
*Knock knock knock
Terdengar suara hentakan kaki yang tidak begitu keras. Seperti nya Seseorang datang. Tiba Tiba saja ada yang membuka pintu dari arah dalam Rumah Yoa. Namun dikagetkan dengan, Jihoon yang tidak memakai baju.
“kyaaaaa ! ! ! ”
“huwaaaaa” teriak Jihoon sambil menutupi badanya.
“eh?”
“eh?” ucap Jihoon.
“kau kenapa tidak pakai baju hah?”
“oh maaf, aku habis nge – gym. Aku kira kau orang tua ku” ucap Jihoon malu – malu dengan menutupi bagian dada nya.
“kakak, siapa diluar?” tanya Yoa dari dalam.
“oh, Yoa. Ini teman kamu nih, Yunji” ucap Jihoon masuk ke dalam mengambil baju.
“oh Yunji, silahkan masuk” ucap Yoa.
Ketika memasuki Rumah Yoa, aku benar - benar terpana dengan suasana rumahnya. Lantai dari keramik dengan motif rumput, Wallpaper taman pada dinding rumah, Ada beberapa hiasan pohon dengan buahnya. Ruangan di Rumah Yoa, layaknya seperti Hutan Hidup di dalam Rumah.
Aku baru menyadari, Ia benar - benar anak Konglomerat. Tapi, apa aku pantas menginap disini?
*knock knock knock
“Yuju, kamu datang” ucap Yoa menyambut hangat kedatangan Yuju.
Yuju membuka pintu, melepas mantelnya, dan menaruh di Patung dengan Tongkat Kayu. Yunji bingung, kenapa Patung sebagus itu dijadikan Sanggahan pakaian.
10 menit sebelumnya. Disaat Yunji dan Yoa berada di dalam satu ruangan, tak satupun dari mereka mengeluarkan kalimat. Suasana disitu sangatlah canggung. Sepertinya Yunji masih kaku dengan Yoa. Begitu pun dengan Yoa yang sepertinya membutuhkan Yuju sebagai Teman Bicaranya.
“Yunji? Kamu cepat sekali datangnya” ucap Yuju dengan tersenyum ceria.
“ha ha ha iya”
Aduuuh mengapa jawabanku Cringe banget sih. Makin tambah canggung kan suasananya.
PUKUL 10.00
“yunji, kamu mau tidur dimana?” tanya Yoa.
“aku tidur dimana saja he he”
“ya sudah kita tidur bertiga saja di kasur mu, Yoa” ucap Yuju.
“tidak bisa, kan kasur ku hanya cukup untuk 2 orang” ucap Yoa mengelak.
(semua terdiam)
Yunji terdiam. Yuju mengeluarkan ekspresi bingung. Yunji memikirkan, apa yang harus dilakukannya. Apakah ia harus iklas di usir untuk tidur di tempat lain. Yunji merasa, Yoa tidak mungkin sejahat itu.
“tapi kan, badan Yunji kecil. Badan - badan kita juga kurus kan. Cukup kok aku yakin” ucap Yuju mencairkan suasana.
“kalau sempit gimana? Kamu mau tanggung jawab? Kayak kamu gak tau aja tidur kamu seribet apa!” ucap Yoa dengan sifat keras kepala.
“Isssh nih anak..” ucap Yuju.
“ya sudah, engga apa – apa. Aku tidurnya berpisah dari kalian. Btw aku tidur dimana nanti?”
“eh?” tanya Yoa.
“engga apa – apa? Kamu yakin?” tanya Yuju.
“Aku sih bisa tidur dimana saja. ngomong – ngomong apa aku boleh tidur di Sofa yang berada di Ruang tamu rumah mu”
Perasaan aku menginap disini, seperti menginap di kolong jembatan. Teman – temanku, layaknya orang asing kaya raya hanya menumpang lewat melewati diriku yang menderita di bawah. Aku benar – benar asing disini. Ditambah Yoa, sepertinya ia tidak menyukaiku.
Aku sih Tidak apa apa aku tidur di Sofa, yang penting aku punya Selimut. Aku bisa tidur nyenyak tanpa di gigit nyamuk. Tapi, Sofanya tidak beralas. Lampu Dimatikan. Aku sendirian. Bagaimana bisa aku tidur nyenyak disini?
5 jam kemudian...
“hoaaahmmm. Aduuuh ada makanan kecil gak ya?” tanya Jihoon yang berjalan mabuk karena sehabis bangun tidur menuju Kulkas di dapur.
Jihoon menyalakan Lampu ruangan. Ia tidak menyadari ada Yunji yang tertidur di atas Sofa. Jihoon mengambil coklat serta Kue Tart di Kulkas. Setelah menutup kulkas, ia melihat Sofa yang berada di Ruang Tamu dari belakang.
“aku makan disana saja deh. Tapi, sepertinya para perempuan diatas sedang tidur nyenyak. Lebih baik Aku menonton pertandingan sepak bola saja mengisi kegabutan” ucap Jihoon yang jalannya kembali sadar serta membawa piring berisi cemilannya.
Tak lama kemudian...
“kaget aku! Aissh siapa coba yang tidur disini” ucap Jihoon.
Jihoon mencari saklar lampu Ruang tamu yang kedua, pada Lampu pertama tidak menerangi bagian Ruang Tamu melainkan Dapur. Saklar Lampu kedua letaknya tidak jauh dari arah dapur. Lalu Jihoon dengan cepat kembali ke Sofa untuk melihat.
“Yunji?” ucap Jihoon.
10 menit kemudian..
“bagaimana bisa ia tidur disitu? Apa ia tidak kedinginan? Dia menggunakan selimutnya sebagai Spring bed, tapi tubuhnya tidak diberi selimut. Apa dia tidak tahu disini sangat banyak nyamuk” ucap Jihoon membicarakan Yunji bersuara pelan dengan nada jengkel.
Sebelumnya Jihoon mengambilkan selimut dirinya untuk menutupi badan Yunji. Ia benar – benar khawatir terhadap Yunji yang tertidur disitu selama 5 jam.
Padahal, Jihoon adalah tipe orang yang tidak nyaman tidur di tempat lain kecuali kasur empuk.
“anak itu, dia tidak pandai berteman. Dari kecil, ia hanya bermain dengan satu orang. Bahkan ia menganggap teman yang dekat dengannya sebagai buangan. Sifat nya sungguh keterlaluan. Apa Yunji kuat dengan anak cengeng seperti itu?” ucap Jihoon bersuara pelan kedua kalinya dengan nada menyindir.
1 jam kemudian...
Yunji membuka kedua matanya. Matanya benar – benar berair, tubuhnya menjadi hangat dan sehat. Ia benar – benar bugar untuk menjalankan kehidupannya di pagi hari.
Tetapi, ia merasakan sesuatu yang aneh. Itu seperti ada kehadiran seseorang di samping badannya.
“kyaa!”
“kaget aku. Aissh kaget dua kali” ucap jihoon menyentuh dadanya.
“jihoon sunbae? Kamu ngapain disini?”
“sedang nonton TV, emangnya kenapa? Ini kan rumahku, wajar aku disini” ucap Jihoon menyombongkan diri.
Cih! Sombong sekali! Kenapa dia tiba – tiba berada di depanku. Jantungku terasa copot. Sombong sekali dia. Sifatnya di rumah dengan di kampus benar – benar beda 180 derajat. Apa ia robot yang perlu di Charge agar sifat sengkleknya kembali? Disini ia begitu dingin.
“kamu mau saja ya disuruh tidur di sofa” ucap Jihoon pandangannya ke TV.
“hah?”
Jihoon langsung bangun dari tempat duduknya. Yunji seperti terkacangi. Walaupun keadaan langit di luar masih gelap karena mulai memasuki pagi hari, Yunji ingin cepat balik ke Rumah karena sudah tidak betah.
Tak lama kemudian, Jihoon datang membawakan Yunji secangkir Teh hangat serta Kue Tart Coklat Tiramissu sebesar 2 potong.
Jihoon menyediakan itu semua untuk Yunji, di hidangkan di atas meja depan Yunji.
“nih sarapan dulu. Jangan sampai kau sakit, karena kelaparan” ucap Jihoon begitu Dingin.
“terima kasih”
“maafkan adikku ya” ucap Jihoon.
“hmm, iya tidak apa – apa”
“sejak skandal itu, dia jarang dekat dengan seseorang. Bahkan orang yang mendekatinya, berujung pemanfaatan” ucap Jihoon menatap Layar TV dengan tatapa kosong.
“skandal?”
“aku sangat bersyukur ia punya sahabat sekarang. Dulu tak ada seorang pun yang ia miliki untuk dijadikan teman” ucap Jihoon menolehkan wajahnya ke Yunji dengan tatapan sedih.
Ada apa dengan Jihoon? Skandal Yoa yang Jihoon ucapkan masih abu – abu. Yunji sangat ingin tahu. Tetapi, karena Jihoon terdiam tak melanjutkan ucapannya. Yunji pun ikut diam. Yunji dapat merasakan apa yang Jihoon rasakan.
#bersambung