
“fiuuuh akhirnya tugas kelar. Tugas sudah berhasil dikirim lewat e-mail. Semoga tugas aku sampai tepat waktu ke Bu Eunbi. Aaaamiiin”
Yunji berjalan dalam lorong kampusnya dengan gembira. Ia punya niat untuk memaafkan Jisoo dan meminta maaf kepadanya. Ia tidak ingin kejadian memalukan ini terulang lagi dan bikin salah paham orang sekitar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian…
Yunji melihat Jisoo yang sedang mengobrol bersama temannya di depan loker. Ketika ingin menghampiri. Tiba – tiba saja,
……………………………………………………….
“oh jadi begitu ceritanya, aku kira kau nyakitin cewe bro. Jisoo yang aku kenal, berani nyakitin cewe”ucap teman Jisoo sambil menyenderkan punggung di loker.
“iya, dia salah paham dengan maksud aku. Padahal niat aku ngomong gitu, bukan buat dia marah” ucap jisoo.
“tapi, kau ngerasa gak sih? Bahwa tuh anak pindahan, anaknya baperan” balas temannya sambil melemparkan pertanyaan.
“iya sih, sepertinya” balas jisoo.
“aku kira anak pindahan dari beasiswa itu, anaknya baik – baik dan pendiam. Ternyata baperan. Aku gak suka sama perempuan yang sifatnya seperti itu. Lebay!”Ucap temannya yang berpendapat bahwa ia lelaki yang tak suka perempuan baperan.
“Aku juga gak suka sama perempuan baperan” balas jisoo sambil melihat kebawah.
“kalau diriku jadi kau wahai jisoo - ya, aku nyesel banget dapat kelompok yang anggota nya seperti Yunji. Salah siapa, yang disalahin orang. Perempuan egois” ucap temannya bicara tanpa berpikir panjang.
………………………………………………………….
.
.
.
.
.
.
.
*degh
Yunji yang hampir mengeluarkan air matanya itu karena mendengar Kalimat pembicaraan mereka. Dengan tekad kuat, menghampiri dan bergabung pembicaraan mereka berdua. Omongan mereka, bagai Panah yang menusuk dari belakang.
.
.
Terlihat dari raut wajah mereka kaget akan kehadiran Yunji yang datang tiba – tiba.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Jisoo-ya. (membungkuk) Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tau, aku yang salah. maafin aku ya, sudah bikin malu”
“kamu temannya jisoo ya? Keren. Akan ku ingat wajahmu”
Yunji berbicara dengan jisoo. Setelah jisoo, ia mengajak bicara temannya. Dengan Ancaman, Yunji menunjuk ke arah wajah temannya sambil berkata akan ia ingat wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka terdiam. Yunji langsung menunduk untuk meminta izin bahwa ia ingin pergi ke kelas. Jisoo masih syok. Apa dia dengar pembicaraannya tadi?
…………………………………………………
( Pembicaraan ketika Yunji jalan menghampiri mereka, tetapi Yunji tidak mendengar mereka)
“Aku gak nyesel kok, satu anggota sama dia”
ucap Jisoo tersenyum.
“ eh, kenapa?” tanya temannya.
“kan kamu tau, bertahun – tahun aku nunggu jawaban dari dia. Mungkin saja dengan kita dekat, dia bisa nerima kehadiran diriku” balas Jisoo sambil tersenyum senang.
“semangat bro, akan ku dukung” balas temannya.
……………………………………………………..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Coba saja tadi Aku gak mendengar pembicaraan mereka. Makin nangis kan. Air mataku kenapa tidak berhenti keluar sih?
Baru kali ini, aku dapat penolakkan untuk kedua kalinya.
........
“Aku juga gak suka sama perempuan baperan”
.
“kalau aku jadi kau wahai jisoo-ya, aku bakal nyesel banget dapat kelompok yang anggota nya seperti Yunji. Salah siapa, yang disalahin orang. Perempuan egois”
.........
.
.
.
.
.
.
.
Yunji mulai teringat dengan perkataan Jisoo dan temannya. Membuat ia memegang kepalanya.
Oke, mulai sekarang lupain itu semua. Lupain bahwa Aku dulu suka sama dia. Lupain bahwa kita satu kelompok. Lupain semuanya. Aku harus coba dari sekarang, Hilangkan lah flashback. Jadilah perempuan mahal, yunji. Kau pasti bisa!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selepas Bel Istirahat. Yunji menyempatkan diri untuk makan. Sehabis makan, langsung ke perpustakaan. Dengan tersenyum, Yunji menyadari bahwa ia sudah menjadi wanita yang baik. Wanita yang tidak membutuhkan pria dalam hdiupnya. Wanita yang ingin cari aman dalam hidup.
.
Selepas masuk perpustakaan…
Yunji mengambil buku Ilmuan. Entah kerasukan jin apa yang bisa membuat Yunji penasaran dengan kedokteran. Padahal ia jurusan Manajemen Keuangan/Akuntansi. Selepas mengambil,
“huaaa”
“sssst jangan berisik” ucap jihoon yang tiba tiba wajahnya muncul dari sela - sela rak buku serta mengagetkan Yunji.
“kamu, ngapain kesini?”
“aisssh jangan berisik” ucapnya yang serius mencari buku di berbagai rak buku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ketika sampai di kelas….
.
.
.
.
.
“Yunji – ya” teriak jisoo.
Jisoo memanggil dirinya dan menghampiri Yunji yang sedang membawa buku. dengan perasaan bersalah, Jisoo langsung mendekati wajahnya untuk meminta maaf.
.
Dengan gesit, Yunji menghindar dan langsung menaruh buku pinjamannya ke dalam Tas. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
“Aku minta maaf ya” ucap jisoo.
“minta maaf? Minta maaf soal apa?”
.
.
.
.
.
.
“ soal Tadi “ ucap jisoo menunduk ke bawah.
“ tadi? Tadi apa? aku gak ingat. Emangnya ada apa ya?”
“hah? kamu gak dengar pembicaraan Aku dengan teman ku tadi?” tanya jisoo dengan wajah heran.
“pembicaraan? Bicara apa? Wah jangan – jangan kalian ngomongin aku ya”
“eh enggak” ucap jisoo.
“terus kenapa?”
“nggak jadi deh. Pokoknya aku minta maaf ya. Sekalian soal yang kemarin” ucap jisoo sambil memasang wajah bersyukur.
“oh iya tidak apa – apa. Lagian kan tadi aku udah minta maaf duluan”
“cieeeee” teriak temennya jisoo.
“apa sih?” ucap jisoo menepuk pundak temannya.
“kalian sudah maaf – maafan nih? Bisa dong” ucap Temannya Jisoo sambil mengkode Uang Pajak Jadian.
“apaan sih?” ucap jisoo memberantakki rambut temannya.
.
.
.
.
“hmm kalau gitu aku keluar sebentar ya, gak ada yang ingin dibicarakan lagi kan?”
( diam )
“enggak ada kok, Yunji. Pergilah, Biar Aku jagain Jisoonya agar tidak nguntit” ucap temannya meledek.
“apaan? Emangnya gue stalker?” ucap jisoo dengan suara kecil.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunji keluar dengan wajah murung. Biarpun ia masih tidak iklas dengan permintaan maafnya Jisoo. Tapi, dengan terpaksa memasang ekspresi pura – pura tidak mendengar. Yunji tau bahwa ia yang salah. seharusnya Yunji tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bel Kampus yang menandakan Selesai pun dibunyikan. Kurumunan orang – orang memenuhi pintu depan kampus. Ada yang berpengan tangan, sibuk bermain hp, sibuk membaca novel, dan bahkan ada yang murung.
.
.
Biasanya Yunji setelah bel berbunyi, Hati Riang Gembira pun terjadi. Yunji tersenyum kepada Awan serta Cahaya Matahari. TIba – Tiba saja, Handphone Yunji berbunyi.
………………………………………….
Ayah : - maaf nak, hari ini ayah gak bisa jemput kamu. Soalnya teman ayah minta dijemput dari bandara
Me : - ok
…………………………………………
Lagi senang, bisa – bisanya ada rintangan. Apakah disini ada taksi? Ah jangan, lebih baik aku naik Bus kota gratis. Kemungkinan diriku harus menunggu lama. tapi, Ya sudah lah….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
8 menit kemudian…..
Bus yang ditunggu Yunji akhirnya sampai. Cahaya matahari yang awalnya dianggap sebagai pembawa berkah, berujung pencipta keringat. Badan Yunji basah penuh dengan keringat. Berkali – kali ia mencium bau badannya. Ia malu jika banyak penumpang, keringatnya akan menganggu pernapasan mereka. Yunji mengeluarkan Farfum Vitalis Rose ( Bukan Endorse ).
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunji pun masuk ke Bus dan duduk pada bagian tengah. Ia tidak suka depan maupun belakang. Bus tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang. Ia pun langsung memangku wajahnya melihat pemandangan dari balik Jendela.
“permisi, saya duduk disini ya” ucap seseorang.
Yunji kaget dan segera melihat siapa orang yang duduk dengannya itu. Tidak disangka….
“kamu?”
“iya, kenapa?” tanya Jihoon.
Yunji tidak menjawab pertanyaan dan kembali melihat pemandangan dari jendela.
“perkenalkan nama ku Jihoon. Bisa panggil Jihoon - Sunbaenim. Karena aku lebih tua 2 tahun dari kamu” ucapnya.
“(melirik) salam kenal. Saya sudah mengetahui nama anda.
” Jangan kaku dong, biasa aja ngomong sama senior ha ha ha" ucap Jihoon sambil tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunji menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Senior nya Jihoon Sunbaenim. Pertanyaannya tidak terlalu penting. Hanya pertanyaan yang biasanya pria dan wanita lakukan apabila pertama bertemu.
.
.
Yunji merasa ia adalah stalker yang menyukainya. Yunji berasa ingin pindah tempat duduk. Tetapi, karena tidak enak hati, dengan terpaksa ia berpura – pura nyaman.
“maaf untuk para penumpang. Karena ada perbaikan jalan, jadi bus ini akan putar balik. Kemungkinan akan butuh waktu yang lama. Mohon bersabar. Untuk penumpang , dimohon duduk berdua. Nanti apabila kalian tidur, kalian minta bantuan dengan orang disamping kalian. Terima kasih sudah memahami” ucap Supir Bus Memberi Info di Speaker Bus agar diketahui para penumpang.
“Kamu turun dimana?” tanya Jihoon.
“iya? Masih jauh sih”
“ya sudah Aku tidur dulu ya, nanti bangunin kalau tujuannya sudah sampai Busan Selatan. Ok” ucapnya dan langsung menutup mata menyederkan lehernya ke sandaran bangku.
*Aku belum bilang setuju lho
*udah tidur aja!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
12 menit kemudian….
“nggh sudah sampai mana ya?” ucap jihoon membuka matanya.
JIhoon pun kaget melihat Yunji yang tertidur di pundaknya. Dengan senyuman, ia melindungi kepala Yunji dari benturan dinding Bus. Yunji masih tertidur lelap. Ia tidak menyadari bahwa lelahnya dapat membuat Perasaan seseorang berubah.
.
.
Hati Jihoon terus berdegup kencang. Padahal niatnya ingin dekat dengan Yunji, Bukan untuk menjadikannya Wanita idaman.
#bersambung