OPPA ?

OPPA ?
Cinta Pertama



"maukah kau menjadi pacarku?"


Ucap salah satu lelaki berambut hitam yang spontan ngomong langsung padaku. Bagaimana ia bisa tahu, kalau aku sering pulang lewat gang ini. Apalagi keadaan sepi, bisa bisanya ia menembakku.


"hmm"


"bagaimana?" ucap lelaki itu dengan senyuman manisnya.


Yunji bingung harus menjawab apa. Secara fakta, ia tidak mengenal orang ini sama sekali. Tiba tiba ia mengungkapkan perasaannya. Sedangkan, Yunji sedang menyukai seseorang di salah satu kelasnya.


Lelaki ini sepertinya dari kelas sebelah. Karena Yunji merasa tak asing dengan wajahnya. Karena lelaki itu memasang wajah manisnya, yang dimana membuat Yujin tak kuat memandang keimutan wajah itu.


"hmm ini terlalu dadakan"


"oh, aku paham. Kamu menolakku" ucap lelaki itu sambil menunduk ke bawah.


"eh? bukan itu maksudku"


.


.


.


.


.


.


Lelaki ini membalikkan badannya karena ia merasa kecewa. Terlihat sekali ia merasa malu dan menyesal. karena Yunji masih meniliki hati yang baik, Yunji pun bertindak.


"tunggu dulu! aku belum jawab apapun"


(menoleh)


"maksudku, kamu tunggu aja dulu. Kapan kapan bakal aku kasih tau jawabannya"


"lebih baik aku menerima penolakkan daripada di gantungin" Ucap lelaki itu sambil melanjutkan jalannya.


"enggak ih serius. Kamu tunggu aja ya"


Dengan ucapan imut Yunji yang seperti itu, semangat Lelaki ini membara. Awan mendung Kekecewaan berubah menjadi Awan kebahagiaan. Suasana serta cuaca berubah secara drastis.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Barukali ini aku merasakan adanya perjuangan dari seorang lelaki. Biarpun ia tidak terlalu tampan, tapi setidaknya ia berani mengungkapkannya padaku.


Kapan ya bakal aku kasih jawabannya?


Besok?


Lusa?


Minggu depan?


Lebih baik jangan lama lama, Pasti dia akan menunggu.


Menunggu kan lelah.


Keesokan harinya...


.


.


.


.


"yunji" ucap salah satu dari teman perempuanku yang duduknya berada tepat di depan ku.


"iya?"


"kamu udah denger belum? berita yang lagi hot saat ini" ucap dia sambil memasang muka was was.


"apa ya? belum denger tuh"


"Ada anak dari kelas sebelah yang kecelakaan" ucap temanku.


"kelas sebelah? siapa?"


"Hmm seingatku namanya Jisoo. Dia Pria. Anaknya periang setau aku" ucap temanku sambil berpikir.


"periang? pria?"


"iya. Katanya ia kecelakaan di Jalan dekat Lotte Mart" ucap temanku.


*Degh


Hatiku kaget, kenapa?


Lokasi itu persis yang dimana aku ditembak oleh seseorang.


Dimana aku melewati LotteMart dan tiba tiba ada Seorang anak cowo dari kelas sebelah, mengungkapkannya padaku. Apa itu dia?


.


.


.


"Yunji"


"iya"


*Yunji kaget dengan panggilan teman sebangkunya itu. Ia khawatir dengan keadaan lelaki pujaan hatinya. Tadinya ingin memberi jawaban nanti sepulang sekolah, Malah mendapat Kabar buruk.


.


Yunji tak bisa berkata kata karena ia takut, ini salahnya. Seharusnya ia langsung memberi jawaban "Ya" saat itu. Tapi karena gugup, ia tidak mampu menjawab. Ia sangat menyesal.


.


Yunji ingin sekali merasakan indahnya Berpacaran*.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Seminggu kemudian....


Aku sudah menemukan anak laki itu. Ia yang minggu lalu menembakku. Apakah ia sudah sembuh? aiiih aku sudah tidak sabar untuk memberi jawaban.


*Yunji menghampiri Jisoo yang sedang duduk terdiam. Jisoo sedang makan masakan ibunya. Terlihat sekali ia sangat menikmati masakan ibunya.


.


Yunji menyiapkan Jiwa, Raga, dan Dahaga untuk berbicara kepada jisoo ini. Ia sudah menyiapkan kalimat pertama untuk mengajaknya bicara yaitu mengenai kesehatannya.


.


Terakhir, Yunji akan mengatakan jawaban untuk anak lelaki polos itu. Yunji tidak sabar dengan reaksi anak itu*.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"halo jisoo. Bagaimana keadaanmu?"


Jisoo kaget dan mengangguk jawaban Yunji tanpa berbicara sekalipun.


"baik ya, ada yang ingin aku bicarakan padamu"


Jisoo menatap Yunji dengan Wajah keheranan. Yunji memasang Wajah gembiranya untuk mengeluarkan jawaban itu dan akhirnya...


"aku menerima permintaanmu"


"eh? permintaan apa? aku tidak pernah meminta apapun darimu" ucap jisoo dengan lantang.


"eh? Kamu tidak ingat? Aku menerima permintaanmu. Waktu itu kan, kau pernah menembakku. Jadi ku jawab sekarang"


"maksudnya?" ucap jisoo sambil menutup makanannya.


"maksudnya ya sekarang kita berpacaran"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yunji berkata "Berpacaran" dengan nada lembut menandakan ia sangat senang dengan keputusannya itu. Yunji berpikir, Jomblo ia akan hilang untuk hari ini. Ia tak berpikir, Bahwa pujaan hatinya sudah berubah pikirannya.


"berpacaran?" ucap jisoo menelan makanan yang dikunyahnya secara cepat.


"iya berpacaran"


"tunggu dulu" ucap jisok.


Jisoo memberikan tanda untuk Yunji berhenti bicara, karena ia ingin minum. Jisoo membuka botol air putihnya dan langsung minum 7 teguk sambil melihat Yunji yang tersenyum di depannya.


"maaf" ucap jisoo.


"iya?"


"kamu siapa?" tanya Jisoo menaikkan alis matanya.


*Degh


Apa?!?!


Kamu siapa?!?!


Dia tidak ingat aku?!?!


*Tiba tiba ada salah satu dari temannya jisoo datang kepada Yunji. Ia menepuk pundak Yunji dan mengatakan Bahwa Jisoo mengalami Amnesia. Ajaibnya, Jisoo tidak melupakan pelajarannya. Tetapi, ia melupakan orang terkasihnya.


.


Yunji yang melihat Jisoo sudah pergi dari hadapannya,langsung mengeluarkan setetes air mata. Baru kali ini ia merasakan malu yang luar biasa karena ditolak seseorang. Seumur hidup, Ia baru mengalami patah hati yang benar benar serius gejalanya*.


.


.


.


.


.


.


Aku ditolak?


Aku berusaha menahan air mataku. Tapi tidak bisa. Mengapa ia lupa padaku. Sudah berusaha menunggu ia datang ke sekolah. Tetapi, ia mengecewakanku.


Yunji pulang sekolah dengan keadaan basah karena terurai air mata. Andai saja ia diam saja saat itu, mungkin hal memalukan ini tidak akan terjadi.


.


.


.


.


.


"jisoo pindah sekolah?"


Banyak sekali temanku membicarakan jisoo anak dari kelas sebelah. Aku sudah lelah dan tidak ingin bertemu dengannya lagi.


"Jisoo kapan pindah sekolah?"


"besok"


.


.


.


.


.


ketika diriku mendengar Jisoo akan pindah besok. Aku merasakan perasaan yang berkecamuk. Perasaan lega untuk menaikkan harga diriku kembali, dan perasaan kecewa tak bertemu dengannya lagi.


Yunji Menyerah dengan urusan percintaannya. Ia tidak ingin lagi yang namanya berpacaran. Ia tidak ingin lagi menjawab "Iya" dari seorang lelaki yang menembaknya. Ia benar benar benci situasi ini.


.


.


.


Berkat pengalaman, Banyak pelajaran yang ia dapat. Ia sudah menolak 7 pria yang menembaknya ketika ia SMK. Yunji merasa waktu terbuang sia sia ketika berpacaran. Alangkah baiknya jika berteman saja.


.


.


.


Ia tidak tahu. Bahwa pujaan hatinya dulu, mengalami Amnesia kecil. Otomatis dalam waktu 2 tahun kemudian, ia mengingat semua yang terjadi padanya. Sesudah ia berpindah dari sekolah lamanya tersebut.


.


.


.


Bersambung....