
Terdengar suara kicauan burung gereja berterbangan di atas atap Rumah Yunji. Suara anak kecil yang sedang bermain membuat ramai suasana disana.
.
Yunji membuka jendela agar angin pagi masuk memenuhi ruangan kamarnya. Yunji bermain Handphone untuk menghilangkan kejenuhannya.
.
Musim semi pun datang. Liburan Yunji masih panjang walaupun masih 5 hari lagi. Sudah 1 jam lebih Yunji bermain dengan Handphone nya. Beragam – ragam Aplikasi ia buka, tetapi tetap saja Yunji bosan.
.
Puluhan dari ratusan temannya merekomendasikan Yunji untuk membuat Channel Youtube selama ia di Korea Selatan. Tetapi Yunji menghiraukan rekomendasi itu karena tidak tertarik.
.
Menurutnya membuat Channel Youtube dan menampilkan wajah nya di depan publik, adalah membongkar privasi. Yunji sangat jarang memotret dirinya layak Ulzzang, kecuali memotret pemandangan sekitar.
“hufft daritadi gak ada yang seru di Instagram. Buka Naver Webtoon juga sama. Apa aku bantu mama saja ya?”
Yunji menghampiri mamanya yang ada di dapur. Tetapi Mamanya tidak ada disana. Mencari – cari ke semua tempat, Yunji belum bertemu Mamanya.
“mama ! mama dimana?”
(......)
“lah kok hening? Mama dimana ya?”
“ya ampun lupa, kan mama jaga warung. Aigoo”
Yunji langsung menghampiri warung tempat Mamanya berjualan. Tak berselang lama, benar saja ada kehadiran Mamanya Yunji disitu.
“mama, mau aku bantu?”
“ok, cepat bantu mama sekarang” ucap Mama Yunji sambil membungkus Lauk pesanan tetangga.
Hari ini lumayan terbilang ramai dagangan Mamaku. Aku sangat senang sekali ketika melayani. Tetangga disini pada murah hati, mereka tidak sombong sama sekali.
Walaupun ada satu keluarga bangsawan di daerah kami, tetapi kami bersatu layaknya sebuah keluarga. Mungkin saja Ibu - Ibu Rumpian tetap ada, karena Mamaku lah salah satu anggotanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Satu setengah jam kemudian...
“fiuuuh akhirnya selesai juga” ucap Mama ku mengelap keringatnya sambil menghitung uang.
“syukurlah ma, kita laris manis”
“oh ya mama lupa, teman mu tadi kesini, dia minta tolong mama kasih tau ke kamu” ucap Mama.
“tolong apa?”
“itu apa ya.... eh lupa ha ha ha” ucap Mama ku sambil tertawa.
“hmm”
“oh ya baru ingat, tadi teman cowo kamu kesini mau ajak kamu ke Gedung JYB Entertenet” ucap Mama ku dengan wajah kebingungan.
“JYB entertenet?”
“iya” balasnya.
“hadeeeh JYB Enterteiment kali ma... aku kira apa”
“ya pokoknya itu lah. Mama mana ngerti gitu – gituan sih” ucap Mama ku tidak ada rasa bersalah.
“teman cowo? JYB Enterteiment? Siapa? Ngapain dia ajak aku kesana? Oh ya ma, mama ingat gak warna rambutnya teman ku itu apa?”
“yaaah mama mana ingat, kau kira aku melayani 1 pelanggan. Waktu itu lagi banyak pelanggan, tiba – tiba aja dia nitip pesan kepadaku” ucap mama ku dengan percaya diri.
“oh gitu ya ma, terima kasih ma”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesampai di JYB Enterteiment...
Akhirnya dengan kemauan yang tekad dan segala persiapan, aku berangkat untuk pergi ke gedung JYB Enterteiment.
Aku mengerti, Gedung ini adalah agensi yang dimana mendebutkan para aktor, aktris, penyanyi, dan pelawak. Setau aku sih seperti itu. Tetapi, kenapa teman ku memintaku untuk pergi kesini?
“Yunji ya!”
Terdengar suara teriakan seorang lelaki memanggilku. Aku menoleh kiri dan kanan, mencari tau siapa dia. Mataku berbinar terang, ketika tahu siapa yang mengajakku kesini.
“Taehyung?”
“ wuuh, kau cepat sekali mengenal wajah ketampanan ku” ucap Taehyung merperbaiki rambutnya.
“ngapain kamu disini? Jangan bilang, kamu yang mengajakku ke sini?”
“yaps betul sekali, 100 untuk kamu. Oh ya bukan Cuma aku doang kok yang ngajak” balas Taehyung.
“ siapa? “
“tuh, Hyebin ya!” teriak Taehyung memanggil seseorang.
.
.
.
Hyebin tak lama kemudian datang membawa Yogurt Pisang kesukaannya. Hyebin menatap Taehyung menanyakan apa yang terjadi? Taehyung mengkode bahwa Yunji tak memahami ajakan Taehyung.
“hyebin? Mengapa kau mengajakku kesini?”
“hmm gimana ya? Lebih tepatnya ada kabar baik untukmu. Makanya aku Mengajak mu” ucap Hyebin sambil membenarkan mantelnya.
“yaps, Aku........... lolos Audisi Yunji – ya wuhuuuuu” ucap Hyebin teriak keriangan.
“audisi? Tunggu tunggu. Hyebin , maksudmu audisi itu apa? Audisi Idol? Tapi kamu kan...”
“enggak, enggak apa – apa. Lebih tepatnya, aku enggak apa – apa Yunji-ya. Jadinya jangan khawatir denganku” ucap Hyebin memegang pundak Yunji.
“bagaimana tidak khawatir, tiba – tiba saja kau...”
“Yunji, aku sudah menemukan jati diriku sebenarnya. Aku merasa, aku sudah tau apa yang terbaik untukku” ucap Hyebin meyakinkan.
“tapi.... kalau yang terbaik buatmu malah sebaliknya?”
Hyebin tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Yunji. Yunji mencoba meyakinkan dirinya untuk percaya, tetapi berbeda keyakinan membuatnya khawatir dengan sahabatnya. Yunji berusaha tersenyum, menyetujui keputusan Hyebin jika itu yang terbaik untuknya.
.
Selesai Hyebin berbicara dengan Yunji, hyebin dipanggil oleh salah satu staf disana. Hyebin dengan ceria, langsung masuk ke dalam audisi dan menyapa Yunji dan Taehyung terakhir kalinya. Yunji melambaikan tangan perpisahan kepadanya.
“huffft pertemuan yang sangat dramatis” ucap Taehyung sambil memainkan Handphonenya.
“saya pulang dulu”
“Yunji, tunggu” ucap Taehyung memegang salah satu tangan Yunji untuk menahannya.
“apa?”
“kau masih mau menemui Hyebin lagi kan? Mungkin Dia hanya sebentar di dalam, jadi ya kau tunggu saja. Apa kau tidak tertarik untuk masuk ke dalam?” tanya Taehyung.
“hmm tidak tertarik. Sama sekali tidak tertarik. Maafkan saya, saya harus pulang”
Yunji memaksa lepas Tangan Taehyung dari dirinya. Segera ia pun pergi tanpa memandang mata Taehyung sedikitpun.
Apaan sih nih anak? Rasa sedih ku hampir menguap, tiba – tiba saja Taehyung merusak suasana. Dari dulu aku memang tidak suka dengan sifatnya. Diskriminasi yang ia lakukan kepadaku, masih teringat dalam benakku. Andai saja dia merasakan apa yang ku rasakan.
Ketika Yunji sudah lumayan terbilang jauh dan mau menyebrang, meninggalkan Taehyung di depan JYB Enterteiment. Jiwa kejantanan dan kesadaran Taehyung bangkit, ia pun mengejar Yunji.
“Yunji – ya, tunggu dulu” ucap Taehyung mengejar.
Yunji berjalan makin cepat dan berlari agar dirinya tidak ditangkap Taehyung. Kepanikan dan kesedihan bercampur aduk di dala Tubuh Yunji.
.
.
.
.
.
.
.
"Maafkan Aku"
.
.
.
.
.
.
.
“Maafkan aku, Yunji -ya” ucap Taehyung yang berhasil menangkap Tangan Yunji yang sedang terengah – engah.
.
.
.
Maafkan aku
.
.
.
Mengapa Kalimat itu disebutkan lagi? sudah Puluhan kali aku mendengarnya. Semakin Muak saja mendengarnya.
.
.
.
Yunji tidak berkutik sama sekali. Ia pasrah tangannya di genggam. Saking canggungnya suasana itu, mereka berdua hampir tidak berpindah tempat.
“Aku merasakan, bahwa kau terus menjauhiku. Pasti ada alasan lain, mengapa kau menjauhi ku. Jangan berbicara Formal padaku” ucap taehyung.
Yunji masih terengah – engah dengan nafasnya dan mulai menyadarkan diri.
“jangan bilang kau masih ingat....... ketika aku membandingkan pribumi Seoul dan Pribumi Asia tenggara? Aku sering mengejekmu ketika kelas 8. Aku merasa bersalah, seharusnya aku yang masih remaja itu perhatian terhadap psikis orang lain. Aku tidak tau, bahwa kau juga tersakiti karena kebodohanku” ucap Taehyung yang sangat panjang mencairkan suasana.
“Woi jangan di tengah jalan dong!”
.
.
.
Tiba – tiba saja suasana nya menjadi dingin seperti Es, karena keramaian dan orang – orang agresif. Yunji menarik lengan Taehyung, untuk menyingkirkan mereka berdua dari keramaian.
“seharusnya kita jangan disini, disini ramai”
“terus, kita mau kemana?” tanya Taehyung.
“ikuti aku, dan jangan banyak bicara”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#bersambung