tersenyum melihat ke arah atap.
“baik, akan ku laksanakan"
Lalu Jisoo pun tersenyum dan kembali menonton Pertandingan yang ia tunggu - tunggu.
Sebenarnya aku tidak ingin tahu kenapa Yoa sifatnya bisa begitu. Tapi, kenapa lama – lama aku tambah penasaran ya? Ah tidak usah pedulikan. Itu kan masalah dia. Ngapain aku ikut campur?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Yunji – ya” ucap Yoa sambil tersenyum.
“Yoa? Sudah bangun?”
“iya sudah, daritadi malah. By the way, kalian berdua habis ngapain?” ucapnya menunjuk Yunji dan Yuju sambil menggarukkan kepala.
“Yoa! Tolong ambilin Handphone kakak di kamar!” teriak Jihoon dari lantai bawah.
“aishhhh si br*ngs*k itu menyusahkan sekali. Iya Sabaaaar!” teriak Yoa membalas permintaan Jihoon.
Yoa pergi keluar kamar mandi meninggalkan Yunji dan Yuju di dalamnya. Sepertinya ia sedang mengambilkan Handphone Jihoon. Ketika Yunji keluar kamar mandi, tiba – tiba saja Yoa datang dengan ekspresi menahan sesuatu.
“Yunji – ya, mau bantu aku? Tolong? Aku sangat kebelet” ucap Yoa menusuk perutnya seperti sedang menahan sesuatu.
“ba bantu apa?”
“ok”
“oh ya kalau dia gak ada di ruang tamu, cari saja di tepi Kolam renang” ucap Yoa berteriak di belakang pintu kamar mandi.
Yunji pun langsung ke bawah untuk mengantarkan Handphone milik kakak Yoa itu. Walaupun Rumah ini masih terbilang besar, Yunji kadang tersesat. Sebelumnya Yunji bahkan membutuhkan waktu 15 menit, untuk mencari kamar mandi lantai bawah.
.
Rumah Yoa mungkin sudah dijadikan tempat hiburan, karena Rumahnya seperti Maze di Film The Maze Runner.
.
.
.
15 menit kemudian...
“jihoon dimana ya?”
Aku mencari dengan mengelilingi Rumah Yoa, hanya untuk mencari pintu menuju Kolam renang, tetapi tidak ketemu. Jihoon yang mengesalkan itu, kenapa tidak berteriak lagi? Agar aku bisa menebak keberadaannya.
Berputar – putar, mencari jalan, melewati tempat yang sama aja, aku ini benar – benar buruk dalam menghafal suatu tempat.
Tunggu, itu ada orang di luar. Dia sedang duduk sih, apa itu Jihoon? Aku takut salah orang.
“permisi, Jihoon Sunbaenim”
“lama banget sih, aku keburu lumutan nungguin kamu doang!” bentak Jihoon yang dimana wajahnya tidak melihat Yunji.
“eh?”
“mana sini!” ucap Jihoon mengambil Handphone nya di tangan Yunji.
“maaf kalau saya lama, daritadi saya kesasar”
“omong kosong! Aku sudah tau alasan mu sayang. Eh? Yunji?” ucap Jihoon langsung membuka matanya dari Masker Timun melihat Yunji yang tengah menunduk.
“maafkan saya sekali lagi”
“tunggu! Jangan pergi. Yunji-ya...” ucap Jihoon memegang lengan Yunji yang tadi berniat pergi meninggalkannya.
“kenapa? Ada yang bisa saya bantu?”
“aiiishhh jangan lah bersikap layaknya pembantu. Maafkan aku, aku kira kau Yoa. Maafin aku ya he he” ucap Jihoon sambil tersenyum ceria.
“ha ha iya tidak apa – apa”
“kau bodoh atau apa sih? Mau saja dimanfaatkan sama adikku. Kau beneran mau jadi Pembantu di rumah ini?” tanya Jihoon dengan ekspresi serius.
“oh enggak kok”
/Cepat sekali berubahnya. Baru saja dia menampilkan Wajah kucingnya padaku pertanyaannya benar – benar tidak di cerna. Apa dia makan T*i tiap hari?
“aishh, lain kali kalau disuruh jangan mau” ucap Jihoon dengan ekspresi aneh.
“iya. Tadi Yoa menyuruhku untuk memberimu Handphone, karena dia kebelet BAB”
“aiiissh begitu toh? Aku kira dia sengaja memanfaatkan mu” ucap Jihoon kesal dengan adiknya.
“maaf, lain kali jangan berprasangka buruk dulu dengan adik perempuan mu. Takutnya hubungan kalian makin retak, karena kesalahpahaman”
“Emang tiap hari aku tidak pernah akur dengannya” ucap Jihoon sambil menutupkan matanya lagi dengan masker Timun.
“Kalian seperti Tom and jerry”
“bukan. Hubungan kami Seperti kucing dan tikus” ucap jihoon.
“oh begitu ya”
/kan itu sama aja bambang! Kayaknya benar dia habis makan T*i untuk cemilan pengganjal lapar. Dia sangat keras kepala, aku turut berduka kalau ada yang mau jadi Istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunji kembali ke kamar untuk menemui Yuju dan Yoa. Baru ketika ingin membuka pintu, tiba tiba...
“kau seharusnya jangan memanfaatkannya. Dia orang yang baik tau” ucap Yuju.
“terus? Apa kau lihat diriku punya wajah peduli?” ucap Yoa.
“dia kan sudah lama berteman dengan kita” Ucap Yuju.
“seharusnya kamu bersyukur, Masih beruntung kamu jadi sahabatku” ucap Yoa.
“apa? Anak ini!” ucap Yuju yang sepertinya geram.
“lebih baik kau jangan ikut campur dengan urusan ku. Aku memanfaatkan dia, karena ada tujuan lain” ucap Yoa.
“tujuan apa? Tujuan apa coba! Aiishh anak ini” ucap Yuju makin geram.
“lihat saja nanti, akan kujadikan dia sahabat yang berguna” ucap Yoa.
( ........... )
Yoa membicarakanku? Ternyata dia memanfaatkanku. Tapi, sepertinya dia memanfaatkan ku dengan tujuan yang baik. Aku Yakin itu.
Soalnya dari perkataannya, dia akan menjadikanku sahabat yang berguna. Waaah senang banget. Perasaan apa lagi ini? Baru kali ini kehadiranku masih dianggap.
#bersambung.